Documents

15 pages
192 views

Makalah Leptospirosis.docx

of 15
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
MAKALAH PENYAKIT BAKTERIAL: LEPTOSPIROSIS Oleh Kelompok 5 1. Nadiyya Itsna Maulida B04140114 2. Riky Fernanda B04140115 3. Risna Aliyah B04140116 4. Sang Gelegar Homel B04140117 5. Navin Kumar B04148014 BAGIAN MIKROBIOLOGI MEDIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT H
Transcript
  MAKALAH PENYAKIT BAKTERIAL: LEPTOSPIROSIS Oleh Kelompok 5 1.    Nadiyya Itsna Maulida B04140114 2.   Riky Fernanda B04140115 3.   Risna Aliyah B04140116 4.   Sang Gelegar Homel B04140117 5.    Navin Kumar B04148014 BAGIAN MIKROBIOLOGI MEDIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT HEWAN DAN KESEHATAN VETERINER FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUR PERTANIAN BOGOR 2017  BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Perubahan iklim sekarang sering terjadi tidak menentu, termasuk meningkatnya kejadian banjir di seluruh dunia, membuat kemungkinan kejadian Leptospirosis global akan meningkat. WHO percaya angka kematian Leptospirosis mungkin antara 5% sampai 25% dari pasien yang terinfeksi. Ini tidak berarti bahwa orang yang terinfeksi dengan akses ke pelayanan kesehatan yang tepat memiliki risiko kematian yang sama.   Leptospirosis merupakan penyakit global, tetapi lebih sering terjadi pada daerah tropis dan subtropis. Leptospirosis dapat juga terjadi di pemukiman miskin di kota-kota  besar negara berkembang yang tidak berada di daerah tropis.   Berikut ini adalah area/negara/benua yang dikenal memiliki insiden tertinggi Leptospirosis, antara lain: Afrika, India, Cina, Amerika Tengah, Brasil, Karibia, Asia Tenggara, dan Rusia Selatan. Kasus infeksi juga dilaporkan di beberapa hotspot wisata seperti: Selandia Baru, Australia, Hawaii, dan Barbados. B.   Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah mengetahui etiologi, epidemiologi, distribusi, diagnosa, gejala klinis, pencegahan, pengendalian dari  penyakit Leptospirosis, serta hubungannya dengan One Health Concept   dalam  pengendalian.  BAB II TINJAUAN PUSTAKA Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang menginfeksi manusia dan hewan.  Nama lain dari penyakit ini adalah  swineherd’s , demam pesawah ( rice-field fever  ), demam lumpur, jaundis berdarah, penyakit stuttgant, atau demam canicola. Ada juga yang menyebut demam Icterohemorrhage sehingga biasa juga disebut penyakit kuning non-virus. Infeksi oleh Leptospira umumnya didapat karena kontak kulit atau selaput lendir atau membrane mukosa misalnya, konjuktiva (mata) karena kecipratan selaput lendir vagina atau lecet-lecet kulit dengan urin atau cemaran oleh keluaran urogenitalis lainnya atau mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri tersebut (Priyanto 2006). Masuknya kuman Leptospirosis pada tubuh hospes melalui selaput lendir, luka-luka lecet maupun melalui kulit menjadi lebih lunak karena terkena air. Kemudian, kuman akan dibawa ke berbagai bagian tubuh dan memperbanyak diri terutama di dalam hati, ginjal, kelenjar mamae dan selaput otak. Kuman tersebut dapat ditemukan di dalam atau di luar sel-sel jaringan yang terkena (Ramadhani et al.  2012). Pada proses infeksi yang berkepanjangan reaksi imunologik yang timbul dapat memperburuk keadaan hingga kerusakan jaringan makin parah. Leptospira hidup dengan baik didalam tubulus kontortus ginjal. Kemungkinan kuman tersebut akan dibebaskan melalui air kemih untuk jangka waktu yang lama. Kematian terjadi karena septimia, anemia hemolitika, kerusakan hati karena terjadinya uremia. keparahan  penderita bervariasi tergantung pada umur serta servoar leptospira penyebab infeksi (Sudoyo et al.  2009).  BAB III PEMBAHASAN A.   Etiologi Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia, penularan paling sering melalui tikus. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung. Bisa  juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi setitik urin tikus yang terinfeksi leptospira, kemudian dimakan dan diminum manusia. Saat masuk ke ginjal, kuman akan melakukan migrasi ke interstitium, tubulus renal, dan tubular lumen menyebabkan nefritis interstitial dan nekrosis tubular. Ketika  berlanjut menjadi gagal ginjal biasanya disebabkan karena kerusakan tubulus, hipovolemia karena dehidrasi dan peningkatan permeabilitas kapiler. Pada gangguan hati, akan tampak nekrosis sentrilobular dengan proliferasi sel Kupffer, yang terjadi karena disfungsi sel-sel hati. Leptospira juga dapat menginvasi otot skletal dan menyebabkan edema (bengkak), vacuolisasi miofibril, dan nekrosis lokal. Gangguan sirkulasi mikro muskular dan peningkatan permeabilitas kapiler dapat menyebabkan kebocoran cairan dan hipovolemi sirkulasi. Dalam kasus berat akan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler. Gangguan paru adalah mekanisme sekunder dari kerusakan pada alveolar and vaskular interstisial yang mengakibatkan hemoptu. Leptospira juga dapat menginvasi cairan humor (humor aqueus) mata yang dapat menetap dalam beberapa bulan, seringkali mengakibatkan uveitus kronis dan  berulang. Meskipun kemungkinan dapat terjadi komplikasi yang berat tetapi lebih sering terjadi self limiting disease dan tidak fatal. Sejauh ini, respon imun siostemik dapat mengeliminasi kuman dari tubuh, tetapi dapat memicu reaksi gejala inflamasi yang dapat mengakibatkan secondary end-organ injury. Leptospirosis tidak menular langsung dari pasien ke pasien. Masa inkubasi leptospirosis adalah dua hingga 26 hari.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks