Documents

34 pages
14 views

Deskripsi Dan Penamaan Batuan GunungApi

Please download to get full document.

View again

of 34
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
PBGA
Transcript
  Deskripsi dan Penamaan Batuan GunungApi Secara umum, untuk mendeskripsi dan memberikan nama batuan geologist sudah membekali diri dengan ilmu yang mempelajari batuan, yakni Petrologi dan Petrografi yang didukung antara lain oleh Mineralogi dan Geokimia. Sedangkan untuk mendeskripsi dan menamakan batuan gunungapi penguasaan ilmu  pengetahuan itu perlu ditambah dengan dasar-dasar ilmu gunungapi atau Volkanologi. Dalam tahapan pembelajaran selama ini, Petrologi lebih diartikan sebagai ilmu yang mempelajari batuan secara mata telanjang (megaskopik) dan hanya dibantu dengan peralatan sederhana seperti kaca pembesar (loupe), pisau lipat, palu geologi dan cairan HCl 0,1 N. Sedangkan Petrografi lebih ditekankan  pada pembelajaran batuan di bawah mikroskop (secara mikroskopik). Namun dalam arti luas Petrologi adalah ilmu yang mempelajari batuan, dimulai dari  pengamatan secara mata telanjang, pemeriksaan di bawah mikroskop, analisis geokimia dan bahkan sampai dengan radioisotop. Penggunaan kata ‘batuan’  diartikan secara luas, yaitu bahan bentukan alam (gunungapi), mulai dari bahan lepas (loose material) sampai dengan yang sudah membatu (lithified material). Jadi dalam hal ini tidak dipersoalkan perbedaan antara  bahan berupa endapan dan yang sudah menjadi batuan. Lebih lanjut batuan gunungapi yang dibahas juga terbatas yang segar, dalam arti tidak dalam keadaan sudah lapuk, teroksidasi lanjut, termalihkan (termetamorfose) ataupun terubah (teralterasi) secara hidrotermal. Untuk batuan gunungapi yang terubah secara hidrotermal akan saya bahas kesempatan yang lain. Dasar-dasar Penamaan Batuan Gunungapi Sebelum memberi nama terhadap suatu batuan maka pada tahap pertama dan utama harus dilakukan deskripsi atau pemerian. Nama batuan yang hanya didasarkan pada deskripsi terhadap batuan/obyek sebagaimana adanya (objective descriptions) disebut penamaan secara deskripsi (descriptive names). Jika data deskripsi tersebut digunakan untuk menganalisis asal-usul kejadian batuan (genesa) dan hasil analisis itu digunakan sebagai dasar untuk memberikan nama batuan maka hal ini disebut   penamaan secara genesa (genetic names). Apabila penamaan secara deskripsi disatukan dengan penamaan secara genesa maka hal itu disebut penamaan secara kombinasi deskripsi dan genesa. Dalam melakukan deskripsi dan penamaan batuan juga memperhatikan metoda pendekatan yang secara garis besar dibagi menjadi tiga, yaitu pendekatan secara mata telanjang (megaskopik), pendekatan secara mikroskopik dan  pendekatan secara kimia. Pendekatan secara mata telanjang dilakukan di lapangan atau terhadap contoh setangan (hand specimen). Baik deskripsi maupun penamaan secara megaskopik masih bersifat pendahuluan yang ini perlu dimantapkan dengan  pengamatan secara mikroskopik dan atau analisis kimia. Pada umumnya, deskripsi contoh setangan hanya mampu memberi nama secara deskripsi, tetapi deskripsi  berdasar kenampakan lapangan sangat mendukung untuk memberikan nama secara genesa. Selain warna dan komposisi mineralogi, deskripsi di bawah mikroskop juga memperhatikan kenampakan tekstur dan struktur yang ada. Pendekatan ini mempunyai kelemahan bila mineral pembentuknya tidak berupa kristal, tetapi sebagian besar tersusun oleh gelas gunungapi, sehingga penamaan berdasar komposisi mineralogi kristal tidak cukup mewakili untuk seluruh batuan yang dideskripsi. Guna mengantisipasi kelemahan pada penamaan secara mikroskopik tersebut diperlukan pendekatan ketiga, yaitu berdasar analisis kimia. Dalam hal ini tekanannya pada komposisi kimia yang bersifat lebih kuantitatif dibanding metoda pendekatan pertama dan kedua. Untuk kelengkapan penelitian geologi pada umumnya dan deskripsi serta penamaan batuan gunungapi secara khusus ketiga pendekatan tersebut sebaiknya dilakukan secara bersama-sama. Dalam penamaan batuan secara deskripsi, sebagai parameter umum deskripsi adalah warna, tekstur, struktur dan komposisi. Tekstur mencakup antara lain bentuk dan ukuran butir/kristal, hubungan antar butir/kristal, pemilahan dll. Dalam kaitannya dengan batuan gunungapi, struktur yang terbentuk lebih mencerminkan proses pendinginan secara cepat dari magma menjadi batuan beku dan proses pengendapan. Komposisi dapat secara mineralogi atau kimia. Secara mineralogi, komposisi batuan dapat tersusun oleh mineral/kristal, fosil, fragmen  batuan dan matriks atau masa dasar. Untuk memberikan nama batuan secara  deskripsi dapat hanya menggunakan salah satu parameter deskripsi atau kombinasi di antara beberapa parameter. Biasanya, hal ini dipilih yang paling mudah dikenali. Penamaan batuan hanya berdasar satu parameter (komposisi) misalnya, batuan yang secara mineralogi hanya tersusun oleh kalsit, atau secara kimia hanya  berkomposisi kalsium karbonat (CaCO3) dinamakan batugamping. Penamaan  batuan berdasar beberapa parameter contohnya, batuan gunungapi berwarna abu-abu, bertekstur hipokristalin porfiri, berstruktur berlubang, serta berkomposisi fenokris felspar-plagioklas, piroksen dan masadasar gelas gunungapi dinamakan andesit. Nama tambahan dapat disebutkan bila ada parameter yang paling menonjol, misalnya yang menonjol fenokris piroksen, sebarannya merata dan kelimpahannya mencapai lebih dari 10 % maka batuan tersebut dapat dinamakan andesit piroksen. Apabila yang menonjol adalah kenampakan tekstur porfiri dapat dinamakan andesit porfiri. Jika yang menonjol kenampakan struktur, misalnya struktur masif, maka dinamakan andesit masif. Dalam kaitannya dengan batuan teralterasi, McPhie dkk (1993) memberikan nama  batuan berdasarkan grain size, components, lithofacies term & alteration. Grain size atau ukuran butir merupakan bagian dari tekstur, components sepadan dengan komposisi, lithofacies term digunakan untuk struktur dan alteration adalah kenampakan ubahan yang terjadi di dalam batuan itu. Sebagai contoh crystal-rich chloritic bedded sandstone. Penamaan batuan secara genesa mempunyai parameter analisis terhadap sumber/ asal batuan, proses pembentukan batuan, umur batuan dan lingkungan pengendapan  batuan. Untuk batuan gunungapi masa kini atau setidak-tidaknya berumur Kuarter, masalah sumber sudah sangat jelas sehingga biasanya tidak dipersoalkan lagi, misalnya batuan gunungapi di daerah Kaliurang dan Pakem, Kabupaten Sleman  bersumber dari kawah G. Merapi di sebelah utaranya. Namun untuk batuan gunungapi yang lebih tua, misalnya berumur Tersier di Pegunungan Selatan, Kabupaten Gunungkidul, masalah sumber masih memerlukan penelitian secara cermat. Proses pembentukan batuan gunungapi, atau secara umum proses volkanisme, dapat diamati pada gunungapi aktif masa kini atau yang pernah meletus dalam sejarah. Berdasar data geofisika dan geokimia kita dapat mengamati  pergerakan magma dari dalam bumi ke permukaan secara real time. Secara mata  kepala sendiri (visual observation) kita dapat melihat bentuk dan kegiatan magma  pada saat keluar ke permukaan bumi yang dikenal sebagai erupsi gunungapi. Demikian pula setelah bahan padat hasil erupsi gunungapi tersebut membeku atau mengendap, kita dapat mendekati dan mendeskripsi secara rinci. Dengan demikian dari kegiatan gunungapi aktif masa kini pertama-tama kita dapat mengetahui genesanya yang meliputi sumber, proses, waktu kejadian, lingkungan asal dan lingkungan pengendapan, kemudian melakukan deskripsi terhadap batuan yang terbentuk secara rinci. Data deskripsi secara rinci itulah yang digunakan sebagai dasar untuk menganalisis batuan gunungapi yang lebih tua dalam rangka memberi nama batuan secara genesa. Metoda ini sebenarnya merupakan penerapan salah satu prinsip geologi, yakni the present is the key to the past  . Berhubung hampir selalu dapat mengamati proses erupsi gunungapi, proses pembekuan dan  proses pengendapan bahan erupsi, serta pengetahuan itu sangat bermanfaat bagi kepentingan sosial masyarakat maka dalam menamakan endapan/ batuan gunungapi para ahli gunungapi lebih menitik-beratkan pada penamaan secara genesa daripada penamaan secara deskripsi. Sebagai contoh nama-nama aliran lava, awan panas dan lahar. Penentuan umur batuan dapat didasarkan pada pendekatan secara stratigrafi,  paleontologi (bila mengandung fosil), dan atau metoda radiometri. Pendekatan secara stratigrafi di lapangan bersifat relatif, misalnya lebih muda dari batuan yang di bawahnya dan lebih tua dari batuan yang di atasnya. Pendekatan paleontologi selain bersifat relatif juga mempunyai kisaran waktu yang panjang untuk ukuran kegiatan volkanisme. Penentuan umur secara radiometri mampu mendapatkan nilai umur dalam bentuk angka sekalipun ketepatannya masih memerlukan improvisasi secara berkelanjutan. Analisis umur dengan pendekatan radiometri antara lain dengan metoda Kalium-Argon (40K   –  40Ar), Argon-Argon (40Ar/39Ar), Jejak Belah, Carbon-14, Uranium-Thorium (U-Th) dan Uranium-Lead (U-Pb). Sejauh ini  penamaan batuan gunungapi berdasar umur dan lingkungan pengendapan masih  bersifat umum, misalnya batuan gunungapi Paleogen dan batuan gunungapi darat, sehingga analisis genesa lebih dititik-beratkan pada proses dan kemudian sumber. Dalam penamaan batuan gunungapi secara genesa dimana kejadiannya tidak
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x