Finance

13 pages
262 views

PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI BERBAGAI DAERAH II SEMESTER 1 KELAS XII SMA/MA/SMK/MAK –KURIKULUM KTSP 2006 & K-13

of 13
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI BERBAGAI DAERAH II SEMESTER 1 KELAS XII SMA/MA/SMK/MAK –KURIKULUM KTSP 2006 & K-13
Transcript
  PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI BERBAGAI DAERAH II SEMESTER 1 KELAS XII SMA/MA/SMK/MAK –KURIKULUM KTSP 2006 & K-13 Standar KompetensiKompetensi Dasar 1. Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia sejak proklamasi hingga lahirnya Orde Baru1.3. Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dari ancaman disintegrasi bangsa. Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Mampu memahami Perundingan Linggarjati.2. Mampu memahami Agresi Militer Belanda I.3. Mampu memahami Perundingan Renville.4. Mampu memahami Agresi Militer Belanda II.5. Mampu memahami Pemerintah Darurat Republik Indonesia. A. Perundingan Linggarjati Kedatangan Sekutu yang diboncengi NICA pada 29 September 1945 menyebabkan terjadinya ketegangan hubungan antara Sekutu-NICA dengan Indonesia. Hal ini berujung pada kontak senjata antara kedua belah pihak. Untuk meredakan ketegangan, Sir Philip Christison selaku Panglima  Allied Forces Netherland East Indies  (AFNEI-Sekutu) Sejarah Kelas  XII  Kurikulum 2006/2013  2 memprakarsai beberapa pertemuan antara pihak Belanda dengan pihak Indonesia mengenai maksud kedatangan tentara asing ke Indonesia. Pertemuan atas prakarsa Sir Philip Christison dilakukan dua kali sebagai berikut. 1. Pertemuan Soekarno-Van Mook pada 25 Oktober 1945.2. Pertemuan Syahrir-Van Mook pada 17 November 1945. Kedua pertemuan tersebut mengalami kegagalan karena pihak Belanda yang diwakili Van Mook sebagai Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda bersikeras menjadikan Indonesia sebagai negara persemakmuran Belanda. Kegagalan prakarsa Sir Philip Christison membuat Inggris menugaskan Sir Archibald Clark Kerr , diplomat Inggris mengundang perwakilan Indonesia dan Belanda untuk berunding di Hooge Veluwe, Belanda. Adapun delegasi yang berunding dalam Perundingan Hooge Veluwe adalah sebagai berikut.1. Delegasi Indonesia: Mr. Suwandi, dr. Sudarsono, dan Mr. A.K. Pringgodigdo .2. Delegasi Belanda: Dr. Van Mook, Prof. Logemann, Dr. Idenburgh, Dr. Van Royen, Prof. Van Asbeck, Sultan Hamid II, dan Letkol. Surio Santosa .3. Pihak Sekutu sebagai penengah: Sir Archibald Clark Kerr . Akan tetapi, perundingan ini gagal karena Belanda hanya mau mengakui kedaulatan RI atas Jawa dan Madura. Di samping itu, Belanda mampu memainkan permainan politik dengan menampilkan dua orang Indonesia dalam delegasinya seakan-akan masalah yang terjadi di Indonesia adalah perpecahan dalam negeri Indonesia bukan disebabkan oleh Belanda. Pihak Inggris sekali lagi menawarkan bantuan sebagai perantara dan penengah dalam menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda. Melalui Lord Killearn sebagai utusan Inggris, perundingan pendahuluan antara Indonesia–Belanda dilaksanakan pada 7 Oktober 1946 di Jakarta. Pihak Indonesia diwakili oleh Sudarsono, Jenderal Sudirman, dan Jenderal Urip Sumoharjo. Pihak Belanda diwakili oleh Prof Schermercon. Perundingan selanjutnya dilaksanakan pada 10 November 1946 di Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat. Dalam perundingan ini, Indonesia diwakili oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir dan Belanda diwakili oleh Van Mook. Hasil Perundingan Linggarjati diumumkan pada 15 November 1946. Gambar 4.1  Perundingan Linggarjati, tampak Soekarno dan Hatta. Sumber:   id.wikipedia.org  3 Hasil perundingan ditandatangani pada 25 Maret 1947. Isinya sebagai berikut.1. Belanda mengakui wilayah Indonesia secara de facto  yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura.2. Republik Indonesia bersama Belanda bekerja sama membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS).3. Bersama-sama membentuk Uni Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya. Gambar 4.2  Wilayah Indonesia (berwarna) setelah Perundingan Linggarjati.  Perundingan Linggarjati menimbulkan pro dan kontra di Indonesia. Bagi kelompok kontra, Perundingan Linggarjati dianggap bentuk kegagalan Indonesia dalam menjaga kedaulatan Indonesia, sedangkan di pihak pro, perundingan Linggarjati dianggap jalan terbaik untuk menghindari perang dengan Belanda. Untuk menyelesaikan masalah ini, pemerintah menambah jumlah anggota KNIP agar pemerintah mendapat dukungan suara untuk menandatangani perundingan Linggarjati. Perundingan ini dianggap tidak menguntungkan bagi Indonesia karena membuat daerah Indonesia semakin sempit. Akan tetapi, Indonesia tetap menandatangani pada 25 Maret 1947 dengan pertimbangan sebagai berikut.1. Cara terbaik untuk menghindari jatuhnya korban jiwa karena kemampuan militer Indonesia masih jauh di bawah militer Belanda.2. Cara untuk mengundang simpati dari dunia internasional.3. Perdamaian dengan gencatan sejata dapat memberi waktu bagi tentara Indonesia untuk melakukan konsolidasi. Sumber:  id.wikipedia.org  4 SUPER "Solusi Quipper"  Dampak dari Perundingan Linggarjati adalah berkurangnya dukungan terhadap Perdana Menteri Syahrir karena bertanggung jawab atas berkurangnya wilayah Indonesia yang kemudian berujung pada kejatuhan Kabinet Syahrir. Meskipun dikatakan merugikan bagi Indonesia, Perundingan Linggarjati berhasil mengundang simpati internasional yang ditandai dengan adanya pengakuan kedaulatan dari Inggris, Amerika Serikat, Mesir, Lebanon, Suriah, Afghanistan, Myanmar, Yaman, Saudi Arabia, dan Uni Soviet.Isi Perundingan Linggarjati bisa kita ingat melalui kumpulan kata kunci berikut.Belanda men DEPAK  ( de facto ) SUWARA  (Sumatra, Jawa, Madura) RIS  bersama UNI dan Ratu Belanda. B. Agresi Militer Belanda I Agresi Militer Belanda I adalah operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatra yang dimulai 27 Juli – 5 Agustus 1947. Agresi Militer Belanda I dilatarbelakangi oleh perselisihan antara Belanda dan RI akibat perbedaan penafsiran mengenai Perundingan Linggarjati, yaitu status RI. Belanda menganggap RI adalah bagian dari negara persemakmurannya setelah Perundingan Linggarjati. Hubungan RI-Belanda semakin memanas ketika 27 Mei 1947, Belanda mengirimkan Nota Ultimatum yang harus dijawab dalam 14 hari. Berikut isi dari Nota Ultimatum tersebut.1. Membentuk pemerintahan bersama.2. Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga bersama.3. Republik Indonesia harus mengirimkan beras untuk rakyat di daerah-daerah yang diduduki Belanda.4. Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama ( gendarmerie ) termasuk daerah-daerah Republik yang memerlukan bantuan Belanda.5. Menyelenggarakan pemilikan bersama atas impor dan ekspor. Perdana Menteri Syahrir tidak menyetujui poin gendarmerie . Hal ini menyebabkan Belanda tidak mengakui lagi Perundingan Linggarjati pada 20 Juli 1947 melalui pernyataan dari Van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Adapun tujuan Agresi Militer Belanda adalah sebagai berikut.  5 1. Mengepung ibu kota Jakarta.2. Merebut daerah-daerah penghasil makanan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah perkebunan tembakau di Sumatra Timur.3. Menghancurkan kekuatan tentara Indonesia. Agresi Militer Belanda I dimulai malam hari pada 21 Juli 1947 di Jawa dan Sumatra. Akan tetapi, kekuatan TNI belum cukup kuat menghadang serangan Belanda sehingga  TNI terpencar dan melakukan perang gerilya. Taktik gerilya cukup efektif karena berhasil membatasi gerak tentara Belanda. Gerak pasukan Belanda hanya terbatas di kota-kota, sedangkan TNI masih berkuasa di hutan dan desa-desa.Agresi Militer Belanda I banyak memakan korban, beberapa tokoh nasional yang menjadi korban dari Agresi Militer Belanda I adalah Adi Sucipto, Abdurahman Saleh, dan Adi Sumarmo yang gugur setelah pesawat yang mereka tumpangi ditembak jatuh di Yogyakarta. Tindakan Agresi Militer Belanda mengundang berbagai kecaman internasional, seperti kecaman dari negara-negara Timur Tengah, Inggris, bahkan India serta Australia meminta agar Agresi Militer Belanda 1 dimasukkan dalam berita acara Dewan Keamanan PBB. Pada 4 Agustus 1947, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi gencatan senjata. Atas tekanan PBB, gencatan senjata untuk menghentikan agresi militer disetujui Belanda pada 15 Agustus 1947. Pada 25 Agustus 1947, PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) sebagai penengah penyelesaian konflik antara RI dengan Belanda selanjutnya. C. Perundingan Renville Penyelesaian Agresi Militer Belanda 1 diprakarsai oleh KTN selaku wakil PBB di Indonesia.Adapun anggota KTN adalah sebagai berikut.1. Richard Kirby dari Australia sebagai Wakil Indonesia.2. Paul van Zeeland  dari Belgia sebagai Wakil Belanda.3. Frank Graham dari Amerika sebagai penengah. Gambar 4.3  Iring-iringan pasukan Belanda dalam agresi militer Belanda 1. Sumber:   id.wikipedia.org
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks