Finance

23 pages
11 views

IDENTITAS BUDAYA MAHASISWA SUKU BANJAR

Please download to get full document.

View again

of 23
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
IDENTITAS BUDAYA MAHASISWA SUKU BANJAR
Transcript
  IDENTITAS BUDAYA MAHASISWA SUKU BANJAR DI KOTA MALANG (Studi Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa asal Suku Banjar di kota Malang) JURNAL Untuk memenuhi sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan minat utama Public Relations DISUSUN OLEH : SANDRYA SAHAMITTA (0811223140) JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014   IDENTITAS BUDAYA PADA MAHASISWA SUKU BANJAR DI KOTA MALANG (STUDI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA MAHASISWA ASAL SUKU BANJAR DI KOTA MALANG) Oleh: SANDRYA SAHAMITTA 0811223140 Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Brawijaya, Malang. Pembimbing Utama: Dyan Rahmiati, S.Sos., M.Si dan Pembimbing Pendamping: Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si ==================================================================== ABSTRAKSI Mahasiswa suku Banjar yang merantau di kota Malang saat berkomunikasi mereka akan melakukan komunikasi antarbudaya. Ketertarikan penelitian ini didasari pada fenomena para mahasiswa suku Banjar saat di kota Malang mempertahankan identitas budayanya dan cara mereka berinteraksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui identitas budaya yang terjadi  pada mahasiswa suku Banjar asal Kalimantan Selatan di kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitan kualitatif dengan tataran analisis deskriptif. Penggunaan analisis deskriftif dikarena dalam konteks ini peneliti berusaha mendeskripsikan bagaimana sebuah fenomena atau kenyataan sosial mengenai bagaimana para informan mempertahankan keaslian identitas budayanya dan menjalin hubungan baik dengan orang lain yang berbeda suku yang mana dikendalakan pula oleh perbedaan budaya. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa identitas budaya yang masih dipertahankan oleh informan misalnya bahasa (kosakata daerah dan logat) dan artefak (kain sasirangan), makanan khas banjar serta acara keagamaan. Dimana kebiasaan dari karakteristik kelompok anggota suku Banjar tersebut masih tetap terus dijalankan saat tinggal di kota Malang. Komunikasi verbal dan non verbal yang membedakan sutu kelompok dari kelompok lainnya. Komunikasi verbal yang ada yaitu melalui bahasa yang digunakan dan komunikasi non verbal melalui sesuatu yang terlihat benda-benda yang mempengaruhi interkasi yang terjadi. Keefektivitasan komunikasi antarbudaya yang terjalin oleh para mahasiswa perantau ini adalah dengan cara mereka menghormati orang-orang dilingkungan baru tersebut, memilki rasa empati, kejujuran serta mau menerima budaya di lingkungan baru ini. Dalam penelitian ini didapatkan pula tidak adanya  proses asimilasi budaya dikarenakan proses pembauran budaya tidak begitu lama dan para Mahasiswa masih tetap tinggal bersama kelompok mereka namun para perantau masih mengalami proses akulturasi. KATA KUNCI : PERANTAU, NILAI BUDAYA, IDENTITAS BUDAYA  PENDAHULUAN Kebudayaan menjadi salah satu jenis kekayaan yang dimiliki oleh setiap daerah. Budaya selalu menampilkan kekhasan dari masing-masing daerah sehingga membuatnya menjadi sesuatu yang berbeda dan unik (Koentjaraningrat, 1990, h. 1881). Masing-masing kebudayaan pada suku yang ada di Indonesia tentu memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing, salah satunya adalah etnis Banjar. Salah satu hal yang membuatnya unik dalam kajian komunikasi antarbudaya ini adalah budaya merantau. Dimana setiap perantau ketika melakukan interaksi akan mendapati perbedaan- perbedaan budaya mereka dengan budaya di lingkungan perantauannya dan mereka selalu dituntut untuk tetap bisa mempertahankan identitas budaya mereka sebagai bagian dari etnis Banjar. Etos merantau suku Banjar cukup dikatakan tinggi, dalam peringkat  persebarannya orang Banjar di daerah Jawa Timur sendiri menduduki posisi kedua terbesar. Menurut sensus BPS tahun 2010  populasi suku Banjar berjumlah 4.127.124 dan terdapat di seluruh propinsi Indonesia, diantaranya di provinsi Jawa Timur dengan  jumlah populasi 12.405 yang tersebar dibeberapa kota besar dengan rata-rata  penduduk 3,7 juta jiwa. Hal ini sekitar 30% konsentrasi suku Banjar yang berdomisili di daerah Jawa Timur. Dalam bersebaran 30% tersebut sebanyak 18% berdomisili di kota Malang ( Batulicinnews.com, 2013) . Hal ini memperlihatkan bahwa persebaran suku Banjar di kota Malang sendiri cukup banyak dengan berbagai alasan para perantau tersebut memilih kota Malang sebagai tempat tinggal baru mereka. Beberapa hal yang mulanya membuat  para perantau asal Banjar ini memilih Jawa Timur khususnya kota Malang sebagai tempat mereka untuk merantau adalah sebagai tempat untuk menimba ilmu. Malang Raya sendiri meliputi Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang, memiliki lebih dari 20 kampus peguruan tinggi. Kota yang dicanangkan oleh Wali Kota Malang, Peni Suparto, sebagai Kota Pendidikan Internasional pada tahun 2010, dihuni tak kurang 220.000 mahasiswa dari seluruh Indonesia dan luar negeri datang untuk melaksanakan studinya. Beberapa alasan menurut salah satu perantau adalah pertama, secara geografis Malang berada di dataran tinggi dengan cuaca yang relatif stabil membuatnya menjadi kota yang sejuk. Kedua, Malang memang bukan kota besar, tetapi kota yang modern. Hampir semua fasilitas kota modern terdapat di Malang, seperti moda transportasi modern, mal, tempat perbelanjaan, fasilitas olah raga dan lainnya. Ketiga, di Malang hampir tidak mengenal banjir, erupsi gunung berapi, gelombang tsunami, dan lainnya. Keempat, sebagai kota pendidikan, Malang banyak melahirkan karya-karya akademik dan tokoh ilmuwan nasional. Kelima, Malang dikenal sebagai salah satu pusat budaya yang sering menjadi trend setternasional. Di Malang  banyak terdapat sanggar-sanggar budaya, serta tempat-tempat wisata yang sangat diminati, “Kotanya komplit,” kata Trisna Wijayanti, mahasiswa asal Banjarmasin ( Umm.ac.id, 2013)  . Melalui alasan para mahasiswa, mereka memilih kota Malang sebagai tempat studinya tersebut karena tempat yang cocok untuk dirinya melakukan studi  pendidikannya. Pada studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola-pola tindakan, juga tentang bagaimana makna dan pola-pola itu diartikulasikan ke dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik,  proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi manusia (Liliweri, 2003, h. 10). Karena setiap individu memerlukan interaksi dengan individu lainnya, sehingga untuk memahami  satu dengan lainnya diperlukan menjajaki hal-hal tersebut. Maka dapat dikatakan  bahwa manusia sebagai makhluk individu tidak dapat tidak berkomunikasi. Manusia sendiri melakukan komunikasi baik dengan dirinya maupun dengan individu lainnya. Komunikasi yang dilakukan dengan diri sendiri misalnya saja berpikir, dan komunikasi dengan orang lain adalah  bertukar informasi atau pesan setiap harinya. Dari komunikasi yang dilakukan  pada studi tipologi yang ada berdasarkan nilai-nilai kebudayaan dikembangkan oleh Eduard Spranger menyatakan bahwa kebudayaan (culture) merupakan sistem nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai budaya yang tersusun atau diatur menurut struktur tertentu.Kebudayaan sebagai sistem nilai  pada suku Banjar yaitu dibagi menjadi dua kelompok seperti, bidang-bidang yang  berhubungan dengan manusia sebagai individu yang didalamnya terdapat 4 nilai  budaya yaitu pengetahuan , ekonomi, kesenian , dan keagamaan . Bidang-bidang yang berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat pada suku Banjar, yang didalamnya terdapat dua nilai budaya seperti kemasyarakatan dan  politik (Sujanto, 2006, h. 43). Semua hal tersebut membuat suku Banjar yang merantau dapat menyesuaikan atau dengan cepat beradaptasi baik tentang pengetahuan, ekonomi, kesenian, keagaaman, kemasyarakatan dan politik dengan lingkungan barunya. Komunikasi antarbudaya merujuk  pada fenomena komunikasi dimana  partisipan yang berbeda latar belakang kultural menjalin kontak satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung, sama halnya dengan para perantau asal Banjar yang bersemangat untuk merubah nasib dengan mengejar ilmu diluar daerah mereka. Ketika komunikasi antarbudaya mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan- perbedaan kultural antara pihak-pihak yang terlibat maka karakteristik-karakteristik kultural dari para partisipan bukan merupakan fokus. Titik perhatian dari komunikasi antarbudaya adalah proses komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelompok (Rahardjo, 2005, h. 53). Indonesia sebagai negara kepulauan menurut Koentjaraningrat dalam eksiklopedi suku Bangsa di Indonesia (1969, h.xx), dikenal luas sebagai bangsa yang terdiri dari sekitar 300 suku bangsa yang memiliki identitas kebudayaan masing-masing. Penduduk Indonesia tentunya terdiri dari  berbagai suku bangsa yang memiliki daerah asal dan kebudayaannya sendiri dan telah  berakar sejak berpuluh-puluh tahun yang silam. Keberagaman suku dan budaya yang ada di Indonesia menjadi salah satu ciri khas masyarakat Indonesia. Sehingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita tidak terlepas dari adanya benturan-benturan  perbedaan kebudayaan antara satu daerah dengan daerah lain, suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya, hingga benturan kebudayaan antara masing-masing individu dengan latar  belakang adat istiadat, budaya dan nilai-nilai yang berbeda pula. Melalui budaya yang ada, setiap individu dapat bertukar dan belajar banyak hal, karena pada kenyataannya siapa kita adalah realitas budaya yang kita terima dan  pelajari. Untuk itu, saat komunikasi menuntun para perantau tersebut untuk  bertemu dan bertukar simbol dengan orang lain, maka mereka turut serta dituntut untuk memahami orang lain yang berbeda budaya dan perbedaan itu tentu menimbulkan  bermacam kesukaran dalam kelangsungan komunikasi yang terjalin. Pada kebudayaan, nilai merupakan fitur penting yang ada pada kebudayaan tersebut. Menurut Peoples dan Bailey, nilai  merupakan “kritik atas pemeliharaan  budaya secara keseluruhan karena hal ini mewakili kualitas yang dipercayai oleh orang yang sangat penting untuk melanjutkan kehidupan mereka kedepannya (Samovar, 2010, h. 30).  Nilai-nilai berguna untuk menentukan  bagaimana seseorang seharusnya bertingkah laku. Untuk sejumlah nilai budaya yang  berbeda, mereka dapat mengharapkan setiap individu dalam komunikasi antarbudaya ini akan cenderung untuk memperlihatkan dan mengantisipasi tingkah laku yang berbeda dalam setiap kegiatan yang berlangsung. Misalnya, semua budaya memberikan  penghormatan terhadap orang yang lebih tua, kekuatan nilai ini terkadang sangat  berbeda satu budaya dengan budaya lainnya. Seperti halnya suku Jawa dalam ensiklopedi suku Bangsa di Indonesia (1996, h.106) dijelaskan mereka sangat menjunjung tinggi penghormatan terhadap yang lebih tua, namun jika di suku Banjar sebagian  besar mereka memberi penghormatan terhadap yang lebih tua seperti layaknya teman atau sahabat sendiri. Sehingga terkadang ada beberapa batasan yang mereka lampaui, terkadang seorang anak di suku Banjar memanggil orang tuanya dengan panggilan nama, namun hal ini  bukan bermaksud kasar namun memang kebiasaan turun menurun yang mereka lakukan. Hal ini pula yang membuat mereka tidak segan untuk bercerita atau melakukan kegiatan secara bersama-sama tanpa memandang batasan umur tersebut.  Namun untuk memasuki dunia baru dimana kita dituntut untuk beradaptasi  bukanlah hal yang mudah. Beradaptasi di lingkungan baru, kita dituntut belajar serta memahami budaya baru. Terlebih lagi adaptasi tentu akan semakin sulit, jika lingkungan yang baru adalah lingkungan yang jauh berbeda budayanya dengan lingkungan sebelumnya. Menghadapi  perbedaan kebudayaan tersebut tentunya  bukanlah perkara mudah, begitu pula  pengalaman mahasiswa asal Kalimantan Selatan yang pada umumnya adalah suku Banjar yang melanjutkan pendidikan di  beberapa Universitas besar di kota Malang. Para pelajar tersebut tentunya harus menetap di Kota Malang yang memiliki kultur  budaya berbeda dengan lingkungan asal mereka. Terdapat banyak contoh peristiwa  perbedaan komunikasi yang terjadi oleh para  perantau Banjar di kota Malang yaitu salah satunya pengertian atau makna suatu kata. Semisal di kota Banjar, misalnya makanan yang bernama bingka (makanan yang terbuat dari tepung, gula, kentang dan santan) , gegodoh, dan terang bulan itu masing-masing bernama lumpur, pisang goreng dan martabak manis di Malang. Setiap kelompok budaya jelas punya peta yang berbeda untuk mempresentasikan realitas budaya mereka. Kesalahpahaman ini dapat terjadi bukan hanya antara orang-orang berbeda suku dalam suatu bangsa, tetapi terlebih-lebih antara orang-orang yang  berbeda bangsa pula (Mulyana, 2004, h. 78). Beberapa contoh peristiwa komunikasi yang berbeda antara di jawa dengan kebiasaan suku banjar, seperti contohnya ketika makan di luar rumah seperti di kebun atau dipekarangan. Di banjar ketika makan diluar seperti itu makan akan mengambil sedikit untuk dibuang ke tanah, hal ini  bermaksud untuk memberi pada datuk (panggilan untuk seseorang yang dituakan) alam. Namun di jawa sendiri membuang makanan ke tanah dengan sengaja justru akan menimbulkan masalah, dikarenakan membuang makanan adalah suatu hal yang mubazir. Atau seperti acara pada suatu  pernikahan, jika di suku jawa siraman adalah salah satu dari rangkaian acara pra  pernikahan, di suku banjar malah sebaliknya. Acara siraman berlangsung setelah akad nikah dan kedua mempelai menjalani acara siraman bersama-sama. Manusia berkomunikasi karena mereka
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x