Documents

6 pages
6 views

Epilepsi Journal

Please download to get full document.

View again

of 6
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Epilepsi : Permasalahan di Reseptor atau Neurotransmitter Jan Sudir Purba Departemen Neurologi/RSCM, FK UI Jakarta ABSTRAK. Epilepsi yang merupakan penyakit saraf kronik kejang masih tetap merupakan problem medik dan sosial. Masalah medik yang disebabkan oleh gangguan komunikasi neuron bisa berdampak pada gangguan fisik dan mental dalam hal gangguan kognitif. Dilain pihak obat-obat antiepilepsi juga bisa berefek terhadap gangguan kognitif. Oleh sebab itu pertimbangan untuk pemberian obat yang te
Transcript
  Epilepsi : Permasalahan di Reseptor atauNeurotransmitter Jan Sudir Purba  Departemen Neurologi/RSCM, FK UI  Jakarta ABSTRAK. Epilepsi yang merupakan penyakit saraf kronik kejang masih tetapmerupakan problem medik dan sosial. Masalah medik yang disebabkan olehgangguan komunikasi neuron bisa berdampak pada gangguan fisik dan mentaldalam hal gangguan kognitif. Dilain pihak obat-obat antiepilepsi juga bisa berefek terhadap gangguan kognitif. Oleh sebab itu pertimbangan untuk pemberian obatyang tepat adalah penting mengingat efek obat yang bertujuan untuk menginhibisi bangkitan listrik tapi juga bisa berefek pada gangguan memori. Levetirasetam   salah satu obat antiepilepsi mempunyai keistimewaan dalam hal ikatan dengan protein SVA2 di presinaptik. Selain itu sampai sekarang ini belum ditemukan efek gangguan kognitif dan dapat digunakan pada penderita epilepsi yang mengidap penyakit termasuk ansietas dan depresi. Pendahuluan Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf kronik kejang berulangmuncul tanpa diprovokasi. Penyebabnya adalah kelainan bangkitan listrik jaringansaraf yang tidak terkontrol baik sebagian maupun seluruh bagian otak. Keadaanini bisa di indikasikan sebagai disfungsi otak.1 Insiden epilepsi di negara majuditemukan sekitar 50/100,000 sementara di negara berkembangmencapai100/100,000. Pendataan secara global ditemukan 3.5 juta kasus baru per tahun diantaranya 40% adalah anak-anak dan dewasa sekitar 40% serta 20%lainnya ditemukan pada usia lanjut. Gejala dan tanda klinik bangkitan epilepsisangat bervariasi dan tergantung pada lokasi neuron kortikal yang mengalamigangguan. Loncatan elektrik abnormal sebagai pencetus serangan sangat sering berasal dari neuron-neuron kortikal. Faktor lain yang ikut berperan dalamterjadinya bangkitan adalah ketidakseimbangan neurotransmiter eksitasi daninhibisi, dan gangguan saluran ion di reseptor yang berperan terhadap kegiataneksitatorik neurotransmiter. Ikatan eksitatorik dengan reseptor terkait akanmembuka pintu untuk masuknya ion kalsium yang berlebihan kedalam sel sebagai penyebab dari kematian sel yang berdampak pada kualitas otak dalam hal inifungsi hipokampus dan korteks serta mengarah pada gangguan perilaku termasuk  bunuh diri. Patofisiologi Anatomi Seluler Secara etiopatologik, bangkitan epilepsi bisa diakibatkan oleh cederakepala, stroke, tumor otak, infeksi otak, keracunan, atau juga pertumbuhan jarigansaraf yang tidak normal (  neurodevelopmental     problems) , pengaruh genetik yangmengakibatkan mutasi. Mutasi genetik maupun kerusakan sel secara fisik padacedera maupun stroke ataupun tumor akan mengakibatkan perubahan dalam  mekanisme regulasi fungsi dan struktur neuron yang mengarah pada gangguan pertumbuhan ataupun plastisitas di sinapsis. Perubahan (fokus) inilah yang bisamenimbulkan bangkitan listrik di otak. Bangkitan epilepsi bisa juga terjadi tanpaditemukan kerusakan anatomi (f   ocus) di otak. Disisi lain epilepsi juga akan bisamengakibatkan kelainan jaringan otak sehingga bisa menyebabkan disfungsi fisik dan retardasi mental.1 Dari sudut pandang biologi molekuler, bangkitan epilepsidisebabkan oleh ketidakseimbangan sekresi maupun fungsi neurotransmiter eksitatorik dan inhibitorik di otak. Keadaan ini bisa disebabkan sekresineurotransmiter dari presinaptik tidak terkontrol ke sinaptik yang selanjutnya berperan pada reseptor NMDA atau AMPA di post-sinaptik.6 Keterlibatanreseptor NMDA subtipe dari reseptor glutamat (NMDAR) disebutsebut sebagai patologi terjadinya kejang dan epilepsi.6-8 Secara farmakologik, inhibisi terhadap NMDAR ini merupan prinsip kerja dari obat antiepilepsi.7 Beberapa penelitianneurogenetik membuktikan adanya beberapa faktor yang bertanggungjawab atas bangkitan epilepsi antara lain kelainan pada ligand-gate (sub unit dari reseptor nikotinik) begitu juga halnya dengan voltage-gate (kanal natrium dan kalium).Hal ini terbukti pada epilepsi lobus frontalis yang ternyata ada hubungannyadengan terjadinya mutasi dari resepot nikotinik subunit alfa 4.9 Berbicaramengenai kanal ion maka peran natrium, kalium dan kalsium merupakan ion-ionyang berperan dalam sistem komunikasi neuron lewat reseptor. Masuk dankeluarnya ion-ion ini menghasilkan bangkitan listrik yang dibutuhkan dalamkomunikasi sesame neuron.9 Jika terjadi kerusakan atau kelainan pada kanal ion-ion tersebut maka bangkitan listrik akan juga terganggu sebagaimana pada penderita epilepsi. Kanal ion ini berperan dalam kerja reseptor neurotransmiter tertentu. Dalam hal epilepsi dikenal beberapa neurotransmiter seperti  gammaaminobutyric acid  (GABA) yang dikenal sebagai inhibitorik, glutamat(eksitatorik), serotonin (yang sampai sekarang masih tetap dalam penelitian kaitandengan epilepsi, asetilkholin yang di hipokampus dikenal sebagai yang bertanggungjawab terhadap memori dan proses belajar.6 Penanggulangan Prinsip penanggulangan bangkitan epilepsi dengan terapi farmakamendasar pada beberapa faktor antara lain blok kanal natrium, kalsium, penggunaan potensi efek inhibisi seperti GABA dan menginhibisi transmisieksitatorik glutamat.6,7 Sekarang ini dikenal dengan pemberian kelompok inhibitorik GABAergik. Beberapa obat antie-pilepsi yang dikenal sampaisekarang ini antara lain karbamazepin (Tegretol), klobazam (Frisium),klonazepam (Klonopin), felbamate (Felbatol),gabapentin (Neurontin), lamotrigin(Lamiktal), levetirasetam (Keppra), oksarbazepin (Trileptal), fenobarbital(Luminal), fenitoin (Dilantin), pregabalin (Lyrica), tiagabine (Gabitril), topiramat(Topamax), asam valproat (Depakene, Convulex) (Brodie and Dichter, 1996).10Protokol penanggulangan terhadap status epilepsi dimulai dari terapi benzodiazepin yang kemudian menyusul fenobarbital atau fenitoin. Fenitoin bekerja menginhibisi hipereksitabilitas kanal natrium berperan dalam memblok loncatan listrik.11 Beberapa studi membuktikan bahwa obat antiepilepsi selainmempunyai efek samping, juga bisa berinteraksi dengan obat-obat lain yang berefek terhadap gangguan kognitif ringan dan sedang.12-14 Melihat banyaknya  efek samping dari obat anti-epilepsi maka memilih obat secaratepat yang efektif sangat perlu mengingat bahwa epilepsi itu sendiri berefek pada kerusakan ataucedera terhadap jaringan otak. Glutamat salah satunya yang berpotensi terhadapkerusakan neuron sebagai aktivator terhadap reseptor NMDA dan reseptor  alpha-amino-3-hydroxy-5-methyl-4-   isoxazolepropionic acid  (AMPA). Ikatan glutamatedengan reseptor NMDA dan AMPA akan memperboleh-kan ion kalsium masuk kedalam sel yang bisa menstimulasi kematian dari sel.6 Levetiracetam, termasuk kelompok antikonvulsan terbaru merupakan antiepilepsi yang banyak digunakanwalaupun cara kerjanya masih tetap dalam penelitian lanjut.15,16 Levetirasetamadalah derivat dari pirrolidona sebagai obat antiepilepsi berikatan dengan proteinSVA2 di vesikel sinaptik yang mempunyai mekanisme berbeda dengan obatantiepilepsi lainnya (ikatan dengan receptor NMDA dan AMPA yakni glutamatdan GABA).17 Pada hewan percobaan ditemukan bahwa potensi levetirasetam berkorelasi dengan perpaduan ikatan obat tersebut dengan SVA2 yangmenimbulkan efek sebagai antiepilepsi.18 Dari data penelitian ditemukan bahwalevetiracetam dapat digunakan pada penderita epilepsi dengan berbagai penyakitsaraf sentral lainnya seperti pasien epilepsi dengan gangguan kognitif, karenaternyata levetirasetam tidak berinteraksi dengan obat CNS lainnya.19-21 Salahsatu andalan dari levetirasetam yang berfungsi sebagai antikonvulsan adalahdengan ditemukannya ikatan levetirasetam dengan protein SVA2. Dari beberapa penelitian membuktikan bahwa vesikel\ protein SVA2 di sinaptik adalah satu-satunya protein yang mempunyai ikatan dengan levetirasetam mendasar padakarakter serta pendistribusian molekul protein sebagai antikonvulsan. Keadaan initerbukti pada hewan percobaan bahwa pemberian levetirasetam yang analogdengan protein SVA2 di vesikel berpotensi sebagai antikonvulsan.22 Kesimpulan Penggunaan levetirasetam sebagai obat antikonvulsan mendasar padaikatan dengan protein SV2A di vsikel. Efektivitas levetirasetam sebagai antikonvulsan dapat digunakan pada penderita penyakit susunan saraf lainnya yangtidak berefek pada gangguan kognitif.22-25 NB : Levetirasetam adalah derivat dari pirrolidona sebagai obatantiepilepsi berikatan dengan protein SVA2 di vesikel sinaptik yang mempunyai mekanisme berbeda dengan obat antiepilepsilainnya (ikatan dengan receptor NMDA dan AMPA yakniglutamat dan GABA). 17 Pada hewan percobaan ditemukan bahwa potensi levetirasetam berkorelasi dengan perpaduan ikatan obattersebut dengan\ SVA2 yang menimbulkan efek sebagaiantiepilepsi. 18  D aftar Pustaka 1. Shorvon S. Status epilepticus. Program and abstracts of the 17th WorldCongress of Neurology; June 17-22, 2001; London, UK. J Neurol Sci.2001;187(suppl 1):S2132. Fosgren L. Epidemiology of epilepsy:a global problem. Program andabstractsof the 17th World Congress of Neurology.J Neurol Sci. 2001;187(suppl 1):S2123. WHO. Epilepsy: epidemiology, etiology, and prognosis, WHO Fact Sheet No.165, 20014. Holmes GL, Ben-Ari Y. The neurobiology and consequences of epilepsyin developing brain. Pediatr Res 2001; 49:320-55. Christensen J, Vestergaard M, Mortensen PB, Sidenius P, Agerbo E.Epilepsy and risk of suicide: a population-based case-control study. Lancet Neurol. 2007;6:693-86. Bradford HF. Glutamate, GABA, and epilepsy. Prog Neurobiol 1995;47:477-5117. Chapman AG. Glutamate receptors in epilepsy. Prog Brain Res 1998;116:371-838. Sanchez RM, Wang C, Gardner G, Orlando L, Tauck DL, Rosenberg PA,et al. Novel role for the NMDA receptor redox modulatory site in the pathophysiology of seizures. J Neurosci 2000; 20:2409-179. Avanzini G. The cellular biology of epileptogenesis. J Neurol Sci. 2001;187(suppl 1):S21210. Brodie MJ, Dichter MA. Antiepileptic drugs. N Engl J Med 1996; 334:168-7511. Pedley TA. New therapeutic developments (Masland Lecture). J NeurolSci. 2001;187(suppl 1): S21312. Janz R, Goda Y, Geppert M, Missler M, Südhof TC. SV2A and SV2Bfunction as redundant Ca2+ regulators in neurotransmitter release. Neuron1999; 24:1003-1613. Aldenkamp AP. Newer antiepileptic drugs and cognitive issues. Epilepsia2003; 44:21-29.14. Halczuk I. Effects of new antiepileptic drugs on cognitive functions.Farmakoterap W Psychiatr Neurol 2005; 4:363-7915. Klitgaard, H. Keppra: the preclinical profile of a new class of antiepilepticdrugs? Epilepsia 2001; 42(Suppl. 4):13-816. Margineanu DG and Klitgaard H. Levetiracetam: mechanisms of action.In:Levy RH, Matttson RH, Meldrum BS, Perucca E, Eds. AntiepilepticDrugs, Fifth Edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2002.p.419-2717. Ansa LC, Meseguer Jl H, Centellas M, Macau M. Epileptic Estatus.Intensive Med 2008; 32:174±8218. Bajjalieh SM, Frantz GD, Weimann JM, McConnell SK and Scheller RH.Differential expression of synaptic vesicle protein 2 (SV2) isoforms. J Neurosci. 1994; 14:5223-519. Cramer JA, De Rue K, Devinsky O, et al. A systematic review of the behavioral effects of levetiracetam in adults with epilepsy, cognitive
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x