Documents

11 pages
118 views

Makalah Ibr Ss 304

of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
mmmmmmmmmmmmmmm
Transcript
  MAKALAH ILMU BAHAN REKAYASA STAINLESS STEEL TIPE 304 Disusun oleh: 1.   Isa Mahendra NIM. 21030116140133 2.   Mardiyanti Dwi Pratiwi NIM. 21030116120009 3.   Rizkia Chairunnisa NIM. 21030116130154 4.   Timotius Adrian Christantyo D. NIM. 21030116140195 5.   Shofa Faradilla NIM. 21030116120019 DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2017  BAB I PENDAHULUAN Stainless steel merupakan baja paduan yang mengandung sedikitnya 11,5% krom berdasar beratnya. Stainless steel memiliki sifat tidak mudah terkorosi sebagaimana logam baja yang lain. Stainless steel  berbeda dari baja biasa dari kandungan kromnya. Baja karbon akan terkorosi ketika diekspos pada udara yang lembab. Besi oksida yang terbentuk bersifat aktif dan akan mempercepat korosi dengan adanya pembentukan oksida besi yang lebih banyak lagi. Stainless steel memiliki persentase jumlah krom yang memadahi sehingga akan membentuk suatu lapisan pasif kromium oksida yang akan mencegah terjadinya korosi lebih lanjut. Ada berbagai macam jenis dari  stainless steel  . Ketika nikel ditambahkan sebagai campuran, maka  stainless steel akan berkurang kegetasannya pada suhu rendah. Apabila diinginkan sifat mekanik yang lebih kuat dan keras, maka dibutuhkan penambahan karbon. Sejumlah unsur mangan juga telah digunakan sebagai campuran dalam  stainless  steel  . Stainless    steel  juga dapat dibedakan berdasarkan struktur kristalnya menjadi: austenitic stainless steel,    ferritic stainless steel, martensitic stainless steel, dan duplex  stainless steel. Type 304 adalah tipe yang paling umum dari grade austenitic. Tipe 304 memiliki komposisi 18/8, yang artinya: kandungan kromium sebesar 18% sedangkan kandungan nikel sebesar 8%.  Stainless steel tipe 304 merupakan jenis baja tahan karat yang  serbaguna dan paling  banyak digunakan. Komposisi kimia, kekuatan mekanik, kemampuan las dan ketahanan korosinya sangat baik dengan harga yang relative terjangkau. Stainless steel tipe 304 ini banyak digunakan dalam dunia industri maupun skala kecil. Makalah ini disusun sebagai bahan pengetahuan tentang stainless steel terkhusus stainless steel tipe 304.    BAB II ISI 2.1   Pengertian  Stainless Steel   Stainless steel merupakan baja paduan yang mengandung sedikitnya 11,5% krom berdasar beratnya. Stainless steel memiliki sifat tidak mudah terkorosi sebagaimana logam baja yang lain. Stainless steel  berbeda dari baja biasa dari kandungan kromnya. Baja karbon akan terkorosi ketika diekspos pada udara yang lembab. Besi oksida yang terbentuk bersifat aktif dan akan mempercepat korosi dengan adanya pembentukan oksida besi yang lebih banyak lagi. Stainless steel memiliki persentase jumlah krom yang memadahi sehingga akan membentuk suatu lapisan pasif kromium oksida yang akan mencegah terjadinya korosi lebih lanjut. Untuk memperoleh ketahanan yang tinggi terhadap oksidasi biasanya dilakukan dengan menambahkan krom sebanyak 13 hingga 26 persen. Lapisan pasif chromium(III) oxide (Cr  2 O 3 ) yang terbentuk merupakan lapisan yang sangat tipis dan tidak kasat mata, sehingga tidak akan mengganggu penampilan dari  stainless steel itu sendiri. Dari sifatnya yang tahan terhadap air dan udara ini,  stainless steel tidak memerlukan suatu perlindungan logam yang khusus karena lapisan pasif tipis ini akan cepat terbentuk kembali katika mengalami suatu goresan. Peristiwa ini biasa disebut dengan pasivasi, yang dapat dijumpai pula pada logam lain misalnya aluminium dan titanium. 2.2   Sejarah  Stainless Steel   Awalnya, beberapa besi tahan karat pertama berasal dari beberapa artefak yang dapat bertahan dari zaman purbakala. Pada artefak ini tidak ditemukan danya kandungan krom, namun diketahui, bahwa yang membuat artefak logam ini tahan karat adalah banyaknya zat fosfor yang dikandungnya yang mana bersama dengan kondisi cuaca lokal membentuk sebuah lapisan basi oksida dan fosfat. Sedangkan,  paduan besi dan krom sebagai bahan tahan karat pertama kali ditemukan oleh ahlimetal asal Prancis, Pierre Berthier pada tahun 1821, yang kemudian diaplikasikan untuk alat-alat pemotong, seperti pisau. Kemudian pada akhir 1890-an, Hans Goldschmidt dari Jerman, mengembangkan proses aluminothermic untuk menghasilkan kromium bebas karbon. Pada tahun 1904-1911, Leon Guillet berhasil melakukan paduan dalam beberapa penelitiannya yang kini dikenal sebagai Stainless    Steel namun masih terdapat beberapa kelemahan. Pada tahun 1912, Harry Brearley melakukan riset terhadap korosi laras senapan. Masalahnya adalah baja pada laras senapan tersebut tidak tahan panas. Brearley mulai menguji penambahan sejumlah kromium ke baja dan dari hasil eksperimen tersebut didapat penambahan kromium sebanyak 12-14% agar baja bisa tahan karat. Brearley melihat adanya kemungkinan material ini dapat dikomersilkan sebagai peralatan-peralatan dapur dan akhirnya dia menamai penemuannya dengan  stainless steel. Pada 13 Agustus 1913,  stainless steel  pertama diproduksi di laboratorium Brown-Firth dan pada tahun 1916 Brearley mendapatkan paten atas penemuannya ini di Amerika dan beberapa negara di Eropa. 2.3   Unsur Tambahan  Stainless Steel   Setiap jenis  stainless steel   memiliki karakteristik khusus tergantung dari  penambahan unsur-unsur pemadunya. a.   Penambahan molibdenum (Mo) bertujuan untuk memperbaiki ketahanan korosi  pitting dan korosi celah    b.   Unsur karbon rendah dan penambahan unsur penstabil karbida (titanium atau niobium) bertujuan menekan korosi batas butir pada material yang mengalami  proses sensitasi.   c.   Penambahan kromium (Cr) bertujuan meningkatkan ketahanan korosi dengan membentuk lapisan oksida kromium (Cr2O3) dan ketahanan terhadap oksidasi temperatur tinggi.   d.   Penambahan nikel (Ni) bertujuan untuk meningkatkan ketahanan korosi dalam media pengkorosi netral atau lemah. Nikel juga meningkatkan keuletan dan kemampuan bentuk logam. Penambahan nikel meningkatkan ketahanan korosi tegangan (resistance to stress-corrosion cracking).   e.   Penambahan unsur molybdenum (Mo) juga untuk meningkatkan ketahanan korosi pitting di lingkungan klorida.   f.   Penambahan unsur aluminium (Al) meningkatkan pembentukan lapisan oksida  pada temperature tinggi.  2.4   Jenis Stainless Steel Meskipun seluruh kategori Stainless Steel didasarkan pada kandungan krom (Cr), namun unsur paduan lainnya ditambahkan untuk memperbaiki sifat-sifat Stainless Steel   sesuai aplikasinya. Kategori Stainless Steel   tidak halnya seperti baja
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x