Documents

18 pages
243 views

MAKALAH BELOM JADI.docx

of 18
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
MAKALAH ZAT PEMBANTU TEKSTIL PENGARUH SUHU TERHADAP PEMBUATAN SABUN Nama : Muhammad Azhari (16020099) Gabriella B. (16020100) Fasha Yakarima (16020107) Evangelista Felicia (16020120) Ully Tua Putri (16020128) Grup : 2K4 Dosen : Hariyanti R.,S.Teks.,M.T. Asisten : Budi H.,S.SiT.,M.T. POLITEKNIK STTT B A N D U N G 201
Transcript
  MAKALAH ZAT PEMBANTU TEKSTIL PENGARUH SUHU TERHADAP PEMBUATAN SABUN  Nama : Muhammad Azhari (16020099) Gabriella B. (16020100) Fasha Yakarima (16020107) Evangelista Felicia (16020120) Ully Tua Putri (16020128) Grup : 2K4 Dosen : Hariyanti R.,S.Teks.,M.T. Asisten : Budi H.,S.SiT.,M.T. POLITEKNIK STTT B A N D U N G 2017  ABSTRAK    Sabun adalah surfaktan yang biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut padatan. Walaupun  pada perkembangannya sabun telah ada yang berbentuk cairan dengan segala kelebihannya, tetapi tetap saja sabun berbentuk batangan lebih populer dan sering digunakan karena faktor sejarah dan  bentuk umumnya. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat  partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Umumnya, sabun terbuat dari campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang direaksikan dengan alkali (seperti NaOH atau KOH) pada suhu yang relatif tinggi (80 0 C-100 0 C) melalui suatui proses yang dikenal sebagai proses saponifikasi. Dalam hal ini, akan dibahas tentang suhu optimum dalam pembuatan sabun menggunakan alkali Natrium Hidroksida.  BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Sabun merupakan komoditi hasil olahan minyak kelapa sawit yang populer yang  berfungsi sebagai zat yang mampu membersihkan dan mengangkat benda asing. Reaksi yang terjadi pada saat pembuatan sabun dari minyak kelapa sawit disebut reaksi Saponifikasi. Saponifikasi dilakukan dengan mereaksikan minyak kelapa sawit (triglisrida) dengan alkali (biasanya menggunakan NaOH atau KOH) sehingga menghasilkan gliserol dan garam alkali Na (sabun). Saponifikasi juga dapat dilakukan dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali sehingga menghasilkan sabun dan air. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut  batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, detergen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci. B.   Batasan Masalah Pembatasan masalah pada makalah ini yaitu mencakup mekanisme pembuatan sabun dan temperatur optimum dalam proses pembuatan sabun. C.   Masalah -   Apa yang dimaksud dengan sabun? -   Bagaimana mekanisme pembuatan sabun? -   Berapa temperature optimum proses pembuatan sabun untuk menghasilkan sabun yang sesuai untuk digunakan pada produk tekstil? D.   Tujuan -   Untuk memenuhi tugas mata kuliah Zat Pembantu Tekstil -   Untuk mengetahui pengertian sabun -   Untuk mengetahui mekanisme pembuatan sabun -   Untuk mengetahui temperature optimum proses pembuatan sabun untuk menghasilkan sabun yang sesuai untuk digunakan pada produk tekstil E.   Manfaat - Bagi penyusun menambah pengetahuan dan wawasan mengenai surfaktan berupa sabun dan  proses pembuatan, serta kondisi prosesnya. - Bagi pembaca menambah pengetahuan mengenai pembuatan surfaktan berupa sabun.  BAB II DASAR TEORI A.   Pengertian Umum Surfaktan Campuran aktif dalam sebagian bahan pembersih disebut bahan aktif permukaan atau Surfaktan. Zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Molekul surfaktan mempunyai dua ujung yang terpisah, yaitu ujung polar (hidrofilik) dan ujung non polar (hidrofobik). Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hidrogen pada  permukaan. Hal ini dilakukan dengan menaruh kepala-kepala hidrofilik nya pada permukaan air dengan ekor-ekor hidrofobik nya terentang menjauhi permukaan air. Sumber bahan mentah surfaktan dapat berasal dari surfaktan oleokimia maupun surfaktan petrokimia. Secara umum, kebanyakan rantai hidrokarbon dalam sebagian besar surfaktan dan lain-lain surfaktan istimewa dihasilkan dari bahan mentah seperti Lemak dan minyak biasa Petroleum Etilena Propilena. Surfaktan dapat digolongkan menjadi dua golongan besar berdasarkan kelarutannya, yaitu surfaktan yang larut dalam minyak dan surfaktan yang larut dalam air. Surfaktan juga diklasifikasikan lagi dalam beberapa bagian, yaitu: surfaktan anionik, surfaktan kationik, surfaktan non-ionik, dan surfaktan amfoterik. B.   Pengertian Umum Sabun Sabun adalah salah satu karbon yang sangat komersial baik dari sisi penggunaan dalam kehidupan sehari-hari maupun persaingan harga produk yang memberikan pengembangan yang cukup baik. Sabun merupakan surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan yang tercetak seperti batangan. Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi Saponifikasi yang merupakan reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah (misalnya  NaOH). Hasil lain dari reaksi Saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat. Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun, dan air. Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak. Untuk mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng sebagai contoh. Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam palmitat, asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak goreng adalah asam oleat, asam linoleat, dan asam linolena. Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6). Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O, yaitu molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu  pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks