Documents

17 pages
112 views

-emergency-orthopedi-final-docx.docx

of 17
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
BAB I PENDAHULUAN Kejadian kegawatan ortopedi (emergency orthopedics) banyak dijumpai. Penanganan emergency orthopedics telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan kontribusi yang sangat untuk menunjang penanganan emergency orthopedics. Tenaga medis dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses perawatan emergency o
Transcript
  1 BAB I PENDAHULUAN Kejadian kegawatan ortopedi ( emergency orthopedics ) banyak dijumpai. Penanganan emergency orthopedics telah mengalami perkembangan yang sangat  pesat. Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan kontribusi yang sangat untuk menunjang penanganan emergency orthopedics. Tenaga medis dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses  perawatan emergency orthopedics  pertama kali di IGD yang komprehensif, yang dimulai dari pengkajian yang komprehensif, perencanaan intervensi yang tepat, implementasi tindakan, evaluasi hasil yang ditemukan selama perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis. Kasus-kasus yang termasuk dalam emergency orthopedics, yaitu open fracture, compartment syndrome , dislokasi dan fractur dislokasi, lesi vascular besar,  septic arthritis, acute osteomyelitis , unstable pelvis, fat emboli , unstable cervical spine , dan traumatic amputasi. Berdasar sifatnya emergency orthopedics dibedakan menjadi dua, yaitu sifatnya yang mengancam jiwa ( life threatening   ) dan yang mengancam kelangsungan ekstremitas (  limb threatening  ). Kejadian fraktur banyak ditemukan saat ini, begitu  juga kasus open fraktur di IGD. Kalau tidak ditangani akan menjadikannya infeksi kronis yang  berkepanjangan.“ Once osteomyelitis, forever  ” : Appley. Jangan sampai melewati Golden periode (0 s/d 6 jam) pada awalnya infestasi kuman masih melekat secara fisik, sesudah itu akan melekat secara kimawi dan sulit dibersihkan dengan  pencucian saja. Penanganan definitif fraktur ada yang perlu tindakan operatif ada yang tidak. Fraktur yang harus di operasi : Fraktur yang gagal dengan tindakan konservatif, fraktur i ntra artikuler, fraktur  joint depressed   lebih dari 5 mm, fraktur avulsi akibat tarikan ligament, dan fraktur dengan atrioventriculer node disturbances . Kasus emengency ortopedics lain adalah compartment syndrome .   Compartment syndrome  adalah peningkatan tekanan intra compartement (Osteofascial compartement) pada cruris atau pada Antebrachii akibat peningkatan  permeabilitas sesudah terjadinya trauma, menyebabkan odema dan menghalangi aliran arteri yang menyebabkan ischemia jaringan yang diikuti gejala klinis 5 P (Pulseless, Pale, Pain, Paraestesi, Paralyse). Bila tak segera dilakukan fasciotomi akan  2 menyebabkan nekrosis otot dan timbul cacat menetap volkmann ischemic contracture.  Selain kasus open fraktur dan kompartemen sindrom, kejadian dislokasi dan fractur dislokasi juga bisa ditemui di IGD. Pada keadaan normal cartilage mendapat nutrisi dari cairan synovial yang berasal dari darah yang sudah tersaring eritrositnya, terjadi diffusi masuk ke  joint space  bila terjadi mekanisme gerak sendi. Saat dislokasi nutrisi terhenti. Cartilage yang mati sulit regenerasi. Penanganan dislokasi adalah segera reposisi dan stabilisasi 2-3 minggu. Selain kasus kasus di atas, lesi vasculer besar juga termasuk dalam emergency orthopedics. Lesi vaskuler besar yang tersering adalah arteri poplitea dan arteri radialis, juga plexus vein sacral pada sacro iliac disruption atau unstable pelvis atau fractur malgaigne. Kasus emergency ortopedic lain adalah septic arthritis. Pasien akan mengalami panas badan , nyeri sendi sangat hebat bila digerakkan. Area yang sering terkena septic artritis adalah sendi panggul (coxitis) dan lutut (gonitis). Pus yang ada dalam sendi akan merusak sendi, bila tidak segera ditangani, maka arthrotomi pilihan terapi septic artritis pada sendi yang rusak. Dan, acute osteomyelitis merupakan kasus emergency ortopedics . Osteomelitis akut menunjukkan gejala panas, nyeri bila extremitas yang mengalami infeksi dipegang, tanda radang ( rubor, color , dolor , palor, functio laesa). Komplikasi osteomelitis akut adalah sepsis. Lalu,  fat emboli , unstable cervical spine , dan traumatic amputasi juga merupakan kasus emergency ortopedics . Fraktur pelvis dapat bersifat unstable apabila cincin pelvis mengalami kerusakan pada 2 tempat atau lebih, biasanya terjadi karena high energy injury. Pada daerah pelvis terdapat plexus plexus vena, jika ada trauma seringkali menyebabkan  pecahnya pembuluh darah ini, dan pendarahan baru berhenti jika cavum pelvis terisi  penuh dengan darah. Pada fraktur unstable, pendarahan tidak berhenti karena pelvis tidak terfiksasi dengan sempurna.  Fat emboly  sering terjadi 3-5 hari sesudah fraktur tulang panjang (femur & tibia).  Fat globule  dari sumsum tulang masuk sirkulasi dan bila masuk ke otak akan mengganggu kesadaran, serta bila masuk paru mengakibatkan sesak. Pertolongan fat emboli adalah oxygenasi dengan PEEP (  positive expirasi end pressure ) respirator   dan heparin atau antikoagulan. Diharapkan dengan mengetahui penanganan awal kasus emergency ortopedic dapat menyelamatkan nyawa ( life threatening   ) dan yang menyelamatkan extremitas (  save the limb ).  3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.   OPEN FRACTURE Dikatakan fraktur terbuka jika terdapat hubungan antara daerah yang fraktur dengan dunia luar, biasanya karena kulit di atasnya sudah tidak intak. Fraktur merupakan terbuka emergensi bedah ortopedi, karena risiko untuk terjadinya infeksi  pada tulang yang fraktur tinggi. Komplikasi jangka panjang adalah terancamnya fungsi tungkai, dan dalam kasus infeksi sistemik dapat mengancam jiwa (Budiman, 2010). Manajemen fraktur awal adalah untuk mengontrol perdarahan, mengurangi nyeri, mencegah iskemia-reperfusi cedera, dan mencegah kontaminasi serta infeksi misal benda asing dan jaringan nonviable. Hal ini akan meminimalkan komplikasi yang mungkin dapat terjadi (Buckley, 2012). a.   Klasifikasi Fraktur Terbuka Dibawah ini menjelaskan suatu klasifikasi fraktur terbuka menurut Gustilo/Anderson (Rasjad, 2007): Tipe Fraktur Deskripsi I Kulit terbuka < 1 cm, bersih; paling mungkin lesi dalam daripada luar; kontusio otot minimal, fraktur transversum atau oblique yang sederhana II Laserasi > 1 cm dengan kerusakan jaringan lunak luas,  flap , atau avulsi; kehancuran minimal sampai sedang; fraktur transversum atau oblique pendek yang sederhana dengan kominutif minimal III Kerusakan jaringan lunak luas, termasuk otot, kulit dan struktur neurovaskular; seringnya cedera kecepatan-tinggi dengan komponen kehancuran yang berat III A Laserasi luas, mencakup tulang adekuat; fraktur segmental, cedera tembak III B Kerusakan jaringan lunak luas dengan terkupasnya periosteal dan ekspos tulang, biasanya berhubungan dengan kontaminasi luas III C Cedera vaskular membutuhkan perbaikan  4 b.   Penatalaksanaan Fraktur Terbuka Tantangan penatalaksanaan yang sulit pada fraktur terbuka telah dikenal selama berabad-abad. Amputasi telah menjadi pengobatan menetap sampai  pertengahan abad ke 18, dimana teknik antiseptik mulai digunakan. Antiseptik,  bersama dengan debridement   semua jaringan yang terkontaminasi dan devitalisasi, membuktikan reduksi pertama pada mortalitas. Kemajuan serentak  pada profilaksis antibiotik, debridement   agresif dan manajemen luka terbuka,  flap  otot rotasional, transfer jaringan bebas, dan teknik cangkok tulang memperlihatkan peningkatan yang dramatis pada kemampuan seorang dokter untuk menangani fraktur terbuka berat sebagai akibat dari kecelakaan kendaraan  bermotor dan luka tembak. Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi risiko infeksi. Selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak (Rasjad, 2007). Penangan fraktur terbuka di IGD: 1.   ABCD  Nilai status kesadaran, bebaskan airway, breathing, resusitasi cairan, dan hentikan perdarahan. 2.   Cuci luka Mencuci luka dengan larutan NaCl fisiologis bertujuan menghilangkan kontaminasi makro dan bekuan darah yang dapat meminimalkan kontaminasi serta kerusakan jaringan (Schaller,2012). 3.   Debridement dalam  golden period   (6 jam) dengan general anestesia. Adanya jaringan yang mati akan mengganggu proses penyembuhan luka dan merupakan daerah tempat pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit, jaringan subkutaneus, lemak, fasia, otot dan fragmen-fragmen yang lepas (Buckley, 2012). 4.   Imobilisasi, luka ditutup kain bersih, fragmen jangan dimasukkan Pembidaian dan imobilisasi fraktur penting pada emergensi ortopedi. Fungsinya adalah untuk mengontrol nyeri dan pembengkakan, mengurangi deformitas/dislokasi, dan imobilisasi fraktur atau cedera. Tujuan pembidaian dan imobilisasi adalah membebaskan nyeri, meningkatkan penyembuhan, stabilisasi fraktur, mencegah sehingga cedera lebih lanjut. Untuk fraktur
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks