Paintings & Photography

18 pages
3 views

A

of 18
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
A
Transcript
  A.   Pengertian Berpikir   Ada berbagai macam definisi yang bisa dijadikan sebagai rujukan untuk memahami definisi berpikir. Diantaranya;      Philip L. Harriman mengungkapkan, bahwa berpikir adalah suatu aktivitas dalam menanggapi suatu situasi yang tidak objektif yang menyerang organ panca indera.      Drever mengemukakan masalah berpikir sebagai berikut: “ thinking is any course or train of ideas; in the narrower and stricter sense, a course of ideas initiated by a problem” . Artinya,  bahwa berpikir bertitik tolak dari adanya persoalan atau problem yang dihadapi secara individu.      Menurut Floyd L. Ruch, berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak.   Dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana, berpikir dapat didefinisikan sebagai  proses yang intens untuk memecahkan masalah dengan meghubungkan satu hal dengan yang lainnya. Sebagaimana yang diungkapkan Anita Taylor, bahwa berpikir adalah proses  penarikan kesimpulan (thinking is a inferring process).    Namun bagaimanapun berpikir adalah proses. Berpikir muncul ketika melihat realitas dan fenomena yang ada di sekitar. Selama berada dalam keadaan jaga, gagasan-gagasan akan tercampur dengan ingatan, gambaran, fantasi, persepsi, dan asosiasi-asosiasi. Dalam proses  berpikir orang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lain untuk mendapatkan  pemecahan dari persoalan yang dihadapi. Pengertian-pengertian itu merupakan bahan atau materi yang digunakan dalam proses berpikir yang dapat dinyatakan dengan kata-kata, gambar, simbol-simbol atau bentuk-bentuk lainnya.   Sementara itu, berpikir sangat bergantung terhadap situasi dan kondisi, konsep dan lambang, serta bahasa yang dipergunakan. Karena warga masyarakat dari kebudayaan tertentu akan membentuk konsep-konsep dan menemukan kecocokan dengan situasi tertentu.   Ada beberapa langkah dalam berpikir, sebagaimana yang diungkapkan oleh Usman Najati, yaitu;    Pertama  : kesadaran akan adanya problem    Kedua  : perhimpunan data mengenai problem yang dihadapi    Ketiga  : penyusunan dan penilaian terhadap hipotesis    Keempat   : pengujian kebenaran hipotesis   B.   Jenis-jenis Berpikir  Secara garis besar, ada dua macam berpikir; berpikir austistik dan berpikir realistik. Berpikir autistik adalah proses berpikir yang biasa dikenal dengan melamun, seperti fantasi, menghayal, dan lain sebagainya. Berpikir autistik menjadikan seseorang lari dari kenyataannya dan memandang semua yang anda sebagai gambar-gambar fantastis. Pada kondisi seperti ini, berpikir autistik merupakan kegiatan mental yang melantur dan tidak mempunyai tujuan serta arah tertentu. Sementara berpikir realistis adalah proses berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata dan diharapkan dengan itu akan mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi, disebut   juga dengan nalar (reasoning). Floyd L. Ruch membagi berpikir realistik menjadi tiga bagian; Deduktif, Induktif, dan Evaluatif. y Berpikir deduktif, merupakan proses berpikir yang dimulai dari hal-hal yang bersifat umum pada hal-hal yang bersifat khusus. Dalam logika, ini disebut dengan silogisme. y Berpikir induktif, merupakan kebalikan dari berpikir deduktif yaitu proses pengambilan keputusan dimulai dari hal-hal yang bersifat khusus menuju umum. Istilah ini dikenal dengan generalisasi. Ketepatan berpikir induktif bergantung pada memadainya kasus yang dijadikan dasar. y Berpikir evaluatif, yaitu proses berpikir secara kritis untuk menilai baik atau buruk, tepat atau tidak, bahkan bermanfaat atau tidaknya sebuah gagasan. Karena proses ini merupakan proses berpikir yang bebas, maka seseorang bisa saja untuk menambah atau mengurangi gagasan. Ada lagi yang menambahkan dengan, y Berpikir analogi, adalah berpikir yang didasarkan pada pengenalan kesamaan. Biasanya, hal ini dengan menggunakan perbandingan atau kontras. Menurut Robert J. Sternberg, “kita berpikir secara analogis setiap kali kita menetapkan keputusan tentang sesuatu yang baru dalam pengalaman kita, den gan menghubungkannya pada suatu yang sama pada masa lalu kita”.  Ada lagi jenis-jenis berpikir yang dijabarkan oleh Sarlito; y Berpikir asosiatif, adalah proses berpikir dimana suatu ide merangsang timbulnya ide lain. Cara berpikir asosiatif dibagi menjadi dua macam; 1. Asosiasi bebas: satu ide aan menimbulkan ide mengenai hal lain, yaitu hal apa saja yanpa ada batasannya. Misalnya ide tentang makan, dapat menimbulkan ide tentang restoran atau dapur. 2. Asosiasi terkontrol, satu ide tertentu akan menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas- batas tertentu. Misalnya ide tentang “membeli mobil” akan memunculkan ide lain tentang harganya, pajaknya, pemeliharaannya, mereknya, atau mungkin modelnya. 3. Melamun, mengkhayal secara bebas sebebas bebasnya tanpa batas, bahkan mengenai hal-hal yang tidak realistis dan tidak logis. 4. Mimpi, ide-ide tentang beberapa hal yang timbul secara tidak sadar pada waktu tidur. 5. Berpikir artistik, adalah proses berpikir yang sangat subjektif, jalan pikiran sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa menghiraukan sekitar. y Berpikir terarah, yaitu proses berpikir yang sudah ditentukan sebelumnya dan diarahkan kepada sesuatu, biasanya diarahkan kepada pemecahan persoalan. Ada dua macam berpikir terarah, yaitu; 1. Berpikir kritis, adalah berpikir yang bertujuan untuk membuat keputusan atau pemelihan terhadap suatu keadaan. 2. Berpikir kreatif, adalah berpikir untuk menemukan hubungan baru antara berbagai hal.    C.   Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan  Apa tujuan berpikir? Rahmat memberikan batasan bahwa berpikir adalah untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (making decision), memecahkan permasalahan (problem solving), dan menghasilkan sesuatu yang baru (creativity). Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Walgito, bahwa tujuan dari berpikir adalah untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Bahkan menurut Taylor, berpikir adalah untuk menarik kesimpulan. Pendapat yang sedikit berbeda diungkapkan oleh Usman Najati, bahwa fungsi berpikir adalah untuk memilih antara kebenaran dan kebatilan, antara kebajikan dan kejahatan, menyikapi realitas, memperoleh ilmu pengetahuan dan mengangkat manusia pada tingkat perkembangan dan kesempurnaan, sehingga apabila seseorang telah sampai pada kondisi demikian, akan melahirkan pemikiran yang besar nilainya dalam kehidupan. 1) Mengambil keputusan (making decision)  Salah satu fungsi berpikir adalah untuk menentukan keputusan. Penentuan keputusan merupakan sebuah keniscayaan karena dalam hidup ini akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membutuhkan akhir, yakni sebuah keputusan. Keputusan yang diambil beraneka ragam, namun tanda-tanda secara umumnya ada beberapa  point  ; a. Keputusan merupakan hasi l berpikir; hasil usaha intelektual b. Keputusan selalu melibatkan pilihan dan berbagai alternatif c. Keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun dalam pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan. Selain itu, dalam menghasilkan keputusan ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi; a. Kognisi atau kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki. b. Motif dan motivasi c. Sikap dan emosi 2) Memecahkan persoalan atau masalah (problem solving)  Dalam hidup ini, seseorang terbiasa dengan berbagai kebiasaan, namun ada kalanya pada kondisi tertentu ada hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan cara yang selama ini menjadi kebiasaan. Maka, diperlukan adanya cara baru yang bisa mengatasi masalah itu. Dan itulah yang dinamakan berpikir. Proses memecahkan masalah itu berlangsung melalui lima tahap; a. Terjadi peristiwa ketika prilaku yang biasa dihambat karena sebab-sebab tertentu b. Mencoba menggali memori untuk mengetahui cara-cara apa saja yang efektif pada masa lalu  c. Mencoba seluruh kemungkin pemecahan yang pernah diingat atau dapat dipikirkan d. Mulai menggunakan lambang-lambang verbal atau grafis untuk mengatasi masalah; berpikir lebih mendalam. e. Kemudian, timbullah dalam pikiran suatu pemecahan Ada beberapa faktor yang memengaruhi proses pemecahan masalah, yaitu; a. Motivasi Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian, dan motivasi yang terlalu tinggi membatasi fleksibelitas. b. Kepercayaan dan sikap yang salah. Asumsi yang dapat menyesatkan. Kerangka rujukan yang tidak cermat untuk menghadapi efektivitas pemecahan masalah. Seperti sikap defensif misalnya. c. Kebiasaan Kebiasaan disini berarti keberanian untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Beralih dari rigid mental set menuju  flexible mental set. Artinya, sesuatu yang sudah dihasilkan akan bisa diganti dengan yang lain jika yang sudah ada tidak mampu menjawab masalah yang dihadapi. d. Emosi Bagaimanapun emosi memengaruhi pola berpikir dalam bentuk efisiensi dan kegunaan, karena seseorang tidak dapat betul-betul berpikir objektif. e. Menurut Coleman ”takut mungkin melebih -lebihkan kesulitan persoalan dan menimbulkan sikap resah yang melumpuhkan tindakan; marah mendorong tindakan impulsif dan kurang dipikirkan;dan kecemasan sangat membatasi kemampuan kita melihat masalah dengan jelas atau merumuskan kemungkinan  pemecahan…”   Disamping faktor tersebut, ada beberapa faktor lain yang juga memengaruhi proses pemecahan masalah; yakni faktor situasional dan faktor biologis. Pada faktor situasional misalnya seperti sifat-sifat masalah; sulit-mudah, baru-lama, penting-kurang, dan lain sebagainya. Faktor biologis, misalnya: terlalu lapar, setengah lapar, kurang tidur, dan berbagai kondisi lainnya. D.   Berpikir Kreatif   Salah satu fungsi dari berpikir adalah untuk menghasilkan gagasan yang baru (creativity). Maka berpikir secara kreatif berarti berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru, yang lain dari yang sudah ada. Menurut James C. Colemean dan Coustance L. Hammen, berpikir kreatif adalah “think  ing which procedure new methods, new concepts, new understandings, new inventions, new work of art.”   Orang-orang kreatif kebanyakan menggunakan cara berpikir secara analogis karena mereka mampu melihat berbagai hubungan yang tudak terlihat oleh orang lain. Orang yang biasa juga sering berpikir  analogis, tetapi berpikir analogisyang dilakukan oleh orang kreatif ditandai oleh sifatnya yang luar biasa, aneh, dan kadang-kadang tidak rasional. Bahkan ada asumsi bahwa orang kreatif adalah orang gila, karena pada baik orang gila maupun orang kreatif mempunyai kesamaan; berpikir tidak konvensional. Tapi pikiran orang gila tidak memberikan pencerahan atau memecahkan masalah. Guilford membedakan antara berpikir kreatif dan tidak kreatif dengan konsep berpikir konvergen dan divergen. Orang kreatif ditandai dengan pola berpikir divergen, yakni mencoba untuk menemukan berbagai perbedaan dan bias dengan kreativitas yang biasanya dapat diukur dengan  fluency, flexibilitas, dan srcinality.  Berpikir kreatif mempunyai beberapa mekanisme atau proses yang harus dilalui. Menurut para psikolog, ada lima tahap berpikir kreatif, diantaranya; y Orientasi; masalah dirumuskan, dan aspek-aspek masalah diindentifikasi. y Preparasi; berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah. y Inkubasi; proses pemberhentian sementara ketika berbagai masalah berhadapan dengan jalan buntu. Tetapi mekipun begitu, proses berpikir berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar. y Iluminasi; ketika masa inkubasi berakhir dengan ditemukannya solusi untuk memecahkan masalah. y Verifikasi; tahap untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan pada tahap keempat. Ciri-ciri orang kreatif menurut Coleman dan Hammen adalah sebagai berikut; 1. Kemampuan kognitif; termasuk disini adalah kecerdasan yang berada di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan baru dan berbeda. 2. Sikap yang terbuka; orang kreatif mempersiapkan diri menerima stimulasi internal dan eksternal; memiliki pikiran yang beragam dan luas. 3. Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif cenderung tidak mau didikte karena ia ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya; ia tidak ingin terlalu terikat pada konvensi-konvensi sosial. Karena alasan inilah mungkin yang menyebabkan orang kreatif sering dianggap nyentrik dan gila. E.   Faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kreatif   Berpikir kreatif tumbuh subur bila ditunjang oleh faktor personal dan situasional. Menurut Coleman dan Hammen, faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif adalah : 1. Kemampuan Kognitif : Termasuk di sini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks