Documents

10 pages
94 views

Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

of 10
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Makna Syahadat Muhammad Rasulullah
Transcript
  Makna Syahadat Muhammad Rasulullah  Al-Ustadz Luqman Jamal, Lc.   PERTANYAAN Syahadat ini sangat dihafal oleh kaum muslimin. Kalimatnya begitu pendek dan sederhana tetapi terwariskan secara turun temurun. Namun, tidak sedikit yang tidak tahu-menahu tentang kedalaman makna hakiki yang dikandungnya dan konsekuensi yang mesti tertanam dalam lubuk hati pengucapnya. Olehnya itu, bagaimana agama menjelaskannya? JAWABAN Syahadat  La Ilaha Illallah  dan syahadat  Muhammad Rasulullah  adalah satu rukun yang tidak  bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain, dan keduanya menjadi satu rukun walaupun terdiri dari dua bahagian. Sebab seluruh ibadah dibangun di atas keduanya, maka tidaklah diterima ibadah itu kecuali ikhlas untuk Allah ‘Azza Wa Jalla , dan ini adalah kandungan dari syahadat  La  Ilaha Illallah , dan ittiba’    ‘mengikuti’ Rasulullah  shall  allahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam  , dan ini adalah kandungan dari syahadat  Muhammad Rasulullah . Karena itu, mengetahui makna, kandungan dan konsekuensi (keharusan) syahadat  Muhammad Rasulullah  sangatlah penting sebagaimana syahadat  La Ilaha Illallah . Seseorang, kalau mau masuk Islam, harus mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut, kemudian wajib memahami dan mengamalkan kedua syahadat tersebut lahir dan batin, dan wajib mengulangi kedua syahadat tersebut minimal sembilan kali dalam sehari semalam. Syahadat  Muhammad Rasulullah ,atau dengan redaksi yang lebih lengkap  Muhammad ‘Abdullahi wa Rasuluhu   ‘Muhammad adalah hamba Allah dan rasul -  Nya’, mempunyai dua dasar pokok yang satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan karena merupakan satu kesatuan. Pokok pertama  , menyamakan kedudukan Muhammad sama dengan semua makhluk di hadapan Allah walaupun derajatnya berbeda. Pokok kedua  , membedakan kedudukan Muhammad dengan mahluk yang lain karena beliau adalah seorang rasul. Hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah  Jalla Jalaluhu  dalam akhir surah Al-Kahfi, “Katakan (wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya  saya hanyalah manusia biasa  sepeti kalian  yang diberikan wahyu   kepadaku bahwasanya sesembahan kalian hanyalah sesembahan yang Esa.’.”  [  Al-Kahfi: 110  ] Kemudian dal am hadits ‘Ubadah bin Shamit yang diriwayatkan oleh Bukhary dan Muslim, Rasulullah  shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam  bersabda, ُْُسَرَو   ُهُْَ   اًَُ   نَأَو   ُَ   َكْِَ   َ   ُهَْحَو   ُ   ِ   ََِ   َ   ْنَأ   َِَ   ْَ …    “Siapa yang bersyahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada serikat bagi-Nya dan  Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya ….”  Juga dalam sabda Rasulullah  shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam  , ketika mengajarkan tasyahud kepada para shahabatnya, seperti ‘Abdullah bin Mas’ud dalam  Shahih Al-Bukhary   dan  Shahih Muslim   , Ibnu ‘Abbas dalam  Shahih Muslim  , dan Abu Musa Al- Asy’ary dalam  Shahih  Muslim  , terdapat kalimat  syahadatain  yaitu, نَأ   ُَْَأَو   ُ   ِ   ََِ   َ   ْنَأ   ُَْَأُْُسَرَو   ُهُْَ   اًَُ   “Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan  Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya .” Kedudukan Muhammad Sebagai Hamba Berkata Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Syaikh, “Hamba maknanya adalah yang dimiliki, yang menyembah, yaitu dimiliki oleh Allah Ta’ala  dan tidak mempunyai sedikit pun sifat-sifat  Rububiyah  dan Uluhiyah . Sesungguhnya dia (Muhammad) hanyalah seorang hamba yang dekat di sisi Allah ‘Azza wa Jalla .” Lihat Taisir Al- ’Aziz Al  -Hamid   hal. 81-82. Jadi, kalau dia seorang hamba (budak), tidak boleh disembah (diibadahi) melainkan harus menyembah, dan kalau dia dimiliki, tidak boleh dimintai sebab syarat untuk dimintai adalah harus memiliki (  Al-Malik  ). Karena itu, dia tidak mampu memberi manfaat atau mudharat,  bahkan dia hanya meminta manfaat kepada Allah berupa hidayah, harta, ilmu, dan sebagainya, serta berlindung pada-Nya dari segala kejelekan (mudharat) makhluk-Nya. Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin, “Dan keharusan dari syahadat ini adalah tidak boleh diyakini bahwasanya Rasulullah  shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam  punya hak dalam  Rububiyah  dan mengatur alam semesta atau punya hak dalam ibadah (hak untuk disembah). Bahkan dia (Rasulullah) seorang hamba, tidak disembah, dan Rasul tidak didustakan dan tidak memiliki sedikit pun kemampuan untuk memberi manfaat ataupun mudharat, baik kepada dirinya ataupun selain dirinya, kecuali apa yang Allah kehendaki sebagaimana firman Allah, “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Saya tidak mengatakan kepada kalian, bahwa di sisi saya  perbendaharaan Allah, dan tidak (pula) saya mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) saya mengatakan kepada kalian bahwa saya seorang malaikat. Saya tidaklah mengikuti kecuali apa  yang diwahyukan kepadaku.’.”  [  Al- An’am: 50  ] Maka dia selaku hamba diperintahkan untuk mengikuti apa-apa yang diperintahkan dengannya. Kemudian firman Allah Ta’ala , “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya say a tidak memiliki bagi kalian mudharat dan tidak pula petunjuk.’.”  [ Al-Jin: 21 ] Juga firman Allah Ta’ala ,    ِ   ُتْَثْَْسَ   َْَغْا   ُَْَأ   ُْُ   ْََو   ُ   َ َ   َ   ِ   اّَض   ََو   ًْَ   يِْَِ   ُكِْَأ   َ   ْُَ   ََو   ِْَْا   َْنِ   ُ ا   َيِ   َنُِْؤُ   ٍْَِ   ٌِََو   ٌِَ   ِ   ََأ   “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Saya tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya saya mengetahui yang ghaib, tentulah saya membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan saya tidak akan ditimpa kemudharatan. Saya tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita  gembira bagi orang- orang yang beriman.’.”   .” Lihat  Syarh Tsalatsah Al-Ushul  hal. 71. Akan tetapi Allah menjadikan ‘ubudiyah   ‘penghambaan’ sebagai sifat kesempurnaan makhluk  - Nya dan menjadikan makhluk-Nya sebagai makhluk yang paling dekat kepada-Nya sebagaimana firman-Nya, “Al  -Masih sekali-sekali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak pula malaikat-malaikat terdekat-Nya. Barangsiapa yang enggan dari menyembah - Nya dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada -  Nya.”  [  An-Nisa: 172  ] Juga firman-Nya, “Dan ingatlah hamba Kami Daud.”  [  Shad: 17  ] Juga firman-Nya, “Dan ingatlah hamba Kami Ayyub.”  [  Shad: 41  ] Juga firman-Nya, “Dan ingatlah hamba - hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub.”  [  Shad: 45  ] Juga firman-Nya, “Dan Kami telah berikan kepada Daud, Sulaiman sebaik  - baik hamba.”  [  Shad: 30  ] Allah menyifatkan makhluk-makhluk-Nya yang paling mulia dan yang paling tinggi kedudukannya di antara makhluk-makhluk-Nya dengan ‘Ubudiyah  pada kedudukannya yang  paling mulia. Allah juga menyebutkan sifat ‘Ubudiyah  pada kedudukan diturunkannya  Al-Kitab  kepada hamba-Nya dan menantang untuk mendatangkan sepertinya sebagaimana firman-Nya, “Dan jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami maka datangkanlah satu surah semisalnya.”  [  Al-Baqarah: 25  ] Juga firman-Nya,  “Maha berkah Allah yang tel  ah menurunkan Al-Furqan  kepada hamba-  Nya.”  [  Al-Furqan: 1  ] Juga ayat-ayat lain yang semakna. Allah menyebutkan sifat ‘Ubudiyah  dalam kedudukan beribadah pada-Nya sebagaimana firman- Nya, “Dan sesungguhnya tatkala hamba Allah berdiri, berdoa kepada -Nya ….”  [  Al-Jin: 19  ] Kemudian Allah menyebutkan hamba-Nya dengan ‘ubudiyah  pada kedudukan  Isra` , “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba -  Nya pada satu malam.”  [  Al-Isra`: 1  ] Selain itu, Allah menjadikan kabar gembira secara mutlak kepada hamba-hamba-Nya sebagaimana firman-Nya, “Dan orang  -orang yang menjauhi thaghut  (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada  Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,  yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”  [  Az-Zumar: 17-18  ] Allah juga menjadikan rasa aman secara mutlak bagi hamba-hamba-Nya sebagaimana firman- Nya, “Wahai hamba -hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadap kalian pada hari ini dan tidak pula bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka dahulu adalah orang- orang yang berserah diri.”  [  Az-Zukhruf: 68-69  ] Allah tidak memberi keleluasaan kepada syaithan untuk menguasai mereka (hamba-hamba-Nya) secara khusus kecuali yang mengikuti syaithan dan berbuat syirik kepada-Nya sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya hamba -hamba-Ku, tidak ada kekuasaan bagi kamu untuk mereka kecuali siapa  yang mengikuti kamu dari orang- orang yang sesat.”  [  Al-Hijr: 42  ] Juga firman-Nya, “Sesungguhnya tidak ada kekuasaan baginya (syaithan) atas orang  -orang yang beriman dan mereka bertawakkal kepada Rabb mereka. Sesungguhnya kekuasaannya (syaithan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengannya.”  [  An-Nahl: 99-100  ]  Nabi  shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam  menjadikan ihsan ‘ubudiyah  sebagai tingkatan  paling tinggi dalam beragama, sebagaimana dalam hadits ‘Umar bin Al -Khattab, yang terkenal dengan “hadits Jibril”, yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa tatkala Nabi  shallallahu ‘ alaihi
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks