Documents

7 pages
289 views

Manuskrip

of 7
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
TB, BB, Konversi
Transcript
  Hubungan Peningktatan Berat Badan dengan Konversi Sputum di 5 Puskesmas di Kabupaten Bulungan Andri Bagaswara * , Emil Bachtiar Moerad * , Yadi * *Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Latar belakang  : Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh  Mycobacterium tuberculosis . Kuman berbentuk batang aerobik dan tahan asam berukuran 0,3 x 2 - 4 µm. Sekitar 8 juta penduduk dunia terserang TB. Sekitar 75% pasien TB berada dalam usia yang produktif. Dalam 4 tahun terakhir jumlah penderita TB di Indonesia cenderung menurun, namun di Kabupaten Bulungan serta Provinsi Kalimantan Utara mengalami  peningkatan jumlah Penderita TB. Penderita TB memiliki gejala seperti batuk   2 minggu, sesak, demam dan penurunan berat badan dan lain-lain. Dilaporkan bahwa peningkatan berat  badan < 5% berhubungan dengan kegagalan terapi, namun terdapat penelitian lain menunjukkan hasil yang berseberangan. Tujuan  : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peningkatan berat badan dengan konversi sputum pada penderita TB Paru di 5 Puskesmas di Kabupaten Bulungan. Metode : Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan metode cross sectional   menggunakan formulir TB01 pada rekam medis pasien TB di Puskesmas Tanjung Selor, Puskesmas Tanjung Palas, Puskesmas Bumi Rahayu, Puskesmas Tanah Kuning, Puskesmas Pimping Kabupaten Bulungan. Hasil : Dari penelitian ini didapatkan hasil pasien TB di 5 Puskesmas di Kabupaten Bulungan mayoritas adalah pria (83,3%), rata-rata berusia 45 tahun dengan kelompok usia terbanyak adalah 15 - 45 tahun (60%), 93,3% pasien mengalami konversi di akhir pengobatan, rata-rata  peningkatan berat badan adalah 3,33 kg (7,213%) dari berat badan awal pengobatan. Terdapat perbedaan bermakna antara berat badan pasien TB sebelum dan sesudah menjalani  pengobatan. Tidak terdapat hubungan antara peningkatan berat badan dengan konversi sputum pada pasien TB di 5 Puskesmas di Kabupaten Bulungan.. Pendahuluan  Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh  Mycobacterium tuberculosis . Kuman  berbentuk batang aerobik dan tahan asam ini memiliki ukuran 0,3 x 2 - 4 µm 1,2 . Sekitar 75% pasien TB berada dalam usia yang produktif, yaitu usia 15  –   50 tahun 2 . Menurut laporan WHO 2013,  pada tahun 2012 diperkirakan terdapat 8,6  juta kasus TB. Peningkatan angka insidensi TB global telah menunjukkan  penurunan 2% per tahun pada 2012 2 . Di Indonesia, tercatat jumlah penderita TB menunjukkan peningkatan sejak 1999 dan cenderung menurun pada empat tahun terakhir dari 138 per 100.000 penduduk  pada 2012 menjadi 125 per 100.000  penduduk pada 2015 3 . Di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terjadi  peningkatan jumlah kasus TB sejak tahun 2014 hingga 2016, di mana terdapat 680 kasus pada tahun 2014 kemudian meningkat menjadi 2514 kasus pada tahun 2015 dan 2796 kasus pada tahun 2016 4 . Di Kabupaten Bulungan sendiri pada tahun 2016 angka kasus baru yang terkonfirmasi  BTA positif mencapai 99 kasus dari yang sebelumnya 84 kasus baru di tahun 2015 5 . Infeksi TB mengakibatkan  berkurangnya asupan dan malabsorpsi nutrisi serta perubahan metabolisme tubuh sehingga mengakibatkan berkurangnya massa otot dan lemak sebagai manifestasi dari malnutrisi energi protein. Malnutrisi  pada infeksi TB dapat memperberat  perjalanan penyakit TB dan mempengaruhi  prognosis pengobatan dan tingkat kematian 6 .   Status gizi yang buruk meningkatkan frekuensi kekambuhan dan memperlambat penyembuhan. Berat badan seseorang berhubungan dengan risiko  penyakit, derajat beratnya penyakit, dan respon terapi. Status gizi yang baik selama masa pengobatan dapat mempercepat konversi sputum BTA setelah pemberian obat anti tuberkulosis (OAT), dan mempersingkat masa pengobatan, serta menurunkan prevalensi kambuhnya  penyakit7. Peningkatan berat badan kurang dari atau sama dengan 5% selama terapi  berhubungan dengan kegagalan terapi 8 .   Penelitian di India menunjukkan  bahwa ada hubungan antara peningkatan  berat badan dengan kesembuhan pasien TB 9 . Keberhasilan terapi ditemukan pada  pasien yang mengalami peningkatan berat  badan 10 . Sedangkan penelitian lain menunjukkan bahwa tidak ada hubungan  peningkatan berat badan dengan konversi sputum BTA pada pasien TB 11 . Tidak terdapat hubungan bermakna antara konversi sputum dengan status gizi pasien TB 12 . Metodologi Desain yang digunakan dalam  penelitian ini adalah analitik observasional dengan metode cross sectional   menggunakan formulir TB01 pada rekam medis pasien TB di 5 Puskesmas yang terdapat di Kabupaten Bulungan periode 1 Januari 2015 sampai dengan 30 April 2017. Penelitian dilakukan di Puskesmas Tanjung Selor, Puskesmas Tanjung Palas, Puskesmas Bumi Rahayu, Puskesmas Tanah Kuning, Puskesmas Pimping Kabupaten Bulungan. Sampel penelitian adalah seluruh  pasien yang didiagnosis TB berdasarkan rekam medik Puskesmas tersebut. Pengambilan sampel dengan metode convenient sampling  . Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, usia, berat badan dan status konversi pasien. Hasil Pada penelitian ini didapatkan 30 sampel penelitian yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.Berdasarkan  penelitian yang dilakukan, didapatkan data mengenai pasien TB sebagai berikut :  Jenis Kelamin Pasien TB  Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%) Pria 25 83,3 Wanita 5 16,7 Total 30 100,0 Didapatkan pasien TB dengan jenis kelamin pria sebanyak 25 orang (83,3%) dan pasien TB dengan jenis kelamin wanita sebanyak 5 orang (16,7%). Pasien TB sendiri didominasi oleh kelompok usia 15 - 45 tahun sebanyak 18 orang (60%). Sedangkan pasien TB dengan usia diatas 45 tahun sebanyak 12 orang (40%). Pada akhir masa pengobatan didapatkan pasien TB yang mengalami konversi sputum sebanyak 28 orang (93,3%) dan yang tidak mengalami konversi sebanyak 2 orang (6,7%). Berat Badan Pasien TB (kg) Rata-rata ± Std. deviasi p BB Awal Pengobatan 47,50 ± 11,51 < 0,05 BB Akhir Pengobatan 50,83 ± 12,14 Perubahan BB 3,33 ± 2,85 Berat badan rata-rata pasien TB  pada awal pengobatan yaitu 47,5 kg, kemudian meningkat pada akhir  pengobatan yaitu 50,83 kg. Pasien TB rata-rata mengalami peningkatan berat badan sebesar 3,33 kg (7,21%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti, terdapat perbedaan signifikan antara berat badan di akhir  pengobatan dibandingkan berat badan di awal pengobatan. Jika data peningkatan berat badan diubah ke dalam bentuk persentase, dan kemudian dikategorikan dalam kategori <5% dan ≥5 %, maka hasilnya dapat dilihat  pada tabel berikut : Kategori Peningkatan Berat Badan   Kategori Peningkatan BB Frekuensi (n) Persentase (%) <5% 13 43,3 ≥5 % 17 56,7 Total 30 100,0 Rata-rata pasien TB mengalami kenaikan berat badan sebesar 7,21 % dari  berat badan awal mereka dengan standar Kelompok Usia Pasien TB   Kelompok Usia Frekuensi (n) Persentase (%) 15 - 45 tahun 18 60,0 ≥  45 tahun 12 40,0 Total 30 100,0 Status Konversi Akhir Pengobatan   Status Konversi Frekuensi (n) Persentase (%) Konversi 28 93,3 Tidak Konversi 2 6,7 Total 30 100,0  deviasi 5,93. Pasien yang mengalami  peningkatan berat badan ≥5 % sebanyak 17 orang (56,7%), sedangkan yang mengalami peningkatan berat badan <5% sebanyak 13 orang (43,3%).   Berdasarkan data yang didapatkan selama penelitian, maka dilakukan uji statistik Chi-Square untuk melihat hubungan antara peningkatan berat badan dengan konversi sputum. Tabel Silang Kategori Peningkatan Berat Badan * Konversi Sputum Kategori Peningkatan Berat Badan Konversi Sputum Total p Tidak Konversi Konversi <5% 2 11 13 0,179 ≥5 % 0 17 17 Total 2 28 30 Berdasarkan uji statistik yang dilakukan, menunjukkan hasil p = 0,179 (p > 0,05) yang berarti H0 diterima, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara peningkatan berat badan dengan konversi sputum. Diskusi Dalam penelitian ini didapatkan hasil penderita TB dengan jenis kelamin  pria adalah yang terbanyak, yaitu 25 orang (83,3%). Hal ini menunjukkan bahwa  penderita TB didominasi oleh pria. Penelitian ini juga sejalan dengan  penelitan yang dilakukan di Manado juga menunjukkan penderita TB pria lebih dominan (76,9%) 13 . Namun penelitian yang dilakukan di Kabupaten Jepara dan Pati menunjukkan hasil sebaliknya dengan  jumlah penderita TB wanita lebih banyak (60%)1 4 . Pria cenderung lebih rentan terhadap faktor risiko TB paru. Hal tersebut terjadi karena pria lebih banyak melakukan aktifitas sehingga lebih sering terpajan oleh penyebab penyakit ini 15 . Rata-rata penderita TB dalam  penelitian ini berusia 45 tahun. Mayoritas  berada dalam kelompok usia 15 - 45 tahun (60%). Hasil ini sejalan dengan pernyataan Kementerian Kesehatan bahwa sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia  produktif (15  –   50 tahun) 2 . Kelompok usia  produktif merupakan kelompok usia yang mempunyai mobilitas yang sangat tinggi sehingga kemungkinan terpapar dengan kuman  Mikobakterium tuberkulosis  paru lebih besar selain itu reaktifan endogen (aktif kembali yang telah ada dalam tubuh) dapat terjadi pada usia yang sudah tua 16 . Penderita TB mayoritas mengalami konversi sputum baik pada akhir fase intensif maupun akhir fase lanjutan. Pada akhir fase intensif terdapat 23 orang (76,7%) kemudian meningkat pada akhir fase lanjutan menjadi 28 orang (93,3%). Terdapat 2 orang (6,7%) yang sputumnya tetap positif hingga akhir pengobatan dimana kedua penderita TB tersebut
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks