Documents

26 pages
127 views

SI BLOCK 1

of 26
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
etika pada kadaver
Transcript
  2.3.1   Proses Perubahan Sosial Budaya Menurut Demartoto (2007), dalam proses perubahan sosial, ada beberapa tahapan perubahan sosial yang potensial terjadi di masyarakat antara lain sehagai berikut. a.   Difusi Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dan individu kepada individu lain serta dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Ada dua jenis difusi, yaitu difusi intra-masyarakat ( intro-society diffusion ) dan difusi antarmasyarakat ( inter-society diffusion ).  b.   Inovasi Inovasi adalah proses pembaruan dan pengunaan sumber-sumber alam, energi dan modal, serta penataan kembali dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru sehingga terbentuk suatu sistem produksi dari produk-produk baru. c.   Akulturasi Proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dihadapkan dengan unsur-unsur suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur asing itu lambat laun diterima dan diolah dalam kebudayaan itu sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. d.   Asimilasi Asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar  belakang kebudayaan yang berbeda setelah mereka bergaul secara intensif sehingga sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan golongan-golongan itu masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran. 2.6   Faktor Internal yang Memengaruhi Individu dalam Mencari Pelayanan Kesehatan 2.6.1   Psikologis a.   Motivation   John R. Schemerhorn, et.al.   mendefinisikan motivasi sebagai “mengacu pada pendorong di dalam diri individu yang berpengaruh atas tingkat, arah, dan gigihnya upaya seseorang dalam tindakannya.” Motivasi mengacu pada keadaan dalam diri yang menyebabkan orang untuk  berperilaku untuk memeniuhi kebutuhannya. Hal ini terjadi ketika individu sadar bahwa mereka harus memenuhi kebutuhannya. Ketika seorang individu termotivasi, hal ini mendorong individu untuk terlibat dalam aktivitas yang relevan untuk mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan. Semakin termotivasi konsumen, semakin besar kemungkinan mereka untuk menjadi sangat terlibat dengan produk, layanan atau merek. Meningkatnya keterlibatan suatu individu menjadi memungkinkan individu tersebut mencurahkan perhatian yang lebih besar untuk mencari informasi tentang produk atau layanan. Hai ini berdampak beberapa individu menunjukkan kesetiaan yang teguh terhadap satu produk (misalnya obat atau pelayanan kesehatan tertentu) dibandingkan dengan orang lain. Namun, tidak semua orang akan melekat pada produk spesifik pada tingkat yang sama. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi motivasi, termasuk relevansi pribadi, risiko yang dirasakan dan nilai-nilai pribadi individu. Menurut Potter dan Perry (2005) bahwa tidak ada terapi yang akan memberikan dampak kecuali orang tersebut dimotivasi oleh keyakinan bahwa kesehatan adalah yang utama.    b.    Perception Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seorang individu memilih, mengatur dan menafsirkan rangsangan atau informasi sensoris guna memeberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan sekitar mereka (Noel. H, 2009). Dalam proses persepsi, stimulus dapat datang dari luar diri individu, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan. Karena dalam persepsi itu merupakan aktivitas yang integrated, maka seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka 10 acuan, dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi tersebut (Bimo Walgito, 2002). Berdasarkan atas hal tersebut, dapat dikemukakan bahwa persepsi itu sekalipun stimulusnya sama, tetapi karena pengalaman tidak sama, kemampuan berpikir tidak sama, kerangka acuan tidak sama, adanya kemungkinan hasil persepsi antara individu satu dengan yang lain tidak sama. Riset tentang  persepsi secara konsisten juga menunjukkan bahwa individu yang berbeda dapat melihat hal yang sama tetapi memahaminya secara berbeda (Stephen P.Robbins, 2002). Dalam mencari pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh persepsi seorang individu terhadap sehat dan sakit. persepsi masyarakat terhadap sehat-sakit sangat berbeda pada setiap individu, kelompok dan masyarakat. Persepsi masyarakat terhadap sehat-sakit erat hubungannya dengan  perilaku pencarian pengobatan. Apabila persepsi sehat-sakit masyarakat belum sama dengan konsep sehat-sakit, maka jelas masyarakat belum tentu atau tidak mau menggunakan fasilitas atau  pelayanan kesehatan yang diberikan( Notoatmodjo,2007). c.    Attitude Sikap tidak selalu memprediksi perilaku. Misalnya, banyak masyarakat yang mungkin memiliki sikap positif terhadap pelayanan kesehatan yang ada saat ini, namun sikap positif ini mungkin tidak selalu menjadikan mereka mau untuk melakukan pemeriksaan di layanan kesehatan yang tersedia. Selain itu, sikap suatu individu atau masyarakat dapat berubah dari waktu ke waktu karena mereka mendapatkan tambahan informasi. Contohnya dalam penelitian tentang  Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Masyarakat Tentang Penyakit Tuberkulosis(Tb)Paru,  di Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat di yang dilakukan  pada tahun 2011. Sebagian masyarakat di kecamatan Sungai Tarab kurang peduli dengan gejala yang dialaminya dengan membiarkan batuk yang lebih dari tiga minggu dan tidak menganggap hal tersebut sebagai penyakit yang serius, sehingga tidak segera mencari upaya pengobatan. Dalam hal ini biasanya mereka hanya dengan meminum obat yang dibeli di warung, dan jika tidak sembuh dan cukup parah barulah mereka akan mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan atau pengobat tradisional. Sikap keluarga dan masyarakat sekitar tentang penyakit TB Paru, menurut sebagian penderita biasa-biasa saja, di mana dalam pergaulan sehari-hari baik bertetangga maupun pergaulan dengan teman sebaya tetap menunjukkan hal yang wajar. Namun demikian, ada sebagian keluarga penderita yang melakukan pemisahan pemakaian alat-alat untuk makan dan minum. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat/ pergaulan penderita ada juga yang berupaya menghindari penderita untuk berkomunikasi.  Problem recognitionInformation search Judgment Decision makingPost-decision processes   b.    Knowledge Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya) (Notoatmodjo, 2010). Ketika individu membuat keputusan, mereka biasanya memanfaatkan informasi yang sudah disimpan dalam memori mereka. Informasi ini cenderung terstruktur dan terorganisir menggunakan asosiasi antara berbagai potongan informasi. keterkaitan ini memungkinkan konsumen untuk mengingat informasi dari pengetahuan yang dimiliki. Cara di mana pengetahuan ini dikodekan, terorganisir dan disimpan memiliki dampak langsung pada pengambilan keputusan individu. Pengetahuan umumnya terdiri dari asosiasi kita ke objek yang berbeda, asosiasi ini memiliki karakteristik tertentu. Mereka bisa menjadi menonjol, unik, atau menguntungkan / tidak menguntungkan (Noel. H, 2009). Faktor pengetahuan merupakan salah satu faktor terpenting dalam individu atau masyarakat mencari pelayanan kesehatan. Semakin banyak pengetahuan individu maka dalam mencari pelayanan kesehatan mereka akan mencari secara optimal pelayanan kesehatan yang terbaik contohnya dengan mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga kesehatan swasta, yang dikategorikan kedalam balai pengobatan, Puskesmas, dan Rumah Sakit.Mencari pengobatan kefasilitas pengobatan modern yang diselenggarakan oleh dokter praktek (  private medicine ). (Notoatmodjo, 2007) 2.6.2   Individu Sebagai Pembuat Keputusan Menurut Noel (2009), pengambilan keputusan individu dalam pandangan tradisional pengambilan keputusan individu merupakan pengambil keputusan yang rasional. Pada dasarnya pandangan ini menyatakan bahwa individu akan mencari informasi tentang keputusan potensial atau keputusan yang mungkin dan berhati-hati dalam menggabungkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki tentang suatu  produk atau jasa. Mereka kemudian akan mempertimbangkan pro dan kontra dari masing-masing alternatif dan kemudian membuat keputusan. Kelima tahapan dalam proses ini telah digambarkan sebagai  berikut :  proses pengambilan keputusan ini sangat valid dan terjadi setiap hari. Dalam mengambil keputusan untuk mencari pelayanan kesehatan seorang individu akan mengenali masalah yang terjadi pada dirinya contohnya ketika sesorang wanita mengalami suatu gejala muntah dan mual, dia akan mengidentifikasi apa yang terjadi pada dirinya kemudian mencari informasi tentang gejala yang dia rasakan itu menuju  pada penyakit apa. Setelah masalah telah diidentifikasi dan pencarian informasi yang diinginkan telah selesai, individu harus mengevaluasi alternatif dan membuat keputusan berdasarkan pada pilihan yang Bagan 1. The decision-making process  Sumber : Consumer Behaviour E-book, 2009  mungkin, jadi dari hasil pencarian informasi yang telah dilakukan wanita tersebut menilai bahwa dirinya hamil, selanjutnya dia akan mengambil keputusan untuk mencari pelayanan kesahatan misalnya wanita tersebut memutuskan pergi ke dokter kandungan, setelah menjalani pengobatan dia akan mengevaluasi  bagaimana pelayanan yang diberikan yang diberikan oleh dokter tersebut. 2.7   Faktor Eksternal yang Memengaruhi Individu dalam Mencari Pelayanan Kesehatan Faktor eksternal menunjukkan bagaimana menilai perlu atau tidaknya menggunakan pelayanan kesehatan untuk mengobati sakitnya, serta menunjukkan bahwa individu hidup pada lingkup kehidupan sosial (masyarakat) yang menilai, baik positif atau negatif, terhadap tindakan untuk melawan atau mengobati penyakitnya (Notoatmojo, 2010 dan Glanz, 2008). Ada beberapa faktor yang memengaruhi seseorang untuk dalam mencari pelayanan kesehatan, yaitu sebagai berikut. 2.7.1   Pengaruh Agama dan Etnis Menurut Hayden Noel dalam bukunya yang berjudul Costumer Behavior   dijelaskan bahwa agama memiliki dampak besar pada perilaku serta merupakan seperangkat keyakinandalam menentukan norma-norma perilaku dalam masyarakat. Agama dapat berdampak pada pengambilan keputusan seorang individu maupun kelompok pada berbagai macam hal seperti; makanan yang dikonsumsi, cara  berpakaian, serta aturan-aturan yang mengikat pada kehidupan mereka sehari-hari (Noel, 2009). Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan masyarakat adalah perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Dimana proses terbentuknya perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu dari faktor tersebut adalah sosial budaya dan etnis. Bila faktor tersebut telah tertanam dan terinternalisasi dalam kehidupan dan kegiatan suatu masyaraka maka akan ada kecenderungan untuk dilakukan. Pengaruh sosial budaya dan etnis dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam proses berfikir. (Entjang, Indan, 2000). Keragaman etnis berperan besar dalam memengaruhi pola pikir seseorang untuk bersikap terhadap objek atau stimulus tertentu seperti masalah kesehatan dan pelayanan kesehatan. Dalam suatu kelompok etnis tertentu, pengaruh orang lain dianggap penting, pada umumnya individu cenderung untuk memiliki sikap yang searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Pengaruh etnis, tanpa disadari telah menanamkan garis pengaruh sikap terhadap berbagai masalah salah satunya masalah kesehatan (Entjang, Indan, 2000). Masyarakat mengembangkan kebudayaan, karena manusia merupakan makhluk yang  bertransdensi, suatu kemampuan khas untuk meningkatkan daya dirinya selaku makhluk berakal budi. Sosial budaya dan keragaman etnis sering kali dijadikan petunjuk dan tata cara berperilaku dalam  bermasyarakat, hal ini dapat berdampak positif namun juga dapat berdampak negatif. Disinilah kaitannya dengan kesehatan, ketika suatu tradisi yang telah menjadi warisan turun temurun dalam sebuah masyarakat namun ternyata tradisi tersebut memiliki dampak yang negative bagi derajat kesehatan masyarakatnya. Misalnya cara masyarakat memandang tentang konsep sehat dan sakit, mencari pelayanan
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks