Documents

13 pages
5 views

Fiqh Prioritas

of 13
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
fiqh prioritas
Transcript
  Fiqh Prioritas oleh Dr. Yusuf Qardhawi I.A. PENDAHULUAN Fiqh prioritas ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum,nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari'ah yang shahih,yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal. Sehingga sesuatu yang tidak penting, tidak didahulukan atas sesuatu yang penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang tidak kuat(marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu yang biasa- biasa saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama. I.B. KEBUTUHAN UMAT KITA SEKARANG AKAN FIQH PRIORITAS Kacaunya Timbangan Prioritas pada Umat Apabila kita memperhatikan kehidupan kita dari berbagai sisinya --baik dari segi material maupun spiritual, dari segi pemikiran, sosial, ekonomi,  politik ataupun yang lainnya--maka kita akan menemukan bahwa timbangan prioritas pada umat sudah tidak seimbang lagi. Dalam aktivitas pemudanya kita menemukan bahwa perhatian terhadap olahraga lebih diutamakan atas olah akal pikiran, sehingga makna pembinaan remaja itu lebih berat kepada pembinaan sisi jasmaniah mereka dan bukan pada sisi yang lainnya. Lalu, apakah manusia itu hanya badan saja, akal pikiran saja, ataukah jiwa saja? Penyimpangan Orang-orang Beragama Dewasa ini dalam Fiqh Prioritas Penyimpangan terhadap masalah fiqh ini tidak hanya terjadi di  kalangan awam kaum Muslimin, atau orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus di kalangan mereka, tetapi penyimpangan itu juga dilakukan oleh orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada agama ini, karena tidak adanya fiqh dan pengetahuan yang  benar. -   Pada masa-masa kemunduran, banyak kaum Muslimin yang terjebak pada suatu  perbuatan yang hingga hari ini masih mereka lakukan; di antaranya ialah: 1) Mereka tidak mengindahkan --sampai kepada suatu batas yang sangat besar-- fardhu-fardhu kifayah yang berkaitan dengan umat secara menyeluruh. Seperti peningkatan kualitas ilmu pengetahuan, perindustrian, dan kepiawaian dalam peperangan, yang dapat menjadikan umat betul-betul mandiri, dan tidak hanya berada di dalam slogan dan omong kosong belaka; ijtihad dalam masalah fiqh dan penyimpulan hukum; penyebaran da'wah Islam, pendirian  pemerintahan yang disepakati bersama berdasarkan janji setia (bai'at) dan pemilihan yang  bebas; melawan pemerintahan yang zalim dan menyimpang dari ajaran Islam. 2) Di samping itu, mereka juga mengabaikan sebagian fardhu 'ain, atau melaksanakannya tetapi tidak sempurna. Seperti melaksanakan kewajiban amar ma'ruf dan nahi mungkar, di mana Islam menyebutnya terlebih dahulu sebelum menyebut persoalan shalat dan zakat ketika ia menjelaskan sifat-sifat masyarakat yang beriman. 3) Perhatian mereka tertumpu kepada sebagian rukun Islam lebih banyak dibanding perhatian mereka kepada sebagian rukun yang lain. Ada di antara mereka yang memperhatikan puasa lebih banyak daripada perhatian terhadap shalat 4) Mereka memperhatikan sebagian perbuatan sunnah lebih daripada perhatian mereka terhadap perbuatan yang fardhu dan wajib 5) Mereka memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk memperdulikan ibadah-ibadah individual, seperti shalat dan zikir, dibanding perhatian yang diberikan kepada ibadah-ibadah sosial yang besar sekali faidahnya, seperti jihad, fiqh, memperbaiki jalinan silaturahim di antara manusia 6) Akhir-akhir ini kebanyakan di antara mereka memiliki kecenderungan untuk mempedulikan masalah-masalah furu'iyah dan mengabaikan masalah-masalah pokok.  7) Di antara kesalahan yang mereka lakukan juga ialah kesibukan kebanyakan manusia dalam memerangi hal-hal yang makruh dan syubhat lebih banyak dibandingkan dengan kesibukan mereka memerangi hal-hal yang diharamkan dan telah menyebar luas di kalangan mereka atau mengembalikan kewajiban yang telah hilang II. HUBUNGAN ANTARA FIQH PRIORITAS DAN FIQH PERTIMBANGAN Peran terpenting yang dapat dilakukan oleh fiqh pertimbangan ini ialah: 1) Memberikan pertimbangan antara berbagai kemaslahatan dan manfaat dari berbagai kebaikan yang disyariatkan. 2) Memberikan pertimbangan antara berbagai bentuk kerusakan, madharat, dan kejahatan yang dilarang oleh agama. 3) Memberikan pertimbangan antara maslahat dan kerusakan, antara kebaikan dan kejelekan apabila dua hal yang bertentangan ini bertemu satu sama lain. Dalam memberikan pertimbangan terhadap berbagai kepentingan tersebut, kita dapat mempergunakan kaidah berikut ini: a.   Mendahulukan kepentingan yang sudah pasti atas kepentingan yang baru diduga adanya, atau masih diragukan.  b.   Mendahulukan kepentingan yang besar atas kepentingan yang kecil. c.   Mendahulukan kepentingan sosial atas kepentingan Individual d.   Mendahulukan kepentingan yang banyak atas kepentingan yang sedikit. e.   Mendahulukan kepentingan yang berkesinambungan atas kepentingan yang sementara dan insidental. f.   Mendahulukan kepentingan inti dan fundamental atas kepetingan yang bersifat formalitas dan tidak penting. g.   Mendahulukan kepentingan masa depan yang kuat atas kepentingan kekinian yang lemah. PERTIMBANGAN ANTARA KERUSAKAN DAN MADHARAT YANG SATU DENGAN LAINNYA Tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan. Suatu bahaya sedapat mungkin harus disingkirkan. Suatu bahaya tidak boleh disingkirkan dengan bahaya yang sepadan atau yang lebih besar.   Bahaya yang lebih ringan, dibandingkan dengan bahaya lainnya yang mesti dipilih, boleh dilakukan Bahaya yang lebih ringan boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang lebih besar. Bahaya yang bersifat khusus boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang sifatnya lebih luas dan umum. HUBUNGAN ANTARA FIQH PRIORITAS DAN FIQH TUJUAN SYARI'AH Di antara pemahaman terbaik kita terhadap ajaran agama Allah ialah bila kita mengetahui tujuan pemberian beban kewajiban yang mesti kita lakukan, sehingga kita dapat mewujudkan tujuan tersebut, dan tidak memaksa diri kita dan juga orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak berkaitan dengan tujuan syari'ah. HUBUNGAN ANTARA FIQH PRIORITAS DAN FIQH NASH Fiqh seperti ini sangat penting sekali untuk memahami Sunnah Nabi, karena seringkali terjadi  pencampuradukan pemahaman antara Sunnah Nabi dan al-Qur'an; karena kedudukan Sunnah  Nabi sebagai penjelas dan pemerinci al-Qur'an al-Karim, sehingga dia banyak masuk kepada hal-hal yang parsial dan pada tahap  pelaksanaannya. Selain ibu, di dalam Sunnah Nabi juga terdapat penetapan syari'ah (tasyri'), yang melupakan masalah pokok; dan juga ada perkara yang sifatnya bukan penetapan syari'ah, misalnya hadits yang berkaitan dengan pengawinan pohon kurma. Disamping itu, dalam Sunnah Nabi juga ada penetapan syari'ah yang bersifat langgeng (kontinyu) dan ada pula yang sifatnya insidental; ada penetapan syari'ah yang bersifat umum, dan ada pula yang bersifat khusus. Di mana untuk berbagai  persoalan tersebut telah banyak dirinci oleh para ulama yang lain. III. MEMPRIORITASKAN KUALITAS ATAS KUANTITAS DI ANTARA hal-hal terpenting yang perlu diprioritaskan menurut pandangan syariat ialah: Mendahulukan kualitas dan jenis urusan atas kuantitas dan volume pekerjaan. Yang perlu mendapat perhatian kita bukanlah banyak dan besarnya persoalan yang dihadapi, tetapi kualitas dan jenis pekerjaan yang kita hadapi. PRIORITAS ILMU ATAS AMAL
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks