Documents

14 pages
108 views

Print Cepat

of 14
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
m ,
Transcript
   FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PARTISIPASI PETERNAK SAPI PERAH DALAM PENYULUHAN DISUSUN OLEH  NAMA : Hendri Afrizal  NPM : E1C008012 Tugas : Penyuluhaan Peternakan JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU 2013  PENDAHULUAN  Adopsi teknologi peternak sapi perah dalam bidang breeding, feeding dan manajemen di kabupaten Enrekang berada pada kategori rendah dan sedang.Akibatnya, rata-rata produksi susu juga rendah yaitu hanya 5 liter per hari yang jika dikonversi ke dangke (indigenous product dari Enrekang) rata-rata 3-4 biji per hari (Baba, 2008). Padahal ketergantungan peternak pada usaha sapi perah cukup tinggi yang ditandai oleh kontribusi usaha sapi perah terhadap pendapatan total peternak mencapai58,8  –  86,8% tergantung pada skala usaha (Baba, 2007). Jika adopsi teknologi tidak dapat ditingkatkan, maka keberlanjutan produktivitas peternak terancam.Untuk meningkatkan adopsi teknologi, salah satunya adalah melalui peningkatan partisipasi peternak dalam penyuluhan. Partisipasi yang tinggi menyebabkan pelaksanaan penyuluhan berorientasi kepada kebutuhan petani yang memperhatikan keberagaman lokal dan sumber daya yang dimiliki (Mardikanto, 2009). Pelaksanaan program penyuluhan dengan tingkat partisipasi yang tinggi dapat pula mendorong akuntabilitas, efisiensi, dan pemanfaatan biaya yang efektif serta meningkatkan peran kaum termarginalisasi seperti perempuan, petani miskin dan mampu meningkatkan akses sumber daya secara adil dan lebih merata (Ngoc Chi dkk., 2007). Akuntabilitas program penyuluhan tidak hanya di defenisikan sebagai akuntabilitas ke atas (pemberi dana), tetapi juga akuntabilitas keluar (stakeholder lain) dan akuntabilitas ke samping (ke petani sebagai pemangku kedaulatan) (Ife dan Tesoriero, 2008). Keberlanjutan kegiatan dapat lebih terjamin karena masyarakat merasa memiliki kegiatan tersebut dan bertanggung jawab dalam menjaga keberlanjutannya. Ditambahkan oleh Ife dan Tesoriero (2008) bahwa partisipasi juga menyebabkan mobilisasi psikis dan fisik (perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku) petani berjalan dengan cepat karena program yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, prioritas dan kondisi sumber JITP Vol. 1 No.3, Juli 2011195 daya yang dimiliki. Van den Ban dan Hawkins (1999) menambahkan bahwa partisipasi dalam penyuluhan dianjurkan karena petani akan lebih termotivasi untuk bekerja sama serta dimana banyak permasalahan dalam pembangunan pertanian yang membutuhkan keputusan bersama sehingga dibutuhkan partisipasi kelompok dalam pengambilan keputusan kolektif.Partisipasi yang diharapkan dalam pelaksanaan penyuluhan dikemukakan oleh van den Ban dan Hawkins (1999) yaitu partisipasi dalam pengambilan keputusan, pengorganisasian kegiatan penyuluhan oleh kelompok petani dan petani menyediakan informasi yang diperlukan untuk merencanakan program penyuluhan yang efektif. Partisipasi tidak hanya bagaimana petani bisa ikut serta dalam penyuluhan, tetapi partisipasi adalah bagaimana agar mereka dapat turut serta dalam merancang kegiatan penyuluhan dan memiliki kesempatan untuk mempengaruhi keputusan dalam perencanaan dan pelaksanaan penyuluhan. Cohen dan Uphoff (1980) menyatakan bahwa partisipasi yang diharapkan dari masyarakat dalam kegiatan pembangunan termasuk penyuluhan adalah partisipasi dalam pengambilan keputusan pada perencanaan kegiatan, implementasi, memperoleh benefit pembangunan (penyuluhan) dan evaluasi kegiatan. Berdasarkan pentingnya partisipasi peternak dalam penyuluhan, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi partisipasi peternak sapi perah dalam pelaksanaan penyuluhan.Tinjauan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi telah banyak diteliti. Norland (1992) menemukan bahwa petani berpartisipasi dalam penyuluhan karena mereka mempunyai waktu untuk berpartisipasi,memilikimotivasi internal yang kuat, informasi yang disediakan berkualitas dan  secara sosial mereka menikmatinya.Dari aspek perubahan perilaku, seseorang akan berpartisipasi jika mereka mendapatkan pengetahuan tentang program yang dikembangkan dengan efektif dan benar (Wilson, 1997; Dolisca, dkk., 2006; Qiao, dkk., 2009; Blackstock, dkk., 2010). Perspektif transaksional menjelaskan bahwa partisipasi dipengaruhi oleh pertimbangan untung rugi petani dalam berpartisipasi. Untung rugi dapat ditinjau dari aspek manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan maupun asset yang dimiliki (Walters, dkk., 1999; Falconer, 2000;Coggan, dkk., 2010). Bahkan perspektif transaksional telah digunakan sebagai dasar kebijakan di beberapa negara untuk mendorong partisipasi petani dalam kebijakan terkait lingkungan seperti pengelolaan air, best practice dalam pertanian ramah lingkungan dan lebih khusus pertanian organik (Blackstock dkk., 2010; Coggan, dkk.,2010; Christensen, dkk., 2011). Dalam rangka memahami faktor-faktor yang mempengaruhi peternak berpartisipasi dalam penyuluhan, teori yang digunakan adalah teori pendidikan orang dewasa. Menurut Skilbek (2006) orang dewasa akan berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan karena physical factors (contoh; kesempatan berpartisipasi, kecukupan waktu dan kondisi pembelajar), psychological factors (contoh: kepercayaan diri, motivasi untuk belajar), social factors (contoh: dukungan dari keluarga, kelompok, serta pengaturan pembelajaran yang menyenangkan), educational factors (contoh: relevansi materi, tingkat kesukaran dalam tugas pembelajaran, dan kualitas lingkungan pembelajaran). Berdasarkan teori tersebut, faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi peternak dalam penyuluhan dapat diketahui.Dalam penelitian ini, faktor yang mempengaruhi partisipasi dibatasi pada faktor karakteristik peternak dan educational factor yang meliputi persepsi peternak terhadap materi, metode dan kemampuan fungsional penyuluh. Perbedaan karakteristik Baba, dkk.196 menyebabkan perbedaan partisipasi (Wilson, 1997; Atmis dkk., 2009). Demikian halnya educational factor sangat berperanan dalam pendidikan orang dewasa dimana mereka akan berpartisipasi jika materi penyuluhan penting, metode yang digunakan menarik dan kemampuan penyuluh sesuai dengan kebutuhan (Wilson, 1997; Faham, dkk., 2008; Atmis, dkk., 2009).  MATERI DAN METODE Lokasi dan waktu Penelitian ini dilaksanakan di kabupaten Enrekang sebagai pusat pengembangansapi perah di luar pulau Jawa dan di Sulawesi Selatan khususnya. Wilayah penelitian dibagi atas daerah sentra pengembangan sapi perah dan bukan sentra pengembangan. Perbedaan wilayah sentra dapat mempengaruhi karakteristik peternak dan terpaan penyuluhan yang diterima. Daerah sentra meliputi satu kecamatan yaitu kecamatan Cendana, sedangkan daerah bukan sentra meliputi 4 (empat) kecamatan yaitu Anggeraja, Enrekang, Alla dan Baraka. Penelitian dilaksanakan sejak bulan Pebruari  –  Juni 2010. Populasi dan sampel Populasi penelitian adalah seluruh peternak sapi perah di kabupaten Enrekangyang berjumlah 361 orang. Penarikan sampel menggunakan teknik penarikan sampel acak berjenjang (multistage random sampling). Berdasarkan data dinas peternakan dan perikanan Enrekang (2010) penyebaran peternak adalah 55,13% berada di daerah sentra pengembangan (199 orang) dan 44,87% berada di daerah bukan sentra pengembangan sapi perah (162 orang). Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan 5% (Sugiyono, 2008) dengan rumus sebagai berikut:    =λ 2.N.P.Qd 2N−1 + λ2 P.Q Dimana : P = Q = 0,5 d = 0,05 N = Jumlah populasi λ = taraf kesalahan 5%  s = jumlah sampel Berdasarkan rumus tersebut, jumlah sampel yang mewakili adalah 103 orang peternak. Menurut proporsinya, jumlah responden peternak sentra adalah 57 orang dan daerah bukan sentra 46 orang. Desain penelitian Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi peternak dalam penyuluhan maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei. Desain penelitian menggunakan metode non experimental design karena semua variabel JITP Vol. 1 No.3, Juli 2011 197dan data telah tersedia di lapangan dan tidak dilakukan kontrol terhadap variabel (Kerlinger, 2003).
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks