Documents

7 pages
165 views

manifestasi ggj

of 7
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
manifestasi ggj
Transcript
  MANIFESTASI ORAL PADA GAGAL GINJAL KRONIS 1.Pembengkakan gingiva Pembengkakan gingiva dikarenakan terapi obat adalah manifestasi oral pada penyakit ginjal yang paling sering dilaporkan. Ini dapat disebabkan oleh siklosporin dan atau penghambat calcium channel. Hal ini terutama mempengaruhi papila interdental labia, walaupun dapat juga menjadi lebih luas, meliputi margo gingiva dan lingua serta permukaan palatum.6 1.1. Pembengkakan Gingiva disebabkan siklosporin Prevalensi pembengkakan gingiva pada pasien yang meminum siklosporin masih belum jelas, dari 6 sampai 85%. Hal ini dapat tampak 3 bulan setelah permulaan penggunaan siklosporin. Usia anak-anak dan remaja lebih rentan terjadi penyakit ini dibanding pada dewasa. Bila kebersihan mulut jelek, usia lebih tua dapat rentan mendapat penyakit ini juga. Perbaikan kebersihan mulut dapat mengurangi kejadian penyakit ini. Tetapi, ini lebih dikarenakan pengurangan plak yang terkait proses inflamasi, dibandingkan pelebaran gingiva karena penggunaan siklosporin ini sendiri. Ada beberapa laporan yang masih bertentangan pada hubungan pembengkakan gingiva dengan dosis siklosporin, tapi luas pembengkakan gingiva tampaknya tidak berhubungan dengan fungsi cangkok ginjal. Pengawasan secara teratur penyakit ini penting, karena karsinoma sel skuamosa dan sarkoma Kaposi dilaporkan didapatkan pada penyakit pembengkakan gingiva seperti ini.8 1.2. Pembengkakan gingiva disebabkan obat penghambat saluran kalsium. Penghambat saluran kalsium digunakan oleh para pasien resipien cangkok ginjal untuk mengurangi hipertensi dan efek nefrotoksik yang disebabkan siklosporin. Dilaporkan  penggunaan berbagai jenis obat ini, di antaranya, nifedipin, amilodipin.,diltiazem, verapamil, oksidipin, felodipin, nitrendipin, menyebabkan pembengkakan gingiva. Dilaporkan, prevalensi kejadian pembengkakan gingiva, disebabkan nifedipin bervariasi antara 10-83% pasien yang dirawat. Belum ada data mengenai prevalensi pada obat yang lain. Adanya plak gigi dapat menjadi prediposisi pembengkakan gingiva karena nifedipin, tapi tidak  begitu penting untuk perkembangan selanjutnya. Dosis dan durasi penggunaan tidak  berhubungan dengan prevalensi pembengkakan gingiva. Beberapa penelitian menunjukkan  pengurangan kejadian pembengkakan gingiva setelah adanya penggantian dengan Obat Penghambat Saluran Kalsium yang lain, tapi obat-obat ini juga masih tetap dapat menyebabkan  pembengkakan gingiva.6 1.3 Kombinasi terapi siklosporin dan penghambat saluran kalsium Ada peningkatan kejadian dan keparahan pembengkakan gingiva ketika siklosporin dan obat  penghambat saluran kalsium digunakan bersama. Sebaliknya, kombinasi verapamil dangan siklosporin tampaknya tidak meningkatkan frekuensi atau keparahan pembengkakan gingiva  secara signifikan.6 1.4 Takrolismus Takrolismus dilaporkan dapat menyebabkan atau juga mengurangi pembengkakan gingiva, walaupun pada penelitian terbaru pada anak dengan cangkok ginjal, 41 % pasien yang memakai siklosporin mengalami pembengkakan gingiva, mayoritas mereka yang menerima takrolismus tidak memiliki penyakit ini. Pembengkakan gingiva karena siklosporin dapat berkurang atau sembuh ketika siklosporin digantikan dengan takrolismus.6 1.5 Perubahan gingiva yang lain Gingiva pada pasien GGK dapat menjadi pucat karena anemia, dengan kemungkinan hilangnya garis pertemuan mukogingiva, dan kalau ada kelainan trombosit, gingiva dapat menjadi mudah  berdarah.3 2. Kebersihan mulut dan penyakit periodontal Kebersihan mulut pada pasien yang menggunakan hemodialisis dapat menjadi jelek. Contohnya, hanya 15% -45% pasien dengan hemodialisis pada 4 pusat kesehatan di Virginia yang memliki tingkat kebersihan mulut yang baik. Deposit kalkulus dapat meningkat. Tidak ada bukti yang cukup kuat mengenai peningkatan risiko periodontitis, walaupun tanggal gigi lebih awal juga telah dilaporkan, osteomielitis supuratif terlokalisasi , sekunder dari  periodontitis, telah ditemukan pada satu pasien penerima hemodialisis.6 3.Xerostomia Gejala xerostomia dapat muncul pada banyak pasien yang menggunakan hemodialisis. Penyebab yang mungkin meliputi intake cairan yang terbatas, efek samping terapi obat, dan atau  pernapasan menggunakan mulut. Xerostomia yang lama dapat menjadi predisposisi timbulnya karies dan peradangan gingiva dan dapat menyebabkan kesulitan bicara, retensi dental, mastikasi, disfagi, luka pada mulut, dan hilang rasa. Xerostomia juga menjadi predisposisi terjadinya karies dan kejadian infeksi, seperti kandidosis dan sialadenitis supuratif akut.6 4.Bau mulut Pasien uremia dapat memiliki bau mulut seperti amonia, yang juga terjadi pada sepertiga pasien yang menerima hemodialisis. Gagal ginjal kronis dapat menyebabkan sensasi rasa yang berubah, dan beberapa pasien mengeluhkan rasa tidak enak atau seperti logam, dan juga sensasi  pembesaran lidah.3   5.Lesi mukosa mulut Beragam jenis lesi mukosa mulut, terutama bercak putih dan atau ulserasi, telah didapatkan pada  pasien-pasien penerima hemodialisis dan cangkok ginjal. Khususnya, penyakit seperti liken  planus, dapat muncul, terkadang, tapi tidak selalu, sebagai akibat terapi obat. Hal yang sama, oral hairy leukoplakia dapat muncul disebabkan imunosupresi karena obat, walaupun secara klinis dan histopatologis lesi yang serupa dengan yang disebabkan virus EBV tersebut, telah ditemukan dengan uremia. Dengan catatan, lesi lanjut dapat sembuh dengan koreksi uremia.2 Stomatitis uremia dapat berwujud sebagai daerah putih, merah, atau abu-abu pada mukosa mulut. Bentukan eritema pustulosa terbentuk dari pseudomembran abu-abu di atas bercak merah yang nyeri, sedang bentukan ulseratif berwarna merah dengan ditutupi pustul. Tidak ada deskripsi secara histologis yang jelas mengenai stomatitis uremia ini, dan juga sulit untuk menjelaskan  penyebab perubahan mukosa mulut yang tidak biasa ini.Beberapa penelitian menyebutkan secara histologis, penyakit ini ditandai dengan infiltrat keradangan minimal dengan hiperplasi epitel dan hiperparakeratinisasi yang tidak biasa. Etiologi stomatitis uremia masih belum jelas diketahui, walaupun diperkirakan berasal dari kenaikan komponen amonia dalam darah, juga diperkirakan dapat berasal dari pembakaran kimia. Amonia terbentuk oleh kerja bakteri urease yang merubah urea saliva yang dapat meningkat pada pasien tersebut. Diperkirakan, stomatitis muncul bila kadar urea dalam darah lebih tingi dari 300 mg/ml, walaupun ada beberapa laporan perubahan mukosa dapat terjadi pada kadar urea kurang dari 200 mg/dl. Pasien yang mengalami penyakit ini biasanya mengeluh penyakit mukosa mulut yang membuat tidak nyaman, terkadang berpengaruh pada nutrisi dan input cairan, penurunan aliran saliva, dan sensasi terbakar pada bibir. Pada beberapa keadaan, permukaan mukosa dapat menjadi eritema atau berupa ulserasi. Makula mukosa mulut dan nodul juga didapatkan pada 14% pasien yang menerima hemodialisis.2 Gambar.1 Stomatitis uremik Gambar 2. Stomatitis uremik Gambar 3. Stomatitis uremik  Gambar4. gambaran histopatologis stomatitis uremik 6.Keganasan mulut Risiko karsinoma sel skuamosa pada mulut pada pasien yang menerima hemodialisis adalah sama dengan risiko pada populasi orang yang sehat, walaupun telah ada laporan yang menunjukkan bahwa terapi yang menyertai cangkok ginjal merupakan predisposisi kejadian displasia epitelial dan karsinoma pada bibir. Mungkin, Sarkoma Kaposi dapat muncul pada mulut resipien cangkok ginjal yang mengalami imunosupresi. Ada beberapa laporan kejadian karsinoma sel skuamosa di daerah pembengkakan gingiva yang disebabkan penggunaan siklosporin. Tiap peningkatan risiko keganasan mulut pada pasien GGK mungkin menunjukkan efek imunosupresan iatrogenik, yang meningkatkan kejadian tumor yang berhubungan dengan virus seperti sarkoma Kaposi ataiu limfoma Non Hodgkin. 6 Gambar 5. Sarkoma Kaposi 7.Infeksi oral 7.1 Kandidosis Keilitis angular ditemukan pada 4% pasien dengan hemodialisis dan resipien cangkok ginjal. Lesi kandidiasis oral lain seperti pseudomembran (1,9%), eritema (3,8%) dan kandidosis atropik kronis (3,8%) ditemukan pada resipien cangkok ginjal. 7.2 Infeksi Virus Sekitar 50 % resipien cangkok ginjal yang seropositif herpes simplex, mengalami episode infeksi HSV rekuren, parah dan lama. Tetapi akhir-akhir ini, penggunaan terapi anti herpes yang efektif telah mengurangi infeksi serupa secara signifikan. Keadaan imunosupresi yang lama pada pasien  pasca pencangkokan ginjal dapat menjadi predisposisi infeksi herpesvirus 8 (HHV-8) dan sarkoma Kaposi yang terkait. 7.3 Kelainan Gigi Gigi lambat tumbuh dilaporkan pada anak-anak dengan GGK. Hipoplasi enamel pada gigi susu maupun permanen dengan atau tanpa warnanya berubah menjadi coklat juga dapat timbul. Pada pasien GGK dewasa, penyempitan atau kalsifikasi ruang pulpa juga dapat terjadi. Penyebab yang sebenarnya dari perubahan gigi ini belum diketahui. Resipien cangkok ginjal mengalami
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks