Documents

16 pages
126 views

MALAKAH BKLB

of 16
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
lintas budaya
Transcript
  1 BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Konseling lintas budaya melibatkan konselor dan klien yang berasal dari latar  belakang budaya yang berbeda, dan karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias budaya pada pihak konselor yang mengakibatkan konseling tidak berjalan efektif. Agar berjalan efektif, maka konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas budaya, dan memiliki keterampilan-keterampilan yang responsive secara kultural. Dengan demikian, maka konseling dipandang sebagai “perjumpaan budaya” (cultural encounter) antara konselor dan klien Keterampilan konselor lintas budaya harus selalu mengembangkan keterampilan untuk berhubungan dengan individu yang berasal dari latar belakang etnis yang berbeda. Dengan banyaknya berlatih untuk berhubungan dengan masyarakat luas, maka konselor akan mendapatkan keterampilan (perilaku) yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk menunjang pelaksanaan konseling lintas budaya dibutuhkan konselor yang mempunyai spesifikasi. kompetensi kesadaran,  pengetahuan dan keterampilan 2.1   Rumusan masalah 1.   Sebagai pengetahuan hakikat kompetensi lintas budaya konseor 2.   Apa saja komponen kompetensi lintas budaya konselor ? 3.   Apa yang dimaksud dengan urgensi kompetensi lintas budaya dalam konseling ? 4.   Bagaimana strategi pengmbangan kompetensi lintas budaya. 3.1   Tujuan 1.   Sebagai pengetahuan hakikat kompetensi lintas budaya konselor 2.   Mengetahui apa saja kompetensi lintas budaya konselor 3.   Mengetahui apa yang dimaksud dan apa saja urgensi lintas budaya konselor 4.   Mengetahui bagaimana strategi sebagai pengembangan kompetensi lintas budaya.  2 BAB II PEMBAHASAN 2.1   Hakikat Kompetensi Lintas Budaya Konselor Isu-isu tentang antar atau lintas budaya yang disebut juga multibudaya meningkat dalam dekade 1960-an, yang selanjutnya melatari kesadaran bangsa Amerika pada dekade 1980-an. Namun, rupanya kesadaran itu disertai dengan kemunculan kembali sikap-sikap rasialis yang memecahbelah secara meningkat  pula (Hansen, L. S., 1997:41). Hal ini menjelaskan pandangan, bahwa dibutuhkan  pendekatan baru untuk kehidupan pada abad-21, baik yang melingkup pendidikan  bagi orang biasa maupun profesional dalam bidang lintas serta keragaman budaya. Pendidikan yang dimaksud hendaknya menegaskan dimensi-dimensi keragaman dan perbedaan. dengan kata lain, kecenderungan pendidikan yang berwawasan lintas budaya sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia abad-21. Dalam bidang konseling dan psikologi, pendekatan lintas budaya dipandang sebagai kekuatan keempat setelah pendekatan psikodinamik, behavioral dan humanistik (Paul Pedersen, 1991). Suatu masalah yang berkaitan dengan lintas  budaya adalah bahwa orang mengartikannya secara berlain-lainan atau berbeda, yang mempersulit untuk mengetahui maknanya secara pasti atau benar. Dapat dinyatakan, bahwa konseling lintas budaya telah diartikan secara beragam dan  berbeda-beda; sebagaimana keragaman dan perbedaan budaya yang memberi artinya. Definisi-definisi awal tentang lintas budaya cenderung untuk menekankan  pada ras, etnisitas, dan sebagainya; sedangkan para teoretisi mutakhir cenderung untuk mendefinisikan lintas budaya terbatas pada variabel-variabelnya (Sue dan Sue, 1990). Namun, argumen-argumen yang lain menyatakan, bahwa lintas budaya harus melingkupi pula seluruh bidang dari kelompok-kelompok yang tertindas,  bukan hanya orang kulit berwarna, dikarenakan yang tertindas itu dapat berupa gender, kelas, agama, keterbelakangan, bahasa, orientasi seksual, dan usia (Trickett, Watts, dan Birman, 1994)  3 Konseling lintas budaya melibatkan konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias budaya pada pihak konselor yang mengakibatkan konseling tidak berjalan efektif. Agar berjalan efektif, maka konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas budaya, dan memiliki keterampilan-keterampilan yang responsif secara kultural. Dengan demikian, maka konseling dipandang sebagai “perjumpaan budaya” (cultural encounter) antara konselor dan kli en (Dedi Supriadi, 2001:6). Maka konseling lintas budaya akan dapat terjadi jika antara konselor dan klien mempunyai perbedaan. Kita tahu bahwa antara konselor dan klien pasti mempunyai perbedaan budaya yang sangat mendasar. Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai-nilai, keyakinan, perilaku dan lain sebagainya. Perbedaan ini muncul karena antara konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda. Konseling lintas budaya akan dapat terjadi jika konselor kulit putih memberikan layanan konseling kepada klien kulit hitam atau konselor orang Batak memberikan layanan konseling pada klien yang berasal dari Ambon. Layanan konseling lintas budaya tidak saja terjadi, pada mereka yang  berasal dari dua suku bangsa yang berbeda. Tetapi layanan konseling lintas dapat  pula muncul pada suatu suku bangsa yang sama. Sebagai contoh, konselor yang  berasal dari jawa Timur memberikan layanan konseling pada klien yang berasal dari jawa tengah, mereka sama sama berasal dari suku atau etnis jawa. Tetapi perlu kita ingat, ada perbedaan mendasar antara orang jawa Timur dengan orang Jawa Tengah. Mungkin orang Jawa Timur lebih terlihat kasar , sedangkan orang jawa Tengah lebih halus . Konselor perlu menyadari akan nilai-nilai yang berlaku secara umum. Kesadaran akan nilai-nilai yang berlaku bagi dirinya dan masyarakat pada umumnya akan membuat konselor mempunyai pandangan yang sama tentang sesuatu hal. Persamaan pandangan atau persepsi ini merupakan langkah awal bagi konselor untuk melaksanakan konseling  4 2.2   Komponen Kompetensi Lintas Budaya Konselor Pengembangan Diri Konselor Sejalan dengan kompetensi yang harus dimiliki konselor dalam berbagai bidang yang berkenaan dengan layanan konseling, maka untuk mengembangkan diri konselor diperlukan awareness, knowledge, and skills. a.   Awareness: konselor perlu memiliki kesadaran terhadap perilakunya yang berhubungan dengan konseli yang berbeda secara kultural dengan dirinya (McCoy, 2013: 8). Perilaku konselor akan memengaruhi persepsi konseli sekaligus arah dari konseling yang sedang berjalan. Jika konselor tidak menyadari bahwa karateristik perilakunya merupakan bentukan dari kebudayaan asalnya maka akan dapat memengaruhi perilaku konseli selama sesi konseling.  b.   Knowledge: dalam melaksanakan konseling lintas budaya berarti konselor menerima konsekuensi berupa pentingnya memiliki  pengetahuan budaya sehingga dapat menjadi bagian dalam layanan konseling. Pengetahuan yang harus dimiliki ialah kebudayaan, ras, etnik, etik dan emik, kelompok minoritas dan mayoritas, dan tentunya prinsip- prinsip kebudayaan. Pengetahuan tersebut bisa didapatkan dari para konseli yang dilayani, melakukan studi/ kajian literatur, dan melakukan  penelitian yang berhubungan dengan permasalahan budaya para siswanya. c.   Skills: keterampilan dimaksudkan untuk membantu konseli mengembangkan teknik dan strategi yang tepat, yaitu efektif bagi siswa yang berbeda-beda secara kultural dengan siswa lain dan dengan konselor (McCoy, 2013: 12). Hal demikian dilakukan karena bisa saja teknik dan strategi tertentu baik bagi siswa tertentu, atau dinilai efektif oleh konselor, namun ternyata tidak demikian saat dilakukan oleh siswa lain dengan latar belakang budaya yang berbeda.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks