Documents

4 pages
324 views

Tugas Rehab Case

of 4
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
mm
Transcript
   Nikodemus S.P.L. Tobing 04084821618173 24 Juli - 9 Agustus 2017 Dr. Yenny PR UJIAN CASE 1.   Apakah penggunaan knee brace  pada pasien ini dapat mengembalikan deformitas  pada genu pasien OA? Tidak bisa, penggunaan knee brace  pada pasien OA dengan deformitas, bertujuan untuk memberikan stabilitas pada pasien. 2.   Apakah penggunaan knee brace  pada pasien usia 20 tahun yang mengalami deformitas genu varus, dapat memperbaiki deformitas tersebut? Tidak bisa, karena pada usia 20 tahun, proses pertumbuhan tulang sudah berhenti sehingga tidak bisa lagi dikembalikan ke bentuk anatomis awal. 3.   Apakah yang dimaksud dengan latihan isotonik dan isometrik? Kelemahan otot, terutama otot quadrisep, telah diketahui sangat berhubungan dengan OA lutut. Kelemahan quadrisep pada OA lutut disebabkan oleh inhibisi neuromuskuler karena nyeri dan efusi, dan disuse atrophy karena inaktivitas. Penelitian menunjukkan bahwa kelemahan otot quadrisep juga bisa terjadi sebelum OA dan menjadi faktor risiko OA lutut. Oleh karena itu, penguatan ototquadrisep menjadi fokus latihan penguatan pasien OA lutut Latihan penguatan (strengthening exercise) dibagi menjadi tiga jenis latihan utama, yaitu: 1.   Isometrik/ static exercise/ static contraction Latihan penguatan dimulai dengan latihan penguatan isometrik ( brief isometric exercise) karena tidak melibatkan gerakan sendi dan tidak memperberat gejala OA lutut. Sendi lutut diposisikan pada posisi nyaman (biasanya posisi ekstensi) kemudian otot quadrisep dikontraksikan maksimal selama minimal 6 detik, minimal 2 kali sehari. Sambil melakukan kontraksi otot pasien diminta menghitung dengan suara keras untuk menghindari manuver Valsava. Penggunaan elastic belt atau rubber loop yang terbuat dari tire inner tube (ban dalam) merupakan cara praktis untuk mendapat feedback  proprioseptif saat otot berkontraksi isometrik melawan tahanan. Kontraksi isometrik harus ditahan minimal 6 detik untuk memungkinkan tercapainya puncak tegangan otot dan perubahan metabolik di otot, dan tidak   boleh lebih dari 10 detik karena akan menyebabkan otot cepat kelelahan/ fatigue. Latihan quadricep setting adalah contoh latihan penguatan isometrik otot quadrisep dengan fokus pada kontraksi vastus medialis oblique. Latihan dilakukan dengan posisi supine atau duduk, lutut posisi ekstensi, pergelangan kaki dorsifleksi. Pasien diberi perintah ”tekan lutut  Anda ke bawah, dan kencangkan otot paha”.  Kontraksi ditahan selama 10 detik, istirahat beberapa detik, dan kemudian kontraksi lagi. Latihan dilakukan 8-12 kali repetisi, diulang beberapa kali sehari. Jika pasien merasa kurang nyaman, bisa ditambahkan gulungan handuk di bawah lutut. Latihan straight leg rising (SLR) adalah latihan penguatan isometrik otot quadrisep dengan fokus pada otot rectus femoris. Latihan ini juga melibatkan kontraksi dinamik otot fleksor panggul. Posisi pasien supine dengan lutut ekstensi. Untuk menstabilkan pelvis dan punggung bawah, panggul, dan lutut kontralateral diposisikan fleksi, tungkai diletakkan netral di alas latihan. Pasien diperintahkan untuk mengkontraksikan quadrisep, kemudian tungkai diangkat sekitar 45 0  fleksi panggul sambil lutut tetap ekstensi. Tungkai ditahan pada posisi tersebut selama 10 hitungan kemudian tungkai diturunkan. Sesuai kemampuan, tungkai bisa diturunkan 30 0  atau 15 0  fleksi panggul untuk menambahbeban pada quadrisep, atau dengan menambahkan beban di  pergelangan kaki. Untuk menghindari cedera otot, berikan tahanan secara bertahap, serta kontraksi otot secara bertahap pula. Hal ini membantu peningkatan tegangan/ tension otot secara bertahap, menjamin kontraksi otot yang bebas nyeri, dan menghindari risiko gerakan sendi tidak terkontrol. Menahan napas (manuver Valsava) sering terjadi saat melakukan latihan isometrik. Hal ini harus dihindari karena bisa meningkatkan tekanan darah dengan cepat.Rhythmic  breathing dengan penekanan  pada ekspirasi saat melakukan kontraksi otot, harus dilakukan saat melakukan latihan isometrik untuk mengurangi risiko tersebut. Latihan isometrik intensitas tinggi merupakan kontraindikasi bagi penderita gangguan  jantung dan vaskular    2.   Isotonik/ dynamic contraction Latihan isotonik merupakan salah satu latihan yang bersifat dinamik. Latihan ini mempunyai prinsip kontraksi isotonik, yakni otot bekerja mengalami pemendekan. Latihan kontraksi isotonik dapat dilakukan melalui latihan beban dalam, yaitu beban tubuh sendiri, ataupun melalui beban luar seperti mengangkat barbel atau menggunakan alat/mesin latihan kekuatan dan sejenisnya. Isotonik diartikan sebagai pola kontraksi dengan tonus tetap, sebaliknya panjang ukuran otot yang berubah/memendek. Kontraksi isotonik  juga disebut kontraksi otot konsentris atau dinamis. Metode latihan seperti metode ekstensi dan fleksi pada lutut yang sakit dengan dibantu tenaga medis, fleksikan perlahan lutut, lalu ekstensikan;  berikan media penyangga kursi untuk membuat posisi kaki senyaman mungkin. Dalam hal ini tonus tetap, namun panjang otot berubah. Biasanya latihan ini digunakan untuk menangani Progressive resistance exercise (PRE) adalah latihan penguatan isotonik dinamik dengan beban ditingkatkan bertahap. Latihan penguatan dengan PRE lebih baik untuk menjaga dan meningkatkan fungsi otot, mengurangi nyeri sendi, dan meningkatkan fungsi pasien OA lutut. Salah satu metode PRE adalah metode DeLorme-Watkins yang terdiri dari serial kontraksi otot dengan beban meningkat, sehingga pada akhir latihan otot mengangkat beban maksimal. Latihan ini bisa dilakukan dengan NK table/ quadriceps bench dengan beberapa langkah berikut:    Tentukan beban maksimal 10 kali repetisi (10 repetition maximal resistance/ 10 RM) yaitu beban maksimal yang bisa diangkat oleh otot 10 kali pada luas gerak sendi penuh.    Pasien kemudian diminta melakukan latihan: 10 kali repetisi dengan  beban ½ dari 10 RM, 10 kali repetisi dengan beban ¾ dari 10 RM, 10 kali repetisi dengan beban 10 RM penuh    Pasien beristirahat sebentar (5 menit) di antara seri latihan    Pada prosedur ini sudah termasuk latihan pemanasan karena awalnya  pasien mengangkat beban hanya ½ dan ¾ RM     Nilai 10 RM ditingkatkan setiap minggu sesuai dengan peningkatan kekuatan otot. Wall slides adalah salah satu latihan penguatan closed kinetic chain untuk otot quadrisep. Caranya, penderita berdiri bersandar pada dinding dengan jarak antara kaki dan dinding sekitar 1 kaki (32 cm), kemudian  punggung digeser ke bawah sampai lutut fleksi sekitar 200-300. Jika ditambah kontraksi quadrisep medial dengan menjepit bola di antara kedua lutut maka penguatan terutama ditujukan untuk otot vastus medialis.  Kontraksi ditahan selama 10 detik, kemudian penderita menaikkan kembali  badannya. Latihan diulang 8-12 kali dengan istirahat di antara kontraksi. Otot vastus medialis merupakan otot yang paling sering mengalami kelemahan di antara kelompok otot quadrisep dan bisa menyebabkan gerakan patella tidak normal.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks