Documents

3 pages
113 views

Bujur Sangkar Indonesia

of 3
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
f
Transcript
  Bujur Sangkar Indonesia Ya, kita sering membangun dinding bujur sangkar untuk membatasi diri sendiri dengan orang lain. Kita sering mendirikan tiang-tiang pancang berikut pembatas agar diri sendiri tidak keluar dari kandang yang kita bangun sendiri. Ada pula yang membungkus erat diri dengan  plastik ketat seperti koper-koper di bandar udara. Kita sering, mungkin selalu. Hari ini saya mau bicara soal perbedaan. Soal kebhinekaan, yang biasanya orang ngomong tanpa tahu artinya. Indonesia itu, ya Indonesia. Yang merasa bangga Indonesia mempunyai begitu banyak keberagaman harusnya mencari alasan lain sebelum Indonesia beserta keberagamanannya  berbalik membunuh. Budaya, termasuk bahasa, alat musik, baju, adat, dan lain-lain, yang  begitu banyak di Indonesia memang ada, terus kalau ada kamu mau apa? Saya mau apa dengan itu? Hidupku akan begitu terus, akan begini terus. Tidak ada maknanya  buat saya. Budaya ini hasil kehidupan orang zaman dulu, sebuah pencapaian yang luar biasa  buat mereka, agar mereka bisa hidup dengan tatanan aturan-aturan yang dibuat baik. Sehingga, apa pentingnya buat hidup saya sekarang? Heeeemmmm…  Keberagaman itu seperti bentang alam Indonesia yang luar biasa. Tanpa kita melakukan apa  pun, alam itu akan bagus. Tidak perlu ngapa-ngapain. Diem aja. Lalu apa yang harus kita  banggakan dari situ ya? Papa pernah bilang, jangan cepat bangga dengan hasil diri sendiri, tapi liat kebanggaan orang lain, cari tahu bagaimana dia mendapat kebanggaan itu. Misalnya kemarin saya ke Candi Borobudur, yang membangun itu pasti bangga setengah mati, wong mereka berhasil membangun itu. Lalu apakah saya perlu bangga, karena Candi Borobudur ada di Indonesia dan saya orang Indonesia? HELL NO!!! Ngapain ikut bangga? Wong itu bukan kerjaanku kok, saya cuma lahir di tempat yang sama aja. Hem, dua gambaran tadi mungkin tidak mewakilkan. Tapi coba mengerti dulu lah ya. Hehehehehe. Bingung juga saya eh. Lalu, di berita, ada anak SMA di Indonesia menang lomba matematika di Amerika, lalu masyarakat Indonesia bangga.  Ngapain. Ya Owoh… Saya mau banggakan apa? Gak ada. Tapi di berita, Indonesia bangga. Kembali lagi dengan budaya dan segala macam di dalamnya. Budaya bagi saya, bagi saya yang tidak termasuk dalam sanggar seni apa pun, tidak pernah benar-benar belajar budaya, yang tidak pernah melakukan ritual-ritual budaya yang khusus, bagi saya yang juga mungkin  benar-benar tidak mengerti Indonesia. Budaya itu hanya sebatas pertunjukan seni saat 17 Agustus atau saat sumpah pemuda. Setelah menonton acara itu, saya terkesima, saya takjub, lalu pulang dengan pikiran kosong dan melupakan yang barusan terjadi. Mungkin bukan hanya saya yang begitu. Saya yakin juga  banyak yang seperti itu. Hhheeemmm… Mungkin bahkan di kelompok kerja saya yang ada 10 orang. Tidak satupun yang pernah menyinggung soal budaya, adat istiadat, atau apa pun. Karena tidak satu pun yang peduli dengan hal itu.   Nah, setelah itu, tiap HUT RI, 17 Agustus, semua orang, semua, di instagram, di story, di facebook, semua upload tema pahlawan dan menjunjung tinggi segala perjuangan Indonesia,  padahal jika foto Presiden pertama dan wakil presiden pertama dijejerkan, mereka bingung mana Soekarno, mana Hatta.  Nah, sama seperti budaya juga, saat moment soal budaya diangkat, semua bilang kita harus  bersatu, kita tidak boleh memandang perbedaan, semua setuju tentang itu, tidak ada yang rajin bantah, nanti debat, tambah panajng, malas lagi. Semua orang mengaminkan Bhineka Tunggal Ika, tapi waktu ketemu teman baru di kos, langsung bertanya nama dan asal dari mana. Untuk apa? UNTUK APA TANYA ASAL DAERAH? Ya owoh, Untuk apa? Setelah dijawab juga nantinya kita bilang, “Oohh”. Ya gak usahlah. Katanya tidak masalah berbeda itu, tapi masi aja cari perbedaan dari tempat asal. Ada lagi yang bilang mau nyari persamaan kok, sapa tau dari daerah yang sama. Jadi, kalo sama akan jadi teman lebih baik dari pada jika tidak sama daerahnya? Tetap aja salah. Lalu, setelah itu liat warna kulitnya, lalu gosip ke temen lain, “mungkin dia dari timur”. Lah untuk apa? Haddduuuhhh… Terakhir, saya sudah 4 atau 5 kali ikut acara Nasional pemuda-pemuda itu bertajuk  perbedaan. Apa yang menjadi titik berat di sana? Bahwa Indonesia itu beragam, banyak perbedaan, tapi itu bukan alasan untuk terpecah belah. Tetapi ya, semakin aku mendengar kata-kata itu, semakin saya mencari perbedaan. Semakin saya mendengar, semakin saya mendata apa saja perbedaan antara saya dan dia. Lalu membuahkan hasil? Ya, saya menjadi lebih mengerti mengapa banyak sekali terjadi perang saudara, pembunuhan,  perang antar kampung, sampai sentimen politis. Dan semua perilaku itu punya alasannya. Agak bingung juga rasanya, pada akhirnya yang ditonjolkan adalah perbedaan yang begitu  banyak, dan yang mempersatukan cuma satu, Indonesia. Seperti mengikat ribuan batang lidi dengan karet gelang ponakan. Akhirnya akan putus? Tidak juga, tetapi tiap acara, malah nambah perbedaan dan menambah jumlah lidi yang harus diikat. Lucunya lagi, saat berkegiatan itu, bus-busnya dibagi, sesuai daerah. Katanya biar gampang, ia betul, pada akhirnya yang di bus orang Flores ngomongin orang Jawa di bus lain. Hadduuhhh… Lalu berbaris mau ibadah malam sesuai dengan agama. Katanya biar khusuk, tapi akhirnya merasa terganggu karena ada cara berdoa yang mengharuskan bicara bersama dengan suara lant ang. Haaddduuhh… repot. Jadi bagaimana? Saya tidak tahu juga. Budaya lebih dari apa yang saya bicarakan, jauh lebih mulia dari pada yang tertulis di sini, lebih luar biasa dari pada bau mulut saya yang selalu ngomong. Mungkin, kembalilah ke diri sendiri dulu, liat teman-teman akrabmu, semakin banyak  persamaanmu dengan temanmu soal identitas, makin rasis dirimu. Benarkah? Sekian  LR Susilo.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks