Government & Politics

13 pages
6 views

STUDI FENOMENOLOGI PEREMPUAN BERCADAR DALAM MEMINIMALISIR CULTURE SHOCK DI PADANGDSAMBIAN DENPASAR JURNAL

Please download to get full document.

View again

of 13
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
STUDI FENOMENOLOGI PEREMPUAN BERCADAR DALAM MEMINIMALISIR CULTURE SHOCK DI PADANGDSAMBIAN DENPASAR JURNAL
Transcript
    STUDI FENOMENOLOGI PEREMPUAN BERCADAR DALAM MEMINIMALISIR CULTURE SHOCK DI PADANGDSAMBIAN DENPASAR JURNAL Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dengan Minat Utama Public Relations   Oleh: Winda Fitricia Arigitha 0811220042 JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014     1 STUDI FENOMENOLOGI PEREMPUAN BERCADAR DALAM MEMINIMALISIR CULTURE SHOCK   DI PADANGSAMBIAN DENPASAR Winda Arigitha ABSTRACT This study motivated by masked women community who experienced culture shock in Padangsambian Denpasar. The purpose of this study is to investigate the adaptation process of intercultural communication conducted by masked women in minimizing culture shock effect. Phenomenology has been used by the research as the main methodology. This study explains informants experiences when entering a new culture, also their culture shock experience. When entering a new culture masked women has to face a new cultural pattern which is different from their own ones. They felt unfamiliarity with the new culture, difficulty or inability to speak the language, and not knowing how to  behave in an unfamiliar culture they start feeling depression, anxiety and feelings of helplessness. The study concluded that masked women generally experienced culture shock caused by the differences of their srcin cultures that includes language,  belief systems, traditions, lifestyle, rules, moral life, values and norms with the culture of Bali. The adaptation process done by building a good relationship with ethnic groups and host culture also learning Balinese culture through the media. Key words:  masked women, culture shock, intercultural communication, adaptation in intercultural communication PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang memiliki tingkat keragaman kompleks 1  (Prasetjyo 2 , 2005.). Masyarakat dengan berbagai keragaman dikenal dengan istilah masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih tertib sosial, komunitas atau kelompok-kelompok yang secara kultural, ekonomi dan politik terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, atau dengan kata lain merupakan suatu masyarakat di mana sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial (Furnival 3  dalam Vickers 4 , 1   Suatu kesatuan yang terdiri dari sejumlah bagian yang saling berhubungan . 2  Aditya Prasetyo adalah mahasiswa ilmu budaya universitas udayana Denpasar, yang dalam  jurnalnya membahas Keragaman dan Toleransi Kehidupan Sosial di Indonesia. 3  John Sydenham Furnivall atau yang dikenal dengan JS Furnivall adalah orang pertama yang mengemukakan konsep masyarakat majemuk berdasarkan kajiannya di Indonesia dan Burma tahun 1967.   2 2004). Masyarakat multikultural memiliki karakteristik heterogen di mana pola hubungan sosial antarindividu di masyarakat bersifat toleran dan harus menerima kenyataan untuk hidup berdampingan secara damai satu sama lain dengan  perbedaan yang melekat pada tiap etnisitas sosial dan politiknya (Johnsonn, 2007). Oleh karena itu, dalam sebuah masyarakat multikultural sangat mungkin terjadi konflik yang dapat menghancurkan masyarakat tersebut. Konflik adalah proses dinamis dan keberadaannya lebih banyak menyangkut persepsi dari orang lain atau pihak yang mengalami dan merasakannya. Sebagaimana menurut Smith (1981, h.20) perbedaan persepsi yang  berbeda terhadap suatu hal atau ketika seseorang melihat sesuatu dengan berbeda maka hal ini dapat menyebabkan konflik. Salah satu konflik antarbudaya yang terjadi baru-baru ini dan mendapat sorotan cukup besar adalah konflik antara umat Hindu dan Muslim di Bali pasca tragedi Bom Bali. Seiring tragedi Bom Bali, banyak pemberitaan media mengenai pelaku teroris yang adalah muslim (S.Wayan. 2004, h.22). Media kerap memberitakan mengenai istri pelaku bom yang umumnya memakai cadar, seperti dalam film  Flight 93, Body of Lies, The Kingdom dan Act of Valor   (Radar Bali,2012). Adanya trauma dan ketakutan atas fenomena tersebut menyebabkan pandangan sebagian masyarakat Bali terhadap masyarakat pendatang khususnya muslim yang memiliki ciri bercadar dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan (Ratri 5 , 2011). Cadar masih dipandang sebagai barang asing yang menakutkan. Hal ini juga didukung stigma-stigma yang dikeluarkan beberapa media terhadap perempuan  bercadar dengan sebutan „ istri teroris’  6 . (Ratri, 2011). Padangsambian merupakan salah satu daerah yang berada di daerah Kota Denpasar Barat. Penduduk mayoritas di daerah ini adalah masyarakat Hindu Bali, dimana ditemukan pendatang di daerah ini, seperti para pedagang dari jawa dan komunitas perempuan bercadar (Subadya 7 , 2009). Perempuan bercadar umumnya memiliki kelompok atau komunitas khusus. Kelompok ini tertutup dengan lingkungan sekitarnya. Ketertutupan komunitas cadar ini menghambat proses komunikasi dengan masyarakat mereka tinggal, tempat mereka berkomunikasi dan berinteraksi (Prasetyo, 2013, h.79). Perempuan bercadar yang hijrah ke Padangsambian Denpasar datang dengan konsekuensi Termasuk perbedaan situasi antara budaya aslinya dengan budaya Bali. Selama proses adaptasi pendatang akan mengalami kondisi dimana terjadi  perbedaan bahasa, adat-istiadat, hingga pola interaksi yang tidak diprediksi sebelumnya dapat memunculkan sebuah perasaan yang meliputi kecanggungan, ketidaknyamanan, hingga frustasi dan tertekan (Ratri, 2011). Menurut Ward, 4  Professor Adrian Vickers adalah pengajar di University of Walonggong, New South Wales, Australia 5  Ratri adalah mahasiswi universitas Diponogoro yang dalam jurnalnya meneliti Cadar, Media dan Identitas Perempuan 6  Pemberitaan media seperti tempo, dan okezone beberapa kali dalam artikelnya menuliskan Istri Teroris. Tempo: Istri Teroris. 7   Gede Bagus Subadya adalah masyarakat Universitas Udayana, yang dalam jurnalnya membahas mengenai hubungan antaragama di Bali pasca tragedi Bom Bali.     3 Boche dan Furnham (dalam Devito, 2007:51), tekanan yang dirasakan ketika  berhadapan dengan budaya baru ini disebut culture shock  . Culture shock   dapat dialami siapa saja ketika menghadapi keadaan lain. yang berbeda dengan konteks  budaya mereka (Xia 8 , 2009). Perpindahan seseorang ke lingkungan yang baru dapat menimbulkan culture shock  , maka seseorang tentu juga akan berusaha melakukan adaptasi atau  penyesuaian diri terhadap budaya di lingkungan baru mereka. Mungkin pada awalnya mereka merasa kaget dengan budaya baru tersebut, kemudian mereka akan melakukan suatu tindakan untuk menghadapi gegar budaya atau culture  shock yang mereka alami dan untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan  baru mereka (Flanja 9 , 2009). Penelitian ini memfokuskan pada proses komunikasi antarbudaya, dalam meminimalisir culture shock   yang dilakukan oleh perempuan  bercadar dalam sebuah lingkungan dengan mayoritas masyarakat Hindu Bali di sekitarnya. Konsep-Konsep Teoritis Culture Shock    Secara psikologis, dampak dari akulturasi adalah stress pada individu-individu yang berinteraksi dalam pertemuan kultur tersebut, fenomena inilah yang disebut oleh culture shock   (Samovar, Porter&McDaniel 2007, h.235). Perempuan  bercadar yang datang ke Bali akan mengalami culture shock disebabkan  perbedaan budaya dari daerah asal mereka yang berbeda dengan budaya Bali. Deddy Mulyana (2005, h.236) mendasarkan gegar budaya ( culture shock) sebagai  benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan persepsi berdasarkan faktor-faktor internal budaya yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami. Culture shock   mengacu pada proses transisional di mana individu merasa adanya ancaman pada keberadaannya dalam satu lingkungan yang secara budaya  baru baginya. Dalam lingkungan yang kurang akrab baginya itu, identitas individu tersebut tampak tak terlindungi (Oberg, 1997, h.170-179). Menurut Oberg (1997, h.184-187) culture shock   melibatkan: 1. rasa hilangnya dan tercabutnya identitas yang berkaitan dengan nilai-nilai, status, profesi, teman-teman, dan kepemilikan. 2. ketegangan identitas sebagai hasil dari upaya yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan-perubahan psikologis yang diperlukan. 3. penolakan identitas oleh anggota budaya baru 4. ketidakmampuan identitas sebagai akibat dari ketidakmampuan untuk mengatasi lingkungan baru. 8  Junzi Xia adalah mahasiswa dari University of Nottingham Nimbo China yang menganalisis mengenai Culture Shock    9  Delia Flanja, adalah mahasiswa dari Babes-Bolyai University of Romania yang dalam jurnalnya meneliti Culture Shock   dalam Komunikasi Antarbudaya     4 Gegar budaya ( culture shock  ) juga didasarkan sebagai benturan persepsi  berdasarkan faktor-faktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dengan lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya lebih  berbeda dan belum ia pahami. (Mulyana & Rakhmat 2005, h.173). Mulyana dan Rakhmat (2005, h.174) mengemukakan tanda-tanda culture shock   termasuk kapan berjabat tangan dan apa yang harus kita katakana ketika bertemu orang-orang, kapan menerima dan kapan menolak undangan, kapan membuat pertanyaan dengan sungguh-sungguh dan kapan sebaliknya. Petunjuk-petunjuk ini dapat  berupa kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah, kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma, kita peroleh sepanjang perjalanan hidup, seseorang sejak kecil. Semua penduduk musiman dan imigran mengalami beberapa derajat hilangnya identitas dan duka dalam lingkungan yang asing. Demikian juga yang terjadi pada perempuan bercadar yang datang ke Bali. Mereka akan mengalami guncangan budaya yang bisa berakibat kepada interaksi mereka. Guncangan  budaya yang tidak dapat dihindari merupakan satu pengalaman yang menekan dan memunculkan disorientasi (Bhagat & Prien 1996, h. 217). Guncangan budaya atau culture shock   dapat memunculkan efek negatif dan  positif. Gejala yang paling umum dialami dalam culture shock   adalah, homesick, ketakutan dalam kontak fisik dengan orang yang berbeda budaya, bermasalah dalam konsentrasi, mimpi buruk, malu, marah, sakit kepala, merasa putus asa, kesepian dan lain sebagainya (Flanja, 2009). Sementara jika culture shock   yang terjadi dapat dikelola dengan penuh pertimbangan, guncangan budaya dapat menimbulkan efek positif pada pendatang baru, seperti rasa tenteram dan meningkatnya harga diri; fleksibilitas dan keterbukaan kognitif; kompetensi dalam interaksi sosial dan meningkatnya kepercayaan diri dan rasa percaya pada orang lain. (Ting-Toomey, 1999, h.246). Tahap Culture Shock Umumnya setiap pendatang mengalami tahap-tahap dalam prosesnya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Biasanya individu akan melewati 4 (empat) tingkatan culture shock  , fase ini adalah (Flanja, 2009). Keempat tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.   The “ honeymoon ” stage.  Fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas. Fase ini  berisi kegembiraan, rasa penuh harapan, euphoria sebagai antisipasi individu dalam memasuki budaya baru. 2.   Fase Krisis ( Cultural Problem ) Fase kedua dimana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, sistem lalu lintas, sekolah baru dan lain-lain. fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis dalam culture shock  . orang menjadi bingung dan tercengang dengan sekitarnya dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap bermusuhan, mudah marah, tidak sabar, dan bahkan menjadi tidak kompeten. 3.   Fase Kesembuhan (  Recovery Phase ),
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x