Documents

5 pages
233 views

Perbandingan Konsep Economic Value of Time Dan Konsep Time Value of Money Dalam Perbankan

of 5
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Economic Value of Time, perbankan, syariah
Transcript
   November 2017 PERBANDINGAN KONSEP TIME VALUE OF MONEY   DAN KONSEP  ECONOMIC VALUE OF TIME   DALAM PERBANKAN Ari Ardianto 1   Januari1995@gmail.com   Dalam dunia modern saat ini, mayoritas kalangan yang mempelajari dan mendalami ilmu ekonomi lebih mengenal konsep time value of money . Konsep time value of money  memberikan gambaran bahwa uang memiliki nilai waktu.  Nilai uang yang dipegang saat ini akan berbeda dengan nilai uang yang akan dipegang di masa datang. Prinsip itu menyatakan bahwa uang saat ini lebih  berharga dari uang di masa yang akan datang. Logikanya, jika kita membeli lima kue saat ini seharga Rp.5000, maka di masa yang akan datang kita dapat membeli tiga kue dengan harga yang sama.    Namun prinsip tersebut ternyata bertentangan dengan islam. Dalam  pandangan islam, bukan uang yang memiliki nilai waktu tetapi waktu yang memiliki nilai ekonomi ( economic value of time ). Konsep ini didasari bahwa seseorang memiliki kuantitas waktu yang sama yakni satu hari sama dengan 24  jam, satu minggu sama dengan tujuh hari, namun memiliki perbedaan dalam kualitasnya, yaitu seberapa baik seseorang tersebut dalam memanfaatkan waktunya. Semakin baik seseorang mengelola waktunya, maka semakin baik pula nilai yang akan ia dapatkan. Waktu akan memiliki economic value  jika dan hanya  jika dimanfaatkan untuk kegiatan produktif sehingga menjadi suatu modal   dan memperoleh suatu return. 2   Dalam perbankan konvensional konsep time value of money  digunakan dalam pengambilan return  atau keuntungan. Mereka dalam praktiknya menerapkan sistem bunga atau riba’ sebagai keuntungan atau pengembalian atas investasi yang dilakukan dalam bentuk pinjaman. Sedangkan perbankan syariah melarang pen erapan sistem riba’ karena tidak sesuai dengan prinsip yang diajarkan oleh islam dan hukum Allah. Penerapan riba’ dalam perbankan syariah digantikan dengan nisbah (bagi hasil).   1  Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Padang   2  Fitria Eka Yudiana (2013), “ Dimensi Waktu dalam Analisis Time Value of Money  dan  Ekonomic Value of Time ” , dalam Jurnal Muqtasid, hlm 141.  Perbandingan Konsep Time Value of Money dan… | Ari A rdianto  November 2017 Sistem bunga dan bagi hasil sangat berlawanan dalam implementasinya. Sistem bunga memberikan kelebihan kepada orang yang meminjamkan dalam  bentuk persentase yang disyaratkan tanpa mempertimbangkan apakah orang yang dipinjamkan dapat memanfaatkan uang secara maksimal sehingga menghasilkan keuntungan atau kerugian dalam usahanya. Sedangkan dalam sistem bagi hasil,  pengembalian ditentukan berdasarkan atas usaha orang yang dipinjamkan dalam  bentuk perbandingan (nisbah) yang disepakati apakah ia mengalami keuntungan atau kerugian dalam suatu usaha. Mereka, perbankan konvensional beranggap an bahwa bunga atau riba’ diterapkan karena beberapa alasan yaitu 3 :  1.   Teori Abstinance, menyatakan bahwa kreditor menahan keinginan untuk memanfaatkan uangnya pada saat ini demi memenuhi kebutuhan orang lain sehingga kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan.  2.   Pemberian bunga merupakan penggantian biaya sewa atas uang yang digunakan.  3.   Teori produktif-konsumtif, menyatakan bahwa jika uang diinvestasikan pada kegiatan produktif maka akan menghasilkan.  4.   Teori Opportunity Cost  , menyatakan bahwa seseorang mengorbankan waktu dan kesempatan untuk melakukan kegiatan produktif melalui uangnya sehingga harus ada biaya yang menggantikannya.  5.   Inflasi yang memberikan penurunan daya beli uang dimasa yang akan datang sehingga bunga dijadikan sebagai kompensasinya.    Namun anggapan-anggapan diatas menuai kritik dalam pandangan islam yang menyatakan bahwa: (1) Kenyataannya bahwa uang yang dipinjamkan merupakan uang kelebihan yang dimiliki kreditor bukan kegunaan untuk usaha produktif; (2) Uang bukan barang komoditi yang dapat diperjualbelikan, menyusut, atau membutuhkan biaya perawatan bila rusak. Uang hanya sekadar alat tukar yang menjadi penengah dan pengukur dari barang-barang yang ditransaksikan. Allah menciptakan Dinar dan Dirham sebagai hakim penengah di antara seluruh harta 3   Achmad Zacky, “Manajemen Keuangan Syariah:  Economic Value of Time ”, dalam bentuk  powerpoint, akses online .  Perbandingan Konsep Time Value of Money dan… | Ari A rdianto  November 2017 agar harta diukur dengan keduanya 4 ; (3) Uang yang tidak dipinjamkan dan diinvestasikan, tidak selamanya investasi dapat dipastikan memberikan keuntungan pada pelakunya 5 . Kritik ini mematahkan teori Produktif-Konsumtif dan teori Opportunity Cost  ; dan (4) Kenyataannya bahwa kita tidak selalu mengalami inflasi, keberadaan deflasi juga turut mempengaruhi nilai waktu atas uang karena deflasi menjadi alasan adanya negative time value of money 6  sehingga anggapan adanya bunga karena inflasi terpatahkan.   Selanjutnya dalam perbankan konvensional mengenal adanya interest rate  atau tingkat bunga dengan perhitungan atas expected return  (pengembalian yang diharapkan) yang tidak memiliki kepastian karena berdasarkan spekulasi estimasi. Pada kondisi riil dalam kehidupan di dunia bisnis tentu akan dihadapkan dengan situasi serba ketidakpastian baik itu berkaitan dengan tingkat pendapatan yang diperoleh ( return ) maupun tingkat risiko yang diterima bila melakukan suatu  bisnis. Sehingga dapat disederhanakan bahwa dalam melakukan segala aktivitas yang berhubungan dengan bisnis dan ekonomi, tentu masing-masing orang akan  berhadapan dengan kemungkinan mendapatkan apa yang disebut dengan  positive return  (keuntungan), no return  ( break even point   atau pulang modal), dan negative return  (kerugian). Ketidakpastian akan return inilah pada ekonomi konvensional terkhusus pada perbankan dikonversi menjadi suatu kepastian melalui  premium for uncertainty (premi ketidakpastian). Premi ketidakpastian adalah premi yang berasal dari ketidaktahuan akan hasil pasti dari risiko dan ketidaktahuan akan seberapa besar peluang yang dapat menghasilkan 7 . Keadaan ini yang ditolak dalam ekonomi islam, yaitu keadaan al qhunmu bi la ghurmi (gaining return without responsible for any risk) dan al kharaj bi la dhaman (gaining income without responsible for any expense) 8 .   4  Imam Ghazali (w. 505 H) dalam artikel Fitria Eka Yudiana (2013), Dimensi Waktu dalam Analisis Time Value of Money  dan  Ekonomic Value of Time”.   5   Muhamad (2012), “Rekonstruksi Time Value of Money Menuju  Economic Value of Time  untuk Keuangan Islam” , dalam JIE, Vol I, No 2, hlm 188 6   Zumaroh (2015), “Nilai Uang dalam Perspektif Ekonomi Islam”, dalam Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol 03, No 2, hlm 256 7  Dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh Simon Benniga (2007), mahasiswa Tel Aviv University yang teks aslinya yakni ” the uncertainty premium is the premium that is derived from not knowing the sure outcome (risk premium) and from not knowing the precise odds of outcomes (ambiguity premium)”  , diakses online.   8  Taufik Hidayat dalam Zumaroh (2015)  Perbandingan Konsep Time Value of Money dan… | Ari A rdianto  November 2017 Bertentangan dengan ekonomi islam, sesuatu yang mengestimasikan sesuatu atas dasar ketidakpastian adalah haram. Dalam perbankan syariah, interest rate  diganti dengan penggunaan discount rate  yang diubah dalam penentuan tingkat nisbah yang didasarkan pada actual return  (pengembalian actual/sesungguhnya) yang memasukkan nilai kepastian di dalamnya. Discount rate digunakan dalam menentukan nisbah pada sistem bagi hasil. Dalam hal ini, nisbah dikalikan dengan pengembalian sesungguhnya bukan dengan  pengembalian yang diharapkan. Dalam transaksi bagi hasil hubungan yang timbul  bukan seperti hubungan antara penjual dan pembeli, atau penyewa dengan yang menyewakan. Hak keduanya akan timbul ketika usaha tersebut memproduktifkan modal tersebut telah menghasilkan pendapatan atau keuntungan sesuai dengan yang telah disepakati pada awal perjanjian. Bagi hasil ini dapat didistribusikan  berdasarkan pendapatan ( revenue sharing  ) atau berdasarkan keuntungan (  profit  sharing  ) 9 . Istilah discount rate  memiliki sifat lebih umum jika dibandingkan dengan istilah interest rate . Hal tersebut dapat diilustrasikan dengan formula sebagai  berikut. 10   Nominal interest rate = real interest rate + expected dan Discount rate = real interest rate + expected inflation + premium for uncertainty dimana: Certainty of return = kepastian akan keuntungan Uncertainty of Return = ketidakpastian akan keuntungan  Interest Rate = suku bunga  Discount Rate = tingkat diskonto  Real Interest Rate  = tingkat bunga riil  Expected Inflation  = inflasi yang diharapkan  Premium for uncertainty  = premium akan ketidakpastian 9   Muhammad (2005, “Manajemen Bank Syariah”, Yogyakarta: UPP AMP YKPN   10   Agus Sartono, “Manajemen Keuangan”, hlm 69  
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x