Documents

13 pages
199 views

HIV c

of 13
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
jurnal
Transcript
  44Volume 3 Nomor 1 April 2015 Pengaruh Intervensi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) terhadap Penurunan Tingkat Depresi Ibu Rumah Tangga dengan HIV Reini Astuti 1 , Iyus Yosep 2 , Raini Diah Susanti 2 1 STIkes Budi Luhur, 2 Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran  E-mail: reini.ast@gmail.com Abstrak Depresi adalah kondisi psikiatrik yang sering terjadi pada pasien dengan HIV, hal tersebut sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Dampak ini akan lebih buruk jika terjadi pada ibu rumah tangga, karena mereka  bukan merupakan populasi resiko. SEFT ( Spiritual Emotional Freedom Technique ) diduga dapat menjadi salah satu terapi komplementer yang membantu menurunkan tingkat depresi pada ibu rumahtangga dengan HIV, karena SEFT merupakan penggabungan antara sistem kerja energy psychology  dengan kekuatan spiritual sehingga memiliki efek berlipat ganda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi SEFT terhadap penurunan tingkat depresi pada ibu rumah tangga dengan HIV, karena itu digunakan metode quasi-experimental dengan  pre test and post test design . Responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (n=15) dan kelompok kontrol (n=15). Masing-masing kelompok diukur tingkat depresinya dengan menggunakan BDI (  Beck Depression Invantory ). Hasil penelitian ini menunjukkan  bahwa nilai mean  pada kelompok intervensi sebelum diberikan intervensi adalah 24,00 dengan standar deviasi 6,325, setelah dilakukan intervensi menjadi 12,8 dengan standar deviasi 6,327. Perbedaan skor kelompok intervensi pada  pre  dan  post test   adalah 11,2 dengan standar deviasi 6,178. Data tersebut terdistribusi dengan normal sehingga uji statistik yang digunakan adalah uji t berpasangan dengan hasil nilai p < 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan tingkat depresi ibu rumah tangga dengan HIV secara signikan, setelah dilakukan intervensi SEFT. SEFT dapat direkomendasikan sebagai salah satu terapi komplementer dalam memberikan asuhan keperawatan pada ibu rumah tangga dengan HIV yang mengalami depresi. Kata kunci:  Depresi, ibu rumah tangga, HIV, SEFT Effect of Intervention Spiritual Emotional Freedom Technique toward Decrease The Level of Depression Housewife with HIV Abstract Depression is a psychiatric condition that often occurs in patients with HIV, it greatly effects the quality of life of sufferers. This impact would be worse if it happens to housewives, because they are not a risk populations. SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) could be expected to be one of the complementary therapies that help reduce depression of housewives with HIV, because it is a merger between systems of energy  psychology with spiritual powers that have the effect of doubling. This study aimed to determine the effect of SEFT interventions in decreasing the level of depression housewives with HIV. This Quasi-experimental study method with pre-test and post-test design. Respondents who t the inclusion criteria were divided into two groups: the intervention group (n = 15) and control group (n = 15). Each group measured levels of depression using the BDI (Beck Depression Invantory). The results of this study showed that the mean value of the intervention group before given intervention is 24.00 with a standard deviation of 6.325, after the intervention to 12.8 with a standard deviation of 6.327. Differences in the intervention group scores on the pre and post test was 11.2 with a standard deviation of 6.178. The data was normally distributed so that the statistical test used is paired t test with the results of the value of p <0.05. The conclusion from this study was that there are differences in the level of depression housewife with HIV signicantly, after the intervention SEFT. SEFT can be recommended as a complementary therapy in providing nursing care of housewives with HIV who are depressed. Key words : Depression, housewives, HIV, SEFT  45Volume 3 Nomor 1 April 2015 Pendahuluan  Acquired Immunodefciency Syndrome  (AIDS) merupakan kumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul akibat rusaknya sistem kekebalan di dalam tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Virus penyebab penyakit dinamakan  Human Immunodefciency Virus  (atau disingkat HIV). Virus ini bekerja dengan memperlemah sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga orang yang terkena virus ini akan rentan terhadap infeksi opportunity . Infeksi opportunity  adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak menyebabkan penyakit  pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal, tetapi dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk. Mereka membutuhkan “kesempatan” untuk menginfeksi seseorang. HIV tidak dapat disembuhkan, obat-obatan hanya dapat memperlambat laju perkembangan virus (Ditjen PP&PL 2012; Kemenkes 2012). Tahun 1981 penyakit HIV pertama kali ditemukan. UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa penyakit ini telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa, sehingga  penyakit ini merupakan salah satu epidemik  paling menghancurkan di sepanjang sejarah  peradaban manusia. WHO memperkirakan  bahwa terdapat lebih dari 33 juta orang terinfeksi HIV di seluruh dunia. Kejadian  penyakit ini di negara berkembang sekitar 90% dari jumlah keseluruhan. HIV mengakibatkan kematian 3,2 juta jiwa dan setiap harinya 1800 anak (sebagian besar bayi  baru lahir) terinfeksi HIV (Ditjen PP&PL 2012; Kemenkes 2012). Pola penularan HIV di Indonesia didominasi oleh orang yang berhubungan seks heteroseksual bukan homoseksual seperti yang menjadi stigma selama ini, sehingga kelompok ini mendominasi penyebaran HIV di Indonesia dan akhirnya penyakit ini dapat mengenai siapa saja. Perkembangan terakhir ini ditemukan kasus HIV pada kelompok ibu rumah tangga yang tidak memiliki perilaku  berisiko tinggi dan hanya berhubungan seksual dengan suaminya (Kemenkes, 2010).Awal ditemukannya yaitu tahun 1987 sampai dengan 1997, penularan HIV-AIDS didominasi oleh populasi berisiko kaum homoseksual. Tahun 1997 sampai 2007,  penularan HIV/AIDS didominasi oleh  populasi berisiko IDU (Injections Drugs Use). Tahun 2007 sampai sekarang penularan didominasi oleh pelaku seks heteroseksual, yaitu laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan wanita pekerja. Akibatnya  penularan HIV kini berkembang melalui hubungan seksual antara pelanggan pekerja seksual dan pasangan resminya (istrinya) dan dari ibu ke anaknya (KPA Nasional, 2009 ). Sementara Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Barat mencatat jumlah ibu rumah tangga yang tertular HIV sejak 2006 hingga 2012 sebanyak 763 orang (KPA Jawa Barat, 2013). Kota Bandung merupakan kota dengan angka kasus HIV/AIDS tertinggi di Jawa Barat. Sejak tahun 2006 kasus HIV mulai ditemukan pada ibu rumah tangga dan terjadi  pula peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS  pada ibu rumah tangga sebesar 2,8 % dari tahun 2009 sampai 2011. Jumlah komulatif  penderita HIV/ AIDS di Kota Bandung adalah 3114, dengan jumlah penderita pada ibu rumah tangga secara komulatif adalah 338 orang atau sebanyak 10,85%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan  populasi risiko wanita pekerja seksual yang hanya mencapai 4,05% (KPA Kota Bandung, 2014). Jumlah total ibu rumah tangga dengan HIV di Jawa Barat 44,3 % nya berada di kota Bandung.Ibu rumah tangga bukan merupakan  populasi berisiko terkena HIV/AIDS, hal ini akan lebih memperberat kondisi psikis mereka ketika mereka menerima vonis terkena HIV/AIDS. Rasa malu, takut adanya  penolakan dan stigma bahwa penyakit HIV  berasal dari perilaku yang buruk, membuat seseorang yang terkena penyakit tersebut merasa terasing dan menimbulkan dampak  psikologi yang hebat (Pohan, 2006 ; Fernandez dan Ruiz, 2006). HIV tidak hanya  berdampak kepada kondisi sik, akan tetapi sangat mempengaruhi kondisi psikiatrik seseorang yang menderitanya. Depresi adalah kondisi psikiatrik yang  banyak terjadi pada pasien dengan HIV (Candra, Desai dan Ranjan, 2005) . Kondisi tersebut sangat mempengaruhi quality of life   bagi penderitanya (Pohan, 2006). Bahkan  bagi sebagian mereka ada yang ingin melakukan bunuh diri ( Fernandez dan Ruiz, Reini Astuti: Pengaruh Intervensi SEFT terhadap Penurunan Tingkat Depresi Ibu Rumah Tangga  46Volume 3 Nomor 1 April 20152006; Hawari 2006). Kecemasan dan depresi menjadi salah satu penyebab terjadinya  bunuh diri dan berdampak pada peningkatan angka bunuh diri. Diperkirakan 5% sampai 15% dari orang-orang yang terkena depresi melakukan bunuh diri setiap tahunnya (Katzenstein, 1998 dalam Hawari, 2006).Depresi yang tidak tertanggulangi dengan  baik dapat menurunkan sistim imunitas  penderita HIV (Nursalam dan Kurniawati, 2011 ; Alemu, Mariam,Tsui, Ahmed , Shewamare, 2011). Keadaan depresi dapat menurunkan fungsi imun, fungsi sel-sel“natular killer” dan reaksi lymphocyte  sehingga berkontribusi pada percepatan  penurunan jumlah CD4 penderitanya, dengan demikian kemungkinan infeksi opportunity  lebih tinggi (Burack, Barrett, & Stall, 1993). Depresi juga dapat memperburuk kondisi kesehatan penderita HIV (Ironson, Balbin, Stuetzle, Fletcher, O’Cleirigh, Laurenceau, Schneiderman, Solomon, 2005) karena secara siologis HIV menyerang sistim kekebalan tubuhnya. Jika penderitanya juga mengalami depresi maka dapat mempercepat terjadinya AIDS dan meningkatkan kematian (Nursalam dan Kurniawati, 2011). Penderita HIV yang mengalami depresi rentan terhadap  penyakit dua kali lebih sering dibanding  penderita HIV yang tidak mengalami depresi (Ironson dkk., 2005). Selain itu keadaan depresi yang dialami oleh penderita HIV dapat memengaruhi ketidakpatuhannya terhadap pengobatan (Carter, 2011). SEFT merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk menurunkan tingkat depresi. Keefektifan SEFT terletak pada pengabungan antara Spiritual Power   dengan  Energy Psychology . Spiritual Power memiliki lima prinsip utama yaitu ikhlas, yakin, syukur, sabar dan khusyu.  Energy Psychology  merupakan seperangkat  prinsip dan teknik memanfaatkan sistem energi tubuh untuk memerbaiki kondisi  pikiran, emosi dan perilaku (Freinstein dalam Zainudin, 2012 ). Ketidakseimbangan kimia dan gangguan energi dalam tubuh manusia dapat menyebabkan gangguan emosi, termasuk depresi. Intervensi SEFT  pada sistim energi tubuh inilah yang dapat mengubah kondisi kimia di dalam otak (neurotransmitter)  yang selanjutnya dapat mengubah kondisi emosi seseorang termasuk kondisi depresi. Selain itu SEFT efektif, mudah, cepat, murah, efeknya dapat  permanen, tidak terdapat efek samping,  bersifat universal, memberdayakan individu (tidak tergantung pada pemberi terapi), dapat dijelaskan secara ilmiah (Zainudin, 2012). Melihat berbagai hal tersebut di atas, maka penulis berkeinginan untuk melakukan  penelitian tentang pengaruh intervensi SEFT terhadap penurunan tingkat depresi, pada ibu rumah tangga dengan HIV. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh intervensi SEFT ( Spiritual Emotional Freedom Technique ) terhadap penurunan tingkat depresi pada ibu rumah tangga dengan HIV di Kota Bandung. Metode Penelitian  Metode penelitian yang digunakan pada  penelitian ini adalah quasi-experimental  dengan  pretest and posttest design , menggunakan kelompok kontrol untuk dapat menguji adanya sebab dan akibat pada sebuah fenomena. Pemilihan responden  penelitian tidak dilakukan secara acak (Polit and Beck, 2006; Supranto, 2000) . Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling  dengan metode  purposive sampling.  Kriteria inklusi  penelitian ini, ibu rumah tangga dengan HIV yang beragama Islam, bersedia menjadi responden, dapat membaca dan menulis. Instrumen dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur tingkat depresi pada ibu rumah tangga dengan HIV. Alat ukur yang digunakan adalah BDI (  Beck Depression  Inventory ). BDI merupakan alat ukur yang dapat dipercaya untuk mendeteksi ada atau tidaknya depresi secara cepat dan tepat serta dapat memperlihatkan tingkat keparahan  penderitanya, dengan skor lebih dari 17 dan kurang dari 40, responden berada dalam rentang usia produktif (18 – 45 tahun, memiliki Insight (kesadaran diri). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga dengan HIV yang memiliki keterbatasan pendengaran dan penglihatan (tuna rungu dan tuna netra). Penentuan  jumlah sampel dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Reini Astuti: Pengaruh Intervensi SEFT terhadap Penurunan Tingkat Depresi Ibu Rumah Tangga  47Volume 3 Nomor 1 April 2015 Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengantisipasi hilangnya unit eksperimen, dilakukan koreksi dengan 1/(1-f), di mana f adalah proporsi unit eksperimen yang hilang atau mengundurkan diri atau drop out  . Penelitian ini terdapat droup out   pada kelompok intervensi sebanyak 1 orang pada hari ke 3. Kelompok intervensi menjadi 15 orang, dan agar hasilnya lebih homogen maka kelompok kontrol pun menjadi 15 orang juga. Setelah mendapatkan persetujuan responden, kemudian dilakukan pengukuran tingkat depresi pada ibu rumah tangga dengan HIV pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol, pada kelompok intervensi diberikan intervensi SEFT ( Spiritual  Emotional Freedom Technique ) sebanyak empat kali. Pada akhir sesi dilakukan  pengukuran kembali tingkat depresi pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol.Penelitian ini menggunakan analisa univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi, presentase dari karakteristik responden meliputi usia, status marital, tingkat pendidikan, agama dan lamanya terdiagnosa HIV. Selain karakteristik responden analisis univariat ini bertujuan untuk melihat gambaran karakteristik responden yang mengalami depresi pada responden kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Analisa bivariat dalam  penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh intervensi SEFT terhadap penurunan tingkat depresi. Hasil Penelitian Karakteristik Responden Tabel 1 menggambarkan bahwa mayoritas responden baik kelompok kontrol dan kelompok intervensi termasuk dalam katagori dewasa madya (29–39 tahun) yaitu sebanyak 56,67%. Sedangkan untuk status pernikahan responden yang berstatus menikah sebanyak 76,67 %. Status pendidikan, persentase yang terbanyak adalah SMA sebanyak 43,33 %. Sedangkan untuk lamanya terdiagnosis HIV sebanyak 84,8% responden menyatakan telah terdiagnosis antara 1–5 tahun. Tabel 2 memperlihatkan tingkat depresi  pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum dilakukan intervensi SEFT ( Spiritual Emotional Freedom Technique ). Hasilnya menunjukkan bahwa Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia, Pendidikan, Status Pernikahan, Agama dan Lamanya Terdiagnosa HIV NoVariabelKontrolPersentaseIntervensiPersentasenn 1Umur responden18-28 tahun (dewasa awal)960%426,70%29-39 tahun (dewasa madya)640%1173,30%40-49 (dewasa akhir)2Status PernikahanTidak Menikah (janda)320%426,70%Menikah1280%1173,30%3Tingkat PendidikanSD16,70%SMP213,33%1066,70%SMA960%426,70%PT426,6 %4Lamanya terdiagnosa HIV1–5 tahun1483,33%1173,30%6–10 tahun116,66 %426,70% Reini Astuti: Pengaruh Intervensi SEFT terhadap Penurunan Tingkat Depresi Ibu Rumah Tangga
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks